Anita's Personal Blog

Kegiatan Arsiparis | Komputer | Fotografi

Tag: Lensa Kamera Digital

Telephoto Zoom Lenses (Lensa Tele)

Telephoto Zoom Lenses
These high-magnification lenses cover a broad range of focal lengths from wide to telephoto and exhibit outstanding performance whether shooting faraway athletes in action or portraits with a shallow depth of field. The supremely reliable performance of Canon’s camera shake correction enables photographers to confidently use the telephoto side without resorting to a tripod.

Lensa Tele
Lensa dengan perbesaran tinggi lensa mencakup berbagai focal length dari lebar ke tele dan menunjukkan kinerja yang luar biasa, untuk memotret atlet dari jarak jauh atau disebut dengan memotret dengan kedalaman dangkal. Kinerja amat diandalkan koreksi goyangan kamera Canon memungkinkan fotografer untuk percaya diri menggunakan sisi tele tanpa menggunakan tripod.

Lensa Tele : 135, 300, 150, 200 mm.
Lensa Tele biasanya untuk motret fashion karena kita tidak bisa mendekat kalau motret.  Dan agar orang yang kita potret tidak terganggu oleh background.

Dengan memakai Lensa Tele maka subjek yang sangat jauh bisa kelihatan dekat dan jelas.

18-200mm adalah Focal Length. Focal Length artinya “lensanya bisa motret seberapa jauh?” , yaitu 18 mm s/d 200mm sebenarnya itu ada lah ukuran jarak titik api ke planar (sensor/film)

pada prakteknya.. makin kecil nilai mm nya.. makin wide
makin besar.. makin tele

Jadi kalo focal length anda 80mm, artinya, supaya obyek yang anda liat itu focus, jarak dari sensor (kalo digital) ke titik apinya lensa itu 80mm.

Jika anda lihat dikamera didaerah atas kamera akan ada tanda angka 0 dicoret (seperti lambang tetha) nah itulah dimulai titik 0 mm, tanda itu menandakan film/sensor berada. sedangkan jarak 80mm itu adalah jarak lensa tunggal (ekivalen dari kumpulan lensa) ke sensor tersebut.

Lensa tele atau yang lebih dikenal dengan lensa teropong karena berfungsi untuk ‘meneropong’ dari jarak jauh populer digunakan pada dunia olahraga, petualangan alam liar serta foto konser. Tak lupa pula di dunia selebriti dan paparazi lensa ini adalah andalan utama mereka.

Fungsi utamanya yang mengambil foto dari jarak jauh memungkinkan sang fotografer dan subyek (obyek) foto bisa lebih aman dan nyaman sehingga ‘tidak saling mengganggu’ satu sama lain. Soal keamanan ini pula menjadi faktor utama bagi para fotografer di alam liar, dimana mereka bisa mengambil foto dari seekor singa / harimau dari jarak yang aman ataupun mengambil foto gunung berapi yang sedang bergejolak memuntahkan lavanya.

Ada beberapa tips dan trick untuk bisa memaksimalkan fungsi dari lensa tele yang Anda miliki saat ini, apapun merek serta tipenya (tele-fix atau tele-zoom), tips ini bisa diaplikasikan lebih jauh.

Berikut ini tips dan trik memaksimalkan fungsi lensa tele:

  1. Kenali terlebih dahulu panjang fokal serta bukaan diagrafragmanya (apperture). Biasanya hal ini bisa ditemui pada sisi depan lensa tersebut / box lensa tersebut. Contoh : 200mm f/4, 70-200mm f/2.8, dst. Hal ini berfungsi untuk mengetahui kemampuan dari lensa tersebut dan kita bisa mempersiapkan serta mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi pada saat ‘on the stage‘ nantinya.

  2. Semakin besar nilai dari fokal maka mempunyai kemampuan ‘tele’ lebih jauh dalam posisi pengambilan yang sama, tapi mempunyai konsekwensi rentang sudut pengambilan yang semakin sempit jika dibandingkan dengan fokal yang lebih kecilnya. Lensa dengan panjang fokal 200mm bisa ‘memperbesar’ obyek yang lebih jauh jika dibandingkan dengan lensa dengan panjang fokal 70mm.

  3. Semakin besar nilai bukaan diagfragma (apperture) maka semakin ‘cepat’ lensa tersebut dapat digunakan. Arti cepat disini adalah semakin cepat setting untuk exposurenya dalam kondisi minim cahaya (redup / gelap). Sebagai contoh lensa dengan f/2.8 dapat digunakan ‘lebih cepat’ jika dibandingkan dengan lensa dengan f/4, begitu juga lensa dengan f/4 ‘lebih cepat’ daripada lensa dengan f/5.6, begitu juga seterusnya. Secara teori hal ini disebabkan semakin besar bukaan diagfragma sehingga semakin besar ‘jumlah cahaya’ yang bisa diterima oleh sensor / film kamera Anda, jadi setting shutter speed bisa diset lebih cepat lagi tanpa khawatir hasil menjadi gelap karena kurangnya waktu exposure.

  4. Satu trick agar gambar tidak goyang (shake) atau blur dengan menset exposure time menjadi “satu per panjang fokus lensa”. Sebagai contoh jika Anda sedang menggunakan lensa dengan panjang fokus 200mm, maka setting exposure time ‘yang aman’ adalah 1/200 detik. Begitu juga jika Anda menggunakan lensa dengan panjang fokus 400mm setting exposure time ‘yang aman’ adalah 1/400 detik. Untuk bisa mendapatkan waktu exposure yang tinggi serta hasil yang ‘bagus’ dibutuhkan bukaan diagfragma yang semakin besar (seperti yang telah dijelaskan pada tips nomor 3).

  5. Gunakan penyangga (tripod / bipod / monopod) untuk mengurangi efek goyang (shake). Goyangan / getaran sekecil apapun ketika Anda menggunakan lensa tele, hal itu sudah dapat membuat hasil foto Anda blur / bergoyang. Hal itu dikarenakan efek ‘pembesaran’ yang disebabkan lensa tele tersebut. Penyangga (tripod / bipod / monopod) juga bisa digunakan untuk membantu ‘menopang’ lensa tele Anda yang rata-rata berukuran besar dan berat, terutama jika Anda menunggu momen yang tepat dalam waktu yang lama.

  6. Semakin besar nilai bukaan diagfragma lensa Anda, semakin ‘bagus dan unik’ bokeh yang akan dihasilkan dalam kondisi ‘normal’ dengan mudah. Lensa dengan nilai bukaan (apperture) f/2.8 bisa menghasilkan bokeh ‘lebih mudah’ jika dibandingkan dengan lensa dengan nilai bukaan (apperture) f/4. Hal ini juga berfungsi untuk mengisolasi subyek / obyek yang akan di foto dengan Deep of Field (DoF) untuk memberikan kesan ‘ruang/3D’.

  7. Gunakan fitur stabilizer yang bisa ditemukan pada sistem internal lensa seperti halnya Image Stabilizer (IS) pada lensa-lensa keluaran Canon ataupun VR pada lensa-lensa keluaran Nikon ataupun stabilizer yang ada pada body kamera seperti IS pada kamera Olympus ataupun Steady-Shoot pada kamera Sony.

  8. Gunakan ISO yang lebih tinggi untuk mengkompensasi bukaan lensa (apperture) yang kecil untuk mendapatkan nilai shutter (expose) yang tinggi. ISO 1600 bisa mengkompensasi nilai shutter (expose) yang lebih cepat jika dibandingkan dengan ISO 400 pada kondisi pencahayaan dan bukaan lensa (apperture) yang sama. Hal ini berguna untuk mengurangi efek blur / shake pada hasil akhir. Tetapi hal ini mempunyai konsekwensi lain yaitu timbulnya grainy/noise/bintik-bintik yang lebih besar dan banyak jika Anda menggunakan ISO yang lebih tinggi.

Yap, itu semua beberapa tips & trick untuk memaksimalkan lensa tele Anda, baik yang berupa tele-zoom (70-200mm, 100-200mm, dst), tele-fix (200mm, 300mm, dst), variable apperture (f/4-5.6, dst), fix apperture (f/2.8, f/4, dst), dan berbagai macam merk mulai dari Canon, Nikon, Olympus, Sony, Sigma, dll.

Hasil fotonya (EF-S18-200mm f/3.5-5.6 IS • 1/500 sec. • f/16) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF28-300mm f/3.5-5.6L IS USM • 1/40 sec. • f/6.3) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF-S55-250mm f/4-5.6 IS II • 1/125 sec. • f/5.6) adalah sebagai berikut:
Lensa tele ini yang saya punya, saya beli seharga Rp. 2.375.000,- pada tahun 2009

Hasil fotonya (EF70-200mm f/2.8L IS II USM • 1/5000 sec. • f/5.6 ) adalah sebagai berikut:

Lensa tele ini harganya sangat mahal melebihi harga beli 1 set camera canon standard harganya sekitar Rp. 12.000.000,- pada tahun 2009 Saya ingin… sekali punya lensa ini sebab lensa ini selain bagus buat motret pemandangan juga bagus buat memotret close up, hasilnya sangat detail dan proporsional. Lensa ini disebut Tele ke Tele, artinya lensa Tele yang bisa dipakai Wide. Lensa ini mahal banget karena nilai f (aperture, diafragma) nya kecil sekali yaitu 2,8. Jadi kalau dipakai close up maka hasilnya latar belakangnya bisa bokeh banget (bokeh=blur) sehingga subjek yang kita akan ambil akan sangat menonjol kelihatannya. Do’akan aku diberi rezeki lebih sehingga bisa membeli lensa ini ya :)

Hasil fotonya (EF70-200mm f/4L IS USM • 1/100 sec. • f/4) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (9EF70-300mm f/4-5.6L IS USM • 1/60 sec. • f/5) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF70-300mm f/4-5.6 IS USM • 1/500 sec. • f/11) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF70-300mm f/4.5-5.6 DO IS USM • 1/40 sec. • f/6.3) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF100-400mm f/4.5-5.6L IS USM • 1/80 sec. • f/14) adalah sebagai berikut:

Sumber: Hasil Pelatihan Fotografi di Canon School dan http://web.canon.jp/imaging/lens/technology/lineup/index3.html
http://munjalindra.com/2009/11/19/trick-memaksimalkan-lensa-tele.html

Standard Zoom Lens (Lensa Wide)

Standard zoom lenses
These zoom lenses cover the wide to mid/telephoto shooting range, which includes the most commonly used angles of view.Users can capture the entire scene with a wide-angle setting and then immediately zoom in on attractive details of the subject. Extremely practical, these highly versatile lenses meet everyday needs for landscape and portrait photography.

Lensa Standard (Lensa Wide)
Ini lensa zoom mencakup untuk lebar pertengahan / tele lapangan tembak, termasuk lensa yang paling umum dipakai. Pengguna dapat menangkap seluruh adegan dengan pengaturan sudut lebar dan kemudian segera memperbesar detail yang menarik dari subjek. Sangat praktis, lensa ini sangat fleksibel memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk memotret pemandangan dan memotret orang seluruh badan.

Super Wide Angle Lens :  < 24
Lensa sudut lebar di design untuk tempat yang sempit.  Cocok untuk memotret pemandangan dan memotret kelas supaya kita tidak jebol dinding tetangga :)

Lensa yang mempunyai mm kecil khusus untuk tempat yang sempit

Cara baca tulisan Canon EF-S15-85mm f/3.5-5.6 IS USM adalah sebagai berikut:
Canon : produsen / merk
EF-S : jenis vatting / pangkon / bajonet / mounting
15-85mm : focal length vario antara 15 sampai 85mm pada full frame sensor / film 35mm
f/3.5-5.6 : diafragma maksimal pada rentang focal length
IS : image stabilizer
USM : ultra sonic motor, jenis motor pada lensa ini

15-85mm itu rentang focal length. Jika Anda sudah mengenal jenis-jenis lensa seperti wide angle, normal zoom, tele, dll; perlu Anda ketahui pembagian jenis tersebut berdasarkan focal length lensanya. Pengkategorian lensa berdasarkan focal length:
mount lensa Canon sejak tahun 1987, mount sebelumnya bernama FD. Tambahan -S di belakang adalah kependekan dari Short Back Focus. Lensa dengan seri ini memiliki ‘buritan’ yang lebih nongol sehingga tidak bisa masuk ke body fullframe. Desainnya pun memang dirancang untuk body non-fullframe (APS-C) sehingga memiliki image circle yang lebih kecil daripada lensa seri EF biasa. Jika dipaksakan dipasang pada body fullframe (baik dibantu dengan extension tube atau cara lain), maka akan menghasilkan foto dengan vignetting yang cukup parah akibat jangkauan image circle tidak sampai mencakup keseluruhan frame.

L -> kependekan dari “Luxury”, biasa diplesetkan menjadi “Larang”. Lensa-lensa L-series Canon adalah lensa yang berada di jajaran atas. Dibuat dengan optik-optik pilihan yang berkualitas, juga memiliki build quality yang baik dan kokoh. Lensa seri ini ditandai dengan adanya gelang merah di leher bagian depan lensa.

DO -> kependekan dari “Diffractive Optics”. Lensa seri ini bila dibandingkan dengan lensa lain yang memiliki focal length dan aperture maksimal yang sama biasanya memiliki bentuk yang lebih kecil dan berat yang lebih ringan. Canon juga meng-claim lensa seri DO ini memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatasi chromatic aberration. Lensa ini ditandai dengan adanya gelang berwarna hijau di leher lensa bagian depan. Hingga saat ini Canon baru memproduksi 2 macam lensa dengan diffractive optics ini.

IS -> kependekan dari “Image Stabilizer”. Teknologi peredam getar pada lensa yang memungkinkan lensa menstabilkan getaran tangan yang bisa menyebabkan foto shaking. Kemampuan IS biasanya diukur dengan stop rating, di mana semakin tinggi angka ratingnya, semakin baik kemampuan IS lensa tersebut dalam menstabilkan getaran.

USM -> kependekan dari “Ultra-sonic Motor”, bisa diplesetkan menjadi “Untuk Semua Momen”. Lensa AF dengan motor ini biasanya memiliki kemampuan autofocus yang lebih cepat dan senyap sehingga dapat menangkap momen dengan lebih baik dan akurat.

Di Body lensa pasti mencantumkan FL (Focal Length) dan Aperture (bukaan lensa)

Lens EF-S15-85mm f/3.5-5.6 IS USM artinya pada FL (Focal Length)nya = 15 mm dan Aperture (Bukaan Lensa)nya maximal 3,6 sedangkan pada FL (Focal Length)nya = 85 mm dan Aperture (Bukaan Lensa)nya maximal 5,6.

Makin kecil angka Aperture (Bukaan Lensa) maka hasil gambar makin bagus, dan harganyapun makin mahal

50 mm = panjang fokal lensa. Ukuran 50 mm ini disebut panjang “normal” krn kira-kira sesuai pengelihatan mata telanjang. Lebih panjang disebut lensa tele, lebih pendek disebut lensa wide. Untuk 300D, lensa normal adalah 31 mm krn hrs dikonversi 50/1,6.

f=1,8 = aperture maksimumnya. Makin kecil angkanya, makin kecil DoF-nya dan kemampuan cahaya redupnya makin bagus. Harganya lensa paling mahal adalah yang f nya kecil, maka lensa yang memiliki f/1,8 adalah lensa yang paling mahal harganya, harganya bisa jauh melebihi harga body camera .

EF = tipe koneksi lensa ke kamera (bayonetnya) untuk semua EOS Serie. EOS 300D pakai EF ini dan juga pakai EF-S.

Yang paling penting utk diketahui adalah membaca focal length dan aperturenya. Karena itu adalah standar utk semua lensa.

Yg paling penting utk diketahui memang membaca focal length kalau di lensa Canon, titik merah di bagian depan itu menandanya tempat untuk pemasangan lens hoodnya. Kalo titik merahnya dibelakang itu utk mencocokkan mounting kamera.
Tapi kalo yg dimaksud titik merah adalah warna gelang yang berwarna merah, itu berarti lensa L…

Sebenarnya kalo di lensa canon agak gampang utk membedakan stratanya…
Gelang silver = Lens USM versi generiknya.
Gelang emas = Lens USM versi medium… kecepetan fokus lebih baik, lebih silent, dan internal fokus
Gelang merah = Lens L versi Luxurynya… kaca lensanya jauh lebih bagus dr yg gelang emas, lebih cepet, lebih mahalll.dan aperturenya. Karena itu adalah standar utk semua lensa.

Tanda dua romawi (II):
Kalo tanda II artinya versi ke II
Biasanya makin besar versinya kualitas agak berkurang. (biasanya body lensanya atau USMnya)
Jd misalkan Lens Canon 28-80 f/3.5-5.6 II dan Lens Canon 28-80 f/3.5-5.6 V lebih bagus yg versi II

Atau Lens Canon 50mm f/1.8 dan Lens Canon 50mm f/1.8 II. Kualitasnya bahannya lebih bagus yg pertama. (mountingnya kalo yg versi I dari besi sedangkan yg versi II dari plastik) Harganya pun tentu beda juga.

USM = Ultra Sonic Motor. Jadi kalo lensanya ngefokus bener-bener hampir tidak ada suara.

Tidak selalu versi yg lebih baru itu lebih jelek.
Contoh :
Canon EF 28-80mm f/3.5-5.6 USM dan
Canon EF 28-80mm f/3.5-5.6 II USM
Saya berani bilang kalau Canon EF 28-80 f/3.5-5.6 II USM jauh lebih baik daripada lensa sebelum-nya. Memang ada beberapa yg qualitas-nya tidak sebaik versi yg sebelum-nya. Tapi biasa-nya focusing speed-nya lebih cepat. Tapi memang kualitas body lensanya lebih bagus yang lama.

anyway 50 f/1.8 the best….murah dan sip. mau yang Mk I/II bagus semua. Dofnya keren.

Di Canon, lensa yang bisa dipakai untuk kamera full frame hanya tipe EF dan EF-L (lensa L ditandai dengan ring merah, memiliki kualitas optic yg terbaik). EF-S mungkin bisa dipakai di kamera full frame tp objek terlihat kecil dan dipinggirnya ada border hitam.

Kekurangannya Full frame cuma 1, harganya mahal banget biasanya cocok untuk professional photographer, tapi kalau memang benar2 ingin terjun di dunia fotografi atau ada dana lebih bisa dipikir kembali untuk memilih kamera full frame.

Contoh jenis lensa EF-S saat ini memang tidak banyak, sementara yang ada cuma 4 :
EF-S10–22 mm f/3.5 – 4.5 USM (lensa wide banget)
EF-S17–85 mm f/4 – 5.6 IS USM (lensa standard + semi tele (70mm keatas))
EF-S18–55 mm f/3.5 – 5.6 USM (lensa kit standard)
EF-S60 mm f/2.8 Macro USM (lensa macro)

EF-S18-55mm f/3.5-5.6 USM disebut Lensa Kit Standard, karena pada saat kita membeli camera canon maka lensa inilah yang langsung kita dapatkan sebagai bonus.

Hasil fotonya (EF-S15-85mm f/3.5-5.6 IS USM • 1/250 sec. • f/8.0) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF-S17-55mm f/2.8 IS USM • 1/800 sec. • f/2.8) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF-S17-85mm f/4-5.6 IS USM • 1/8 sec. • f/5.6) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF-S18-55mm f/3.5-5.6 IS II • 1/500 sec. • f/5.6) adalah sebagai berikut:
Lensa wide ini yang saya dapatkan free ketika beli camera canon 40 D seharga 10.400.000,- pada tahun 2008

Hasil fotonya (EF-S18-135mm f/3.5-5.6 IS STM • 1/500 sec. • f/9.0) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF-S18-135mm f/3.5-5.6 IS • 0.6 sec. • f/8.0) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF24-105mm f/4L IS USM • 1/125 sec. • f/10) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF28-135mm f/3.5-5.6 IS USM • 1/125 sec. • f/8) adalah sebagai berikut:

Sumber: Hasil Pelatihan Fotografi di Canon School dan http://web.canon.jp/imaging/lens/technology/lineup/index2.html