Berikut ini adalah tips dan trik memaksimalkan fungsi lensa tele:

  1. Kenali terlebih dahulu panjang fokal serta bukaan diagrafragmanya (apperture). Biasanya hal ini bisa ditemui pada sisi depan lensa tersebut/box lensa tersebut

    Contoh : 200mm f/4, 70-200mm f/2.8, dst. Hal ini berfungsi untuk mengetahui kemampuan dari lensa tersebut dan kita bisa mempersiapkan serta mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi pada saat ‘on the stage‘ nantinya.

  2. Semakin besar nilai dari fokal maka mempunyai kemampuan ‘tele’ lebih jauh dalam posisi pengambilan yang sama, tapi mempunyai konsekwensi rentang sudut pengambilan yang semakin sempit jika dibandingkan dengan fokal yang lebih kecilnya

    Lensa dengan panjang fokal 200mm bisa ‘memperbesar’ obyek yang lebih jauh jika dibandingkan dengan lensa dengan panjang fokal 70mm.

  3. Semakin besar nilai bukaan diagfragma (apperture) maka semakin ‘cepat’ lensa tersebut dapat digunakan

    Arti cepat disini adalah semakin cepat setting untuk exposurenya dalam kondisi minim cahaya (redup / gelap). Sebagai contoh lensa dengan f/2.8 dapat digunakan ‘lebih cepat’ jika dibandingkan dengan lensa dengan f/4, begitu juga lensa dengan f/4 ‘lebih cepat’ daripada lensa dengan f/5.6, begitu juga seterusnya. Secara teori hal ini disebabkan semakin besar bukaan diagfragma sehingga semakin besar ‘jumlah cahaya’ yang bisa diterima oleh sensor/film kamera Anda, jadi setting shutter speed bisa diset lebih cepat lagi tanpa khawatir hasil menjadi gelap karena kurangnya waktu exposure.

  4. Satu trick agar gambar tidak goyang (shake) atau blur dengan menset exposure time menjadi “satu per panjang fokus lensa”

    Sebagai contoh jika Anda sedang menggunakan lensa dengan panjang fokus 200mm, maka setting exposure time ‘yang aman’ adalah 1/200 detik. Begitu juga jika Anda menggunakan lensa dengan panjang fokus 400mm setting exposure time ‘yang aman’ adalah 1/400 detik. Untuk bisa mendapatkan waktu exposure yang tinggi serta hasil yang ‘bagus’ dibutuhkan bukaan diagfragma yang semakin besar (seperti yang telah dijelaskan pada tips nomor 3).

  5. Gunakan penyangga (tripod/bipod/monopod) untuk mengurangi efek goyang (shake)

    Goyangan / getaran sekecil apapun ketika Anda menggunakan lensa tele, hal itu sudah dapat membuat hasil foto Anda blur / bergoyang. Hal itu dikarenakan efek ‘pembesaran’ yang disebabkan lensa tele tersebut. Penyangga (tripod/bipod/monopod) juga bisa digunakan untuk membantu ‘menopang’ lensa tele Anda yang rata-rata berukuran besar dan berat, terutama jika Anda menunggu momen yang tepat dalam waktu yang lama.

  6. Semakin besar nilai bukaan diagfragma lensa Anda, semakin ‘bagus dan unik’ bokeh yang akan dihasilkan dalam kondisi ‘normal’ dengan mudah

    Lensa dengan nilai bukaan (apperture) f/2.8 bisa menghasilkan bokeh ‘lebih mudah’ jika dibandingkan dengan lensa dengan nilai bukaan (apperture) f/4. Hal ini juga berfungsi untuk mengisolasi subyek / obyek yang akan di foto dengan Deep of Field (DoF) untuk memberikan kesan ‘ruang/3D’.

  7. Gunakan fitur stabilizer yang bisa ditemukan pada sistem internal lensa seperti halnya Image Stabilizer (IS)

    pada lensa-lensa keluaran Canon ataupun VR padalensa-lensa keluaran Nikon ataupun stabilizer yang ada pada body kamera seperti IS pada kamera Olympus ataupun Steady-Shoot pada kamera Sony.

  8. Gunakan ISO yang lebih tinggi

    untuk mengkompensasi bukaan lensa (apperture) yang kecil untuk mendapatkan nilai shutter (expose) yang tinggi. ISO 1600 bisa mengkompensasi nilai shutter (expose) yang lebih cepat jika dibandingkan dengan ISO 400 pada kondisi pencahayaan dan bukaan lensa (apperture) yang sama.  Hal ini berguna untuk mengurangi efek blur / shake pada hasil akhir.  Tetapi hal ini mempunyai konsekwensi lain yaitu timbulnya grainy/noise/bintik-bintik yang lebih besar dan banyak jika Anda menggunakan ISO yang lebih tinggi.

Tulisan Terkait:

  1. Foto Closeup pertamaku memakai Lensa 70-200mm f/2.8
  2. Spesifikasi Lensa Canon EF 70-200mm f/2,8L IS II USM
  3. Arti kode pada Lensa Canon EF 70-200mm f/2,8L IS II USM