Anita's Personal Blog

Kegiatan Arsiparis | Komputer | Fotografi

Tag: Problema Rumahtangga

Kebiasaan yang Membahayakan Perkawinan

Kebiasaan Yang Membahayakan Perkawinan

 

Tak peduli sudah berapa tahun Anda menikah. Dalam kehidupan sehari-hari

sebetulnya kita dikepung oleh rutinitas yang dapat membuat hubungan dengan pasangan menjadi membosankan.

Masalahnya, rutinitas tersebut sudah berjalan sekian tahun dan sulit dihapus begitu saja. Nah, berikut sejumlah cara untuk mengubah rutinitas tersebut menjadi sesuatu yang menarik dan menyenangkan.

1. NONTON TV SAAT MAKAN MALAM

Sisi Buruk:

Makan malam bersama merupakan saat yang sangat berharga bagi Anda dan pasangan. Dengan menyalakan TV, mau tak mau perhatian Anda berdua otomatis tertuju ke layar teve.

Padahal, makan malam merupakan saat yang tepat bagi Anda berdua untuk saling berbagi cerita tentang kejadian atau hal-hal yang dilakukan sepanjang hari.

Cara Menghentikan:

Sisihkan 30 sampai 45 menit untuk mengobrol tanpa TV yang sedang menyala.

Hal ini memperlihatkan kepada pasangan bahwa bila sedang tidak bekerja, Anda mencurahkan perhatian pada rumah tangga dan keluarga.

Pada saat Anda sedang mengobrol, biarkan telepon yang berdering dan nikmati kebersamaan dengan pasangan.

2. LAMA TAK BERINTIM-INTIM

Sisi Buruk:

Bila kuantitas hubungan seks yang biasa Anda berdua lakukan berkurang, tubuh dan otak menjadi terbiasa melupakan kedekatan dan hal ini dapat menyebabkan hubungan Anda berdua semakin menjauh.

Cara Menghentikan:

Jangan tunggu sampai Anda benar-benar menikmati ketidakintiman hubungan dengan pasangan. Lakukan inisiatif untuk memulai hubungan seks.

3. MELEWATI HARI TANPA NGOBROL

Sisi Buruk:

Secara tak sadar, Anda mulai menumbuhkan perasaan bawah alam sadar bahwa pasangan tidak mempedulikan Anda dan atau sebaliknya.

Cara Menghentikan:

Berikan perhatian-perhatian kecil. Kirimkan kata-kata manis lewat SMS ataupun e-mail dan usahakan melakukan sesuatu yang menyentuh setiap harinya.

Misalnya, memasakkan makanan kegemarannya atau meneleponnya dari supermarket hanya untuk menanya an apakah ada sesuatu yang diperlukannya.

Hal ini memperlihatkan kepedulian Anda pada pasangan.

4. SALING CUEK

Sisi Buruk:

Anda berdua mulai saling tak memperhatikan dan saling menjauh.

Cara Menghentikan:

Usahakan lakukan hal-hal kecil seperti memberi ciuman saat berangkat kerja, menatap mata pasangan pada saat mengobrol, memberi pujian untuk hal-hal kecil yang dilakukannya.

Bila ada hal penting yang perlu Anda bicarakan dengannya, cari waktu yang tepat, semisal saat sudah berduaan di kamar tidur.

5. TAK PERNAH BERTENGKAR

Sisi Buruk:

Ketidaksepahaman di dalam sebuah perkawinan adalah wajar dan perlu. Namun bila suatu masalah dibicarakan sedini mungkin, akan jauh lebih mudah menyelesaikannya daripada dibiarkan menumpuk.

Pasangan yang tak pernah bertengkar justru patut dicurigai.

Meski begitu, jangan juga terlalu sering bertengkar.

Cara Menghentikan:

Bicarakan dengan pasangan bila ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda.

Katakan padanya, ada sesuatu yang membuat Anda sedih.

Entah itu karena ucapannya maupun sikapnya.

Minta agar Anda dan dia bersama-sama mengatasi situasi tersebut.

6. LEBIH SERING PERGI BERSAMA TEMAN

Sisi Buruk:

Memberi kesan bahwa teman-teman Anda lebih penting dan lebih berarti dibanding pasangan.

Cara Menghentikan:

Jadwalkan sekali atau dua kali dalam sebulan untuk pergi bersama teman-teman dan jangan lupa memberitahukan pasangan jauh hari sebelumnya mengenai rencana tersebut.

Memiliki teman memang amat diajurkan dan penting sejauh waktu yang Anda habiskan bersama mereka tidak merusak hubungan Anda dan pasangan.

Dan yang lebih baik lagi adalah bila pasangan mengenal teman-teman Anda sehingga tidak ada kekhawatiran dan kecurigaan dari dirinya.

7. KELEWAT “BEBAS”

Sisi Buruk:

Mungkin bagi Anda bersendawa, menggaruk, mengorek hidung, atau bahkan buang angin sembarangan merupakan sesuatu yang lucu. Yang jelas, jika melewati batas kesopanan, bisa membuat Anda menjadi tidak menarik.

Cara Menghentikan:

Tentukan aturan baru.

Bila Anda tidak melakukannya di depan teman-teman, jangan lakukan di depan pasangan! Minta pasangan untuk mengingatkan Anda.

8. TERLALU MENGUMBAR CERITA

Sisi Buruk:

Kelewat banyak berbagi cerita dengan orang tua atau mertua, memperlihatkan ketidakpercayaan Anda pada pasangan.

Orangtua Anda tidak harus mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh pasangan serta sesuatu yang pasangan tidak ingin mereka mengetahuinya.

Cara Menghentikan:

Hormati dan jaga perasaan pasangan walaupun tanpa kehadirannya.

Bila Anda tidak ingin mengatakan sesuatu di depannya, jangan katakan sama sekali pada siapa pun juga. Anda pun menginginkan hal yang sama, bukan? ***

 

(Terimakasih buat Rustina Phan yang sudah mengirimkan artikel ini ke saya)

Meramal Usia Perkawinan

 
MERAMAL USIA PERKAWINAN
 
Ternyata, usia perkawinan yang sudah terbilang lama bukan jaminan perkawinan tersebut akan langgeng. Mengapa?
Ketika artis terkenal, Dewi Yul, memutuskan bercerai dari suaminya, Ray Sahetapy, banyak orang terkejut. Di mata masyarakat, perkawinan mereka yang telah membuahkan empat anak itu tampak adem-ayem dan sepi dari gosip. Siapa sangka, setelah 24 tahun bersama-sama menjalani manis-pahitnya biduk perkawinan, akhirnya pasangan ini pun berpisah.

Memang, tak ada yang bisa meramal usia perkawinan, apakah bakal langgeng atau putus di tengah jalan. “Perkawinan itu, kan, proses perjalanan panjang hidup bersama. Kalau di dalam proses itu tak ada kesepakatan, ya, bisa saja putus di tahun berapa pun. Bahkan di tahun ke-40 yang nyaris kawin emas. Jadi ada yang sukses berproses, ada yang gagal,” ungkap Drs. Monty P. Satiadarma, MS/AT,MCP/MFCC, seorang terapis keluarga.

Lebih jauh dijelaskan Monty, menikah secara mudah diartikan sebagai persatuan dua pribadi yang berbeda. Konsekuensinya, akan banyak terdapat perbedaan yang muncul saat menjalani perkawinan. “Satu hal yang sering kurang disadari oleh orang yang menikah adalah bersatunya dua pribadi bukanlah persoalan sederhana. Setiap orang mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri dan latar belakang yang seringkali sangat jauh berbeda, entah latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal ataupun pengalaman pribadinya selama ini.Makanya perkawinan adalah proses untuk menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut.”

Berdasarkan itulah, kesuksesan perkawinan ditandai bukan hanya oleh berapa lama hubungan tersebut terjalin, tapi juga intensitas perasaan yang dialami dua orang yang menjalin relasi perkawinan. “Bisa saja di tahun ke-5, proses sharing sudah enggak jalan. Yang ada cuma kekesalan dan kekecewaan. Perkawinan tidak lagi nyaman, tinggal tunggu satu pemicu saja, maka semuanya akan berakhir,” tandas psikolog yang menjadi Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara ini.

PERKAWINAN SEMU

Jadi, mengukur sukses-tidaknya sebuah perkawinan tak bisa semata-mata berpatokan pada lamanya usia perkawinan saja. Apalagi seperti dibilang Monty, di Indonesia, lamanya perkawinan bukanlah ukuran sukses perkawinan tersebut. Banyak pasutri yang menghindari perceraian meski perkawinannya jelas-jelas sudah “ambruk”!

Bagi masyarakat timur yang masih memegang tradisi keluarga, kata Monty, perkawinan adalah bukti komitmen dan perceraian dianggap hal yang tabu. Akibatnya, jika mereka bercerai juga, maka kredibilitasnya akan turun. “Sedapat mungkin mereka mempertahankan karena perceraian mengubah status sosial dan finansial seseorang.”

Belum lagi masalah anak yang dipikirkan dampaknya bila orang tua harus bercerai. “Tak sedikit orang tua yang menunda perceraian hingga anak-anak menjadi dewasa dengan anggapan, mereka akan lebih mudah menerima perceraian orang tuanya.”

Akibat sudah tak sejalan, tetapi karena ngotot mempertahankan perkawinan demi tuntutan masyarakat, akhirnya yang terjadi adalah perkawinan semu. “Ini yang disebut dengan superficial marital relationship. Hidup dalam ikatan yang sah, tapi masing-masing pihak sebenarnya sudah jalan sendiri-sendiri. Mungkin sempat menjalani kehidupan harmonis sekian tahun, selebihnya menjadi pribadi yang asing satu sama lain. Perkawinan diteruskan hanya sebagai upaya memenuhi tuntutan sosial.”

Kesuksesan suatu perkawinan, menurut Monty, harus dilihat dari sejauh mana pasutri merasakan kepuasan hubungan perkawinan pada sebagian besar waktu yang dilalui dalam ikatan perkawinan. Apakah keduanya merasa yakin dan percaya bahwa kebutuhan fisik, emosional, dan psikologisnya terpenuhi dalam kebersamaan dengan pasangan? “Yang sudah menjalani sampai 30 tahun lebih pun belum pernah diteliti, apakah betul mereka menjalani kebersamaan secara terus-menerus dengan sesungguhnya. Mungkin sekian tahun pertama, penuh cinta dan harmonis. Selebihnya, cuma status sosial saja yang mengatakan bahwa mereka menikah,” kata Monty mengakhiri.

KESENJANGAN MENJADI POTENSI KONFLIK

DARI penelitian ditemukan, indikator umum yang terkait dengan kesuksesan perkawinan adalah faktor kesenjangan. Entah dalam hal berpikir, budaya, penghasilan, dan sebagainya. “Misalnya, si istri seorang sarjana sementara suaminya tak sekolah. Awalnya berjalan romantis, tapi lama-lama si suami ini kalau diajak ngomong, kok, enggak nyambung. Akhirnya, salah satu dari mereka jadi “gerah” dan minta cerai karena komunikasi sudah tidak jalan,” papar Monty.

Namun, meski kesenjangan berpotensi mengancam keutuhan perkawinan, bukan berarti pasutri yang sejak semula banyak perbedaan, lalu bakal bercerai di kemudian hari. “Perkawinan adalah suatu dinamika. Jika selama proses perkawinan, kesenjangan-kesenjangan yang muncul sejak awal dan selama perkawinan bisa diterima dan ditolerir, ya, perkawinan bisa jalan terus.” Sebaliknya, ada yang dari awal, pasangan itu dinilai bibit, bebet, bobot-nya sudah oke, ternyata cerai juga. Memang, pada akhirnya, jodoh adalah rahasia Yang Maha Mempertemukan meski semua pasangan tentu bercita-cita melewatkan kawin emasnya.

KUNCI SUKSES PERKAWINAN AWET

KALAU kita menyaksikan pasutri yang mampu bertahan sedemikian lama dalam perkawinan, tentu kita iri dan ingin mengikuti resepnya. Menurut Thomas Rice, dalam bukunya, Intimate Relationship, Marriages and Families, ada beberapa hal yang bisa mengawetkan hubungan suami-istri, yaitu:

* Komunikasi

Yang dimaksud bukan sekadar berbicara, tapi juga mendengarkan. Bila Anda sudah mulai malas mendengarkan pasangan berbicara, berarti Anda telah kehilangan komunikasi.

Tunjukkan sikap yang baik dalam berkomunikasi, yaitu mendengarkan pasangan berbicara sampai selesai, sebelum Anda mengutarakan pendapat Anda sendiri. Ingat, perkawinan adalah timbal-balik di antara dua orang. Semua pihak ingin punya kesempatan berbicara dan hak untuk didengar.

* Kejujuran

Banyak pasangan mengaku, kejujuranlah yang membuat perkawinan mereka bertahan lama. Memang, mengakui dengan jujur kesalahan dan kekhilafan, tak jarang pahit didengarkan, tapi kejujuran akan menyelamatkan hubungan.

* Saling Menghargai

Hubungan perkawinan yang sukses memandang pasangannya sederajat (equal). Jalani perkawinan dengan saling menghargai satu sama lain.

* Saling Percaya

Jangan menghabiskan pikiran untuk terus-terusan tegang dan curiga pada pasangan. Jika suami terlambat pulang dengan alasan lalu-lintas macet, buat apa selalu menjadikannya bahan kecurigaan? Janganlah kecurigaan kecil menjadi ancaman dalam perkawinan.

* Pasangan Adalah Teman

Jadikan pasangan Anda sebagai teman saat suka dan duka, sebab cinta yang awet membutuhkan persahabatan, bukan sekadar emosi.

* Humor

Percintaan yang diselingi humor akan menyejukkan suasana. Jangan ragu untuk tertawa bersama pasangan, termasuk menertawakan hal-hal yang remeh sekalipun.

* Kompromi

Apa yang Anda inginkan darinya dan apa yang dia inginkan dari Anda, perlu dikompromikan untuk mencapai keseimbangan. Seringkali ada hal kecil yang harus dikorbankan untuk memperoleh kebahagiaan.

* Saling Memaafkan

Hubungan perkawinan tak akan langgeng bila salah satu pihak menyimpan dendam. Berilah maaf, jangan menyimpan dendam.

* Cinta

Tumbuhkan perasaan cinta pada pasangan, karena sampai kapan pun, manusia hidup butuh dicintai dan mencintai.

* Doa

Mohonlah berkah dan kemurahan hati-Nya agar cinta dan perkawinan Anda selalu berjalan mulus dan langgeng.

 

Santi Hartono. Ilustrator: Pugoeh

Menjaga Getar Cinta Setelah Ada Anak

MENJAGA GETAR CINTA SETELAH ADA ANAK

Seperti baterai yang harus di-charge berulang-ulang, begitu pula kehidupan percintaan Anda dengan pasangan.

Setelah kehadiran buah hati, banyak pasangan suami-istri yang menempatkan urusan cinta menjadi nomor sekian. “Ah, kayak anak muda aja pake cinta-cintaan segala! Yang penting kan suami bertanggung jawab dan anak sehat,” begitu anggapan seorang ibu muda. Komentar serupa terlontar dari ibu lain, “Waduh, waktu untuk ngurus rumah dan anak aja udah mepet begini. Mana sempat lagi ‘pacaran’ sama suami?”

Padahal, “Getar cinta mutlak dibutuhkan sepanjang usia pernikahan,” ujar A. Kasandravati, Psi., dari Psychological Practice Kasandra Persona Prawacana. Sayangnya, getar cinta bukanlah oksigen di udara bebas yang bisa dengan mudahnya dihirup. Perasaan itu harus diupayakan untuk dipertahankan oleh kedua belah pihak dengan berbagai cara. “Sebab tanpa disadari, kesibukan dan rutinitas sehari-hari bisa membuat perasaan itu jadi tertutup dan berdebu,” imbuhnya.

Sudah menjadi kodrat manusia untuk mencari kesenangan (pleasure) dan mengurangi rasa sakit (pain). Perasaan cinta adalah bagian dari kesenangan. “Mana ada orang yang tidak menikmati perasaan disayang, diperhatikan, dibutuhkan, disanjung dan sebagainya” . Menjadi masalah kalau suami/istri merasa tidak lagi mendapatkannya di rumah kemudian mencarinya di luar. “Ini yang berbahaya karena bisa mengguncang keutuhan perkawinan. Oleh sebab itu mempertahankan getar cinta menjadi sangat penting.”

IDE-IDE SEGAR

Sebelum mengatakan mustahil dengan ide-ide ini, mengapa tidak mencobanya terlebih dulu? Iya sih kehadiran anak memang menuntut suami-istri untuk kembali menyesuaikan banyak hal. Namun “menyegarkan” hubungan seperti masa pacaran dulu bukanlah sesuatu yang mustahil diupayakan. Masing-masing pasangan tentu punya cara yang berbeda dalam mengekspresikan rasa sayangnya. “Pokoknya lakukan saja apa yang dilakukan ketika pacaran dulu.” Secara berseloroh Kasandra menambahkan, “Dulu waktu pacaran kan, psikolognya tidak tahu apa yang dilakukan. Jadi, ya tergantung kreativitas berdua.”

Sebagai panduan, Kasandra menawarkan beberapa ide berikut yang bisa dilakukan.

* Sediakan waktu khusus

Sewaktu pacaran dulu, gangguan sekecil apa pun saat berdua-duaan tentu menjengkelkan. Sampai muncul guyonan bahwa dunia ini milik kita berdua, sementara yang lain cuma ngontrak. Mengapa setelah menikah tidak bisa lagi diusahakan hal yang sama? “Kalau anak nangis gimana? Masak iya sih dicuekin dan tetap asyik pacaran?” Tentu saja tidak perlu sampai setega itu.

Nah, agar segalanya berjalan lancar, atur waktunya. Contohnya jadwalkan setiap Sabtu jam 19.00-21.00 sebagai waktu khusus untuk berduaan saja tanpa kehadiran anak.

Sepanjang waktu tersebut serahkan tanggung jawab anak pada pengasuh. Siapkan beberapa VCD berisi film-film anak yang menarik supaya selama kita tinggal anak tetap asyik dengan dunianya sendiri. Sempatkan waktu tersebut untuk jalan-jalan keluar rumah sekadar menghirup udara segar atau bernostalgia makan di tempat langganan. Jangan anggap remeh aktivitas semacam ini karena bisa menghidupkan kembali romatisme pasangan.

Manfaatkan kebersamaan di mobil sepanjang perjalanan sebagai ajang untuk bicara lebih “dalam”, leluasa dan hangat.

* Jangan pelit memberi perhatian kecil

Ini juga salah satu kiat jitu, semisal mengirim SMS bernada mesra, menyelipkan catatan kecil di tas kerjanya, menatap matanya sambil memberikan senyum penuh arti, mengenakan busana pemberiannya, parfum kesukaannya dan sebagainya. Bukankah melakukan semua hal tersebut tetap bisa dilakukan tanpa harus kehilangan kebersamaan dengan anak? Intinya, hidupkan terus hal-hal personal yang membuat suami/istri merasa tetap tergetar saat bersama dengan pasangannya.

* Bicara apa saja

Memang sulit bicara apa saja dengan pasangan, terlebih bagi individu yang tergolong pendiam. Sementara banyak hal rasanya lebih nyaman dan seru bila dibicarakan dengan orang lain. Padahal semasa pacaran dulu, tak ada yang dirahasiakan kan dari sang kekasih. Rasanya apa saja ingin kita bicarakan dengan si dia. Nah, mengapa tidak mencobanya lagi? Jangan hanya rajin berkeluh kesah pada suami/istri, tapi posisikan pasangan sebagai orang istimewa yang kita percaya untuk mendengar banyak hal. Istilahnya, jangan hanya berbagi duka, tapi sering-seringlah berbagi suka.

* Jaga penampilan

Menjelang bertemu dengan sang pujaan hati, rasanya belum puas kalau belum ngaca berulang kali sekadar untuk memastikan semuanya oke. Tapi kenapa sekarang sarung dan daster yang menjadi busana favorit? Bagaimanapun menjaga penampilan agar selalu rapi dan enak dipandang akan membuat pasangan merasa dihargai dan diistimewakan. Nah, kalau tank-top warna merah menyala itu yang membuatnya jatuh cinta, mengapa tidak sesekali dikenakan kembali?

* Sentuhan

Jangan salah, sentuhan lembut, pelukan mesra, usapan sayang akan terasa amat menyejukkan lo di tengah kegersangan menjalani rutinitas sebagai suami istri. Siapa pun akan merasa tersanjung bila diperlakukan demikian. Ingat, ekspresi cinta tak selalu harus berupa ciuman hangat yang menggelora, kok. Ciuman sekilas di dahi pun terasa menyejukkan bila dilakukan setiap hari penuh cinta sebagai sambutan setelah seharian berpisah dengannya karena harus bekerja.

* Seks berkualitas

Tak bisa dipungkiri, masalah yang satu ini termasuk krusial dalam hubungan suami istri. Banyak suami yang jadi enggan menyentuh istrinya setelah melahirkan dengan berbagai alasan. Padahal rumah tangga yang sehat salah satunya ditandai dengan hubungan seksual yang berkualitas.

Tak ada salahnya menjadwalkan bulan madu kedua, ketiga dan seterusnya supaya gairah tetap berkobar seperti api olimpiade.

JANGAN BIARKAN BERLALU

Tidak ada kata terlambat untuk mulai menumbuhkan getar-getar cinta lagi, meski telah sekian lama absen. Hubungan yang dibiarkan datar dan dingin, akan membuat suami/istri gampang terjebak dalam kejenuhan. Bukan tidak mungkin karena merasa jenuh dengan kehidupan rumah tangganya, pasangan jadi lebih rentan menghadapi berbagai godaan di luaran.

Bahkan untuk pasangan yang sepertinya belum pernah merasakan getaran cinta, entah karena dijodohkan atau dipaksa pun belum terlambat untuk memulainya. Jangan jadikan kehadiran si kecil sebagai penghalang. “Bukan pada tempatnya pasangan suami-istri merasa bersalah pada anak karena ‘pacaran’ lagi setelah hadirnya si kecil di antara mereka. Karena pada dasarnya keinginan untuk dicintai itu kebutuhan tiap manusia, kok,” kata Kasandra pula.

Sumber: Marfuah Panji Astuti.

Bila Pasangan Sakit Berat

 

BILA PASANGAN SAKIT BERAT 

 

 

Tumbuhkanlah empati. Dengan begitu kita bisa menjadi pendamping yang sangat memberi makna baginya saat menghadapi penderitaan.

Bayangkan, tutur Dra. Tisna Tjandra, Psi., bagaimana beratnya peran yang mesti dijalani sang istri bila ia mendapat tambahan peran sebagai pencari nafkah utama, pengatur rumah tangga, sekaligus pemelihara anak-anak dan sebagainya. Atau sebaliknya, jika istri yang mengidap penyakit berat, bisa dibayangkan bagaimana sulitnya memahami dan menerima keterbatasannya. Terutama, ketika dia merasa tak bisa melayani kebutuhan seksual sang suami.

Sementara suami pun, selain harus memenuhi kebutuhan kesehariannya sendiri, ia mendapat tugas tambahan mengantar istri ke rumah sakit, menggantikan peran istri, sekaligus meredam dorongan kebutuhan seksualnya. Pendek kata, “Masa-masa ini bisa menjadi masa yang paling berat bagi kedua pasangan. Mereka butuh tenaga, kesabaran, dan mental ekstra untuk menghadapinya.”

 

Direktur Spectrum Treatment and Education Centre ini melanjutkan, “Emosi dan kondisi psikis masing-masing pihak bakal sangat terpengaruh akibat adanya masalah medis ini. Adanya perubahan sikap, tentu akan mempengaruhi perasaan pasangan lain. Entah sekadar bertanya-tanya, kasihan tapi tak tahu harus berbuat apa, ikut prihatin, atau ngotot dilibatkan dalam mencari solusinya.”

 

DITUNTUT BERSIKAP BIJAK

 

Untuk itulah, pasangan yang kebetulan sehat dituntut mampu bersikap bijak menghadapi masalah yang sensitif ini. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu proses penyembuhan atau setidaknya meringankan beban pasangan yang tengah terbaring sakit.

* Yakinkan diri, Anda mampu menghadapi sekaligus menjalani dan melewati saat-saat yang memberatkan itu. Barengi pula dengan kesadaran untuk berkorban.

 

* Hindari berkeluh kesah di depannya, meskipun sebetulnya Anda sudah sangat letih secara fisik dan psikis merawatnya.

 

* Singkirkan ucapan-ucapan bernada penyesalan telah menikahinya. Yakinlah, kendati harus menjalani berbagai cobaan, kebahagiaan pasti akan direngkuh, “Meski mungkin dalam bentuk lain,” ujar Tisna.

 

* Tumbuhsuburkan sikap empati dalam diri setiap anggota keluarga dengan mendudukkan diri pada posisinya dan ikut merasakan penyakit yang tengah dideritanya. Ketahuilah, jika memang memungkinkan, dia pasti tak ingin merasakan beratnya penderitaan. “Hanya saja,” pesan Tisna, “jangan sampai empati ini berkembang menjadi bumerang. Misalnya, hanyut dalam kesedihan atau tidak mau makan, hingga akhirnya jatuh sakit.”

 

* Kondisi kesehatan kita yang prima sangat dibutuhkan untuk memotivasi kesembuhan pasangan. Kalau kita ambruk, lalu siapa yang akan merawat pasangan yang sedang sakit?”

 

* Jangan sesekali berpikir untuk mengurangi porsi cinta pada pasangan, apalagi mengubahnya dalam bentuk lain hanya karena dia sedang sakit. Jangan pula menganggapnya sebagai orang yang tak lagi berharga. Cuma seonggok daging yang berbaring menunggu ajal menjemput, misalnya. Lagi-lagi hidupkan komitmen Anda ketika menikah untuk tetap menjadi pendamping hidupnya dalam situasi apa pun.

 

* Jangan lupa selalu memberi support. Di antaranya dengan meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sendirian dalam menjalani cobaan tersebut. Ada orang lain yang mungkin sakitnya lebih parah. Katakan juga Anda siap membantunya. Tentu saja ucapan semacam ini harus dibarengi dengan kenyataan. Support juga bisa dilakukan dengan mendampinginya ke dokter, mendengarkan segala keluh-kesahnya, mengingatkan dia untuk minum obat, mendampingi dan membantunya ketika sedang melakukan terapi, dan sebagainya. Support dari pasangan bisa memperbesar motivasinya untuk sembuh, lo.

 

* Betapapun sibuk luar biasa dengan pekerjaan dan tugas tambahan sesuai dengan peran baru Anda, tetaplah menaruh peduli padanya. Berikan waktu yang cukup untuk menyampaikan perhatian-perhatian kecil, semisal dengan menanyakan bagaimana perkembangan penyakitnya. Ketika pasangan merasa tidak nyaman, contohnya, tanyakan bagian mana yang terasa sakit dan apa yang bisa kita perbuat untuk mengurangi rasa sakit atau tak nyaman tadi.

 

* Tetap akui dan hargai keberadaannya. Jangan hanya karena dia sakit berat dan tak bisa berperan banyak, kita lantas mengabaikannya dalam pengambilan keputusan. Meski sebatas sumbang saran, si sakit tetap harus diajak omong. Dengan begitu, perannya sebagai suami/istri dan ayah/ibu, tetap diindahkan dan ini ikut memotivasinya untuk sembuh. Ironis bila dengan alasan tak mau menambah bebannya, kita tidak melibatkannya dalam urusan-urusan penting. Sikap salah kaprah begini justru memangkas motivasi si sakit untuk sembuh.

 

* Jangan lupa, sampaikan pengertian pada anak-anak bahwa ayah/ibunya sedang sakit dan butuh perawatan intensif. Sampaikan pula dengan kondisi seperti itu sebaiknya mereka tidak melakukan sesuatu yang bisa memberatkan penyakitnya. “Namun biasanya, bila anak melihat kita merawat suami/istri dengan penuh ketelatenan, tanpa dijelaskan pun anak sudah bisa membaca kondisi kesehatannya. Tanpa diminta mereka akan ikut merawatnya,” papar Tisna.

 

* Boleh-boleh saja kita memakai jasa perawat, tapi Anda jangan lepas tangan begitu saja. Yang juga perlu diingat, perawat seringkali mengerjakan tugasnya hanya sebatas tuntutan pekerjaan. Sentuhan emosi yang Anda berikan pada pasangan jelas tak tergantikan dengan kehadiran orang lain.

 

 

Kala Hubungan Intim Dibatasi

 

Penyakit yang berat sekali biasanya tidak membolehkan penderitanya melakukan hubungan intim. Bila demikian, apa yang mesti dilakukan? Tisna menyarankan agar mencari bentuk-bentuk kepuasan seksual sebatas pelukan atau ciuman ringan.

Ingatkan pula diri Anda bahwa tujuan menikah tak melulu hanya soal memuaskan kebutuhan seksual. Pasangan yang sehat mesti bisa memahami sekaligus berempati mengapa pasangannya yang tengah sakit tak bisa melakukan hubungan intim. Dengan ikut merasakan apa yang diderita pasangan, Anda akan bisa, kok, meredam dorongan tersebut.

 

Atau, alihkan ke aktivitas lain yang positif, di antaranya berolahraga. Jangan malah mencari orang ketiga yang bisa merusak hubungan dengan pasangan dan menambah penderitaannya.

 

“Sekalipun sekadar curhat, sebaiknya hindari, deh! Soalnya, dikhawatirkan curhat ini berlanjut dengan tindakan membanding-bandingkan orang ketiga dengan pasangan yang sedang sakit. Untuk meminimalkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, kalau benar ingin curhat, sebaiknya datang ke kalangan profesional, seperti psikolog atau psikiater.”

 

Bila Pasangan Harus Masuk Rumah Sakit

 

Bila pasangan harus rawat inap di rumah sakit, Tisna menganjurkan agar keluarga membuat pengaturan waktu yang baru sesuai perubahan ritme dan beban kesibukan baru yang mesti dijalani keluarga.

Bila kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan dan bisa ditinggal, cukup temani sepulang kerja sampai keesokan harinya saat berangkat kerja. Namun, agar anak-anak di rumah tidak terabaikan, aturlah jadwal bergantian menemani anak-anak di rumah dan pasangan di rumah sakit. Begitu ada waktu luang, sempatkan untuk menjenguknya. Tetaplah menjaga kontak, semisal dengan terus memantau perkembangannya lewat telepon. Ingat, perhatian yang Anda berikan bisa menjadi obat mujarab bagi pasangan.

 

Barulah kalau ia masuk rumah sakit dalam keadaan darurat, apalagi sampai masuk ICU (Intensive Care Unit) yang berarti sangat butuh perhatian penuh, mau tidak mau kita harus total meninggalkan segala aktivitas agar bisa senantiasa berada di sisinya. Selain bisa meringankan bebannya, kita pun tak perlu menyesal bila terjadi hal-hal yang tidak terduga dan tidak diinginkan. “Bila perlu, minta izin khusus atau ambil cuti agar bisa memberi pelayanan terbaik karena di saat-saat kritisnya dia pasti butuh pendamping dan support yang sangat tinggi.”  

 

 

Irfan Hasuki. Foto: Vitri/nakita

Tip’s Menjaga Kehangatan Suami Isteri


 TIP’S MENJAGA KEHANGATAN SUAMI ISTERI
Sediakan selalu waktu untuk berbicara dengannya.  Pasangan Anda tidak bisa “membaca” pikiran Anda bila Anda enggan mengungkapkannya.  Sampaikan maksud dan keinginan Anda dengan jelas dan tuntas.  Sebaliknya, Anda pun harus membuka diri untk mendengarkan dengan teliti apa saja yang dikatakan pasangan Anda.

Selalu sediakan waktu untuk untuk berdua.  Cinta tidak akan terpelihara bila kita `tidak mau menyediakan waktu untuknya.  Selalu tempatkan keutuhan hubungan Anda sebagai prioritas utama.

Seimbangkan waktu yang Anda sediakan untuk pekerjaan dengan waktu untuk pasangan Anda.

Maklumi perbedaan-perbedaan yang ada antara Anda dan dia.  Baik perbedaan sikap maupun pandangan.  Anda tidak harus menjadi dia, begitu pula sebaliknya.  Ingatlah, setiap manusia itu unik.  Tidak ada dua manusia yang sama persis di muka dunia ini, bahkan saudara kembar sekalipun.

Tentukan arah rumahtangga Anda.  Rancanglah kehidupan dimasa depan bersama dengan pasangan Anda.

Sedapat mungkin, hindari tindakan mengkritik atau menyalahkan satu sama lain.  Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

Berilah perhatian dan bersikaplah romantis.  Coba kenang indahnya masa-masa saat Anda masih pacaran.  Pertahankan pelukan mesra, kecupan sayang, hingga hadiah bunga dan cokelat.  Jangan ragu mengirim sms atau memo atau surat berisi ungkapan cinta Anda padanya.

Jangan habiskan energi pada pekerjaan Anda.  Sisihkan untuk bersenang-senang bersama pasangan.  Pergilah berdua ke tempat-tempat yang menyenangkan.  Rayakan hari-hari penting Anda berdua, misalnya hari ulang tahun perkawinan atau hari pada saat Anda pertama kali pergi berdua denganya..

 

(Dikutip dari Tabloid Nova 11-08-2002)