MENJAGA GETAR CINTA SETELAH ADA ANAK

Seperti baterai yang harus di-charge berulang-ulang, begitu pula kehidupan percintaan Anda dengan pasangan.

Setelah kehadiran buah hati, banyak pasangan suami-istri yang menempatkan urusan cinta menjadi nomor sekian. “Ah, kayak anak muda aja pake cinta-cintaan segala! Yang penting kan suami bertanggung jawab dan anak sehat,” begitu anggapan seorang ibu muda. Komentar serupa terlontar dari ibu lain, “Waduh, waktu untuk ngurus rumah dan anak aja udah mepet begini. Mana sempat lagi ‘pacaran’ sama suami?”

Padahal, “Getar cinta mutlak dibutuhkan sepanjang usia pernikahan,” ujar A. Kasandravati, Psi., dari Psychological Practice Kasandra Persona Prawacana. Sayangnya, getar cinta bukanlah oksigen di udara bebas yang bisa dengan mudahnya dihirup. Perasaan itu harus diupayakan untuk dipertahankan oleh kedua belah pihak dengan berbagai cara. “Sebab tanpa disadari, kesibukan dan rutinitas sehari-hari bisa membuat perasaan itu jadi tertutup dan berdebu,” imbuhnya.

Sudah menjadi kodrat manusia untuk mencari kesenangan (pleasure) dan mengurangi rasa sakit (pain). Perasaan cinta adalah bagian dari kesenangan. “Mana ada orang yang tidak menikmati perasaan disayang, diperhatikan, dibutuhkan, disanjung dan sebagainya” . Menjadi masalah kalau suami/istri merasa tidak lagi mendapatkannya di rumah kemudian mencarinya di luar. “Ini yang berbahaya karena bisa mengguncang keutuhan perkawinan. Oleh sebab itu mempertahankan getar cinta menjadi sangat penting.”

IDE-IDE SEGAR

Sebelum mengatakan mustahil dengan ide-ide ini, mengapa tidak mencobanya terlebih dulu? Iya sih kehadiran anak memang menuntut suami-istri untuk kembali menyesuaikan banyak hal. Namun “menyegarkan” hubungan seperti masa pacaran dulu bukanlah sesuatu yang mustahil diupayakan. Masing-masing pasangan tentu punya cara yang berbeda dalam mengekspresikan rasa sayangnya. “Pokoknya lakukan saja apa yang dilakukan ketika pacaran dulu.” Secara berseloroh Kasandra menambahkan, “Dulu waktu pacaran kan, psikolognya tidak tahu apa yang dilakukan. Jadi, ya tergantung kreativitas berdua.”

Sebagai panduan, Kasandra menawarkan beberapa ide berikut yang bisa dilakukan.

* Sediakan waktu khusus

Sewaktu pacaran dulu, gangguan sekecil apa pun saat berdua-duaan tentu menjengkelkan. Sampai muncul guyonan bahwa dunia ini milik kita berdua, sementara yang lain cuma ngontrak. Mengapa setelah menikah tidak bisa lagi diusahakan hal yang sama? “Kalau anak nangis gimana? Masak iya sih dicuekin dan tetap asyik pacaran?” Tentu saja tidak perlu sampai setega itu.

Nah, agar segalanya berjalan lancar, atur waktunya. Contohnya jadwalkan setiap Sabtu jam 19.00-21.00 sebagai waktu khusus untuk berduaan saja tanpa kehadiran anak.

Sepanjang waktu tersebut serahkan tanggung jawab anak pada pengasuh. Siapkan beberapa VCD berisi film-film anak yang menarik supaya selama kita tinggal anak tetap asyik dengan dunianya sendiri. Sempatkan waktu tersebut untuk jalan-jalan keluar rumah sekadar menghirup udara segar atau bernostalgia makan di tempat langganan. Jangan anggap remeh aktivitas semacam ini karena bisa menghidupkan kembali romatisme pasangan.

Manfaatkan kebersamaan di mobil sepanjang perjalanan sebagai ajang untuk bicara lebih “dalam”, leluasa dan hangat.

* Jangan pelit memberi perhatian kecil

Ini juga salah satu kiat jitu, semisal mengirim SMS bernada mesra, menyelipkan catatan kecil di tas kerjanya, menatap matanya sambil memberikan senyum penuh arti, mengenakan busana pemberiannya, parfum kesukaannya dan sebagainya. Bukankah melakukan semua hal tersebut tetap bisa dilakukan tanpa harus kehilangan kebersamaan dengan anak? Intinya, hidupkan terus hal-hal personal yang membuat suami/istri merasa tetap tergetar saat bersama dengan pasangannya.

* Bicara apa saja

Memang sulit bicara apa saja dengan pasangan, terlebih bagi individu yang tergolong pendiam. Sementara banyak hal rasanya lebih nyaman dan seru bila dibicarakan dengan orang lain. Padahal semasa pacaran dulu, tak ada yang dirahasiakan kan dari sang kekasih. Rasanya apa saja ingin kita bicarakan dengan si dia. Nah, mengapa tidak mencobanya lagi? Jangan hanya rajin berkeluh kesah pada suami/istri, tapi posisikan pasangan sebagai orang istimewa yang kita percaya untuk mendengar banyak hal. Istilahnya, jangan hanya berbagi duka, tapi sering-seringlah berbagi suka.

* Jaga penampilan

Menjelang bertemu dengan sang pujaan hati, rasanya belum puas kalau belum ngaca berulang kali sekadar untuk memastikan semuanya oke. Tapi kenapa sekarang sarung dan daster yang menjadi busana favorit? Bagaimanapun menjaga penampilan agar selalu rapi dan enak dipandang akan membuat pasangan merasa dihargai dan diistimewakan. Nah, kalau tank-top warna merah menyala itu yang membuatnya jatuh cinta, mengapa tidak sesekali dikenakan kembali?

* Sentuhan

Jangan salah, sentuhan lembut, pelukan mesra, usapan sayang akan terasa amat menyejukkan lo di tengah kegersangan menjalani rutinitas sebagai suami istri. Siapa pun akan merasa tersanjung bila diperlakukan demikian. Ingat, ekspresi cinta tak selalu harus berupa ciuman hangat yang menggelora, kok. Ciuman sekilas di dahi pun terasa menyejukkan bila dilakukan setiap hari penuh cinta sebagai sambutan setelah seharian berpisah dengannya karena harus bekerja.

* Seks berkualitas

Tak bisa dipungkiri, masalah yang satu ini termasuk krusial dalam hubungan suami istri. Banyak suami yang jadi enggan menyentuh istrinya setelah melahirkan dengan berbagai alasan. Padahal rumah tangga yang sehat salah satunya ditandai dengan hubungan seksual yang berkualitas.

Tak ada salahnya menjadwalkan bulan madu kedua, ketiga dan seterusnya supaya gairah tetap berkobar seperti api olimpiade.

JANGAN BIARKAN BERLALU

Tidak ada kata terlambat untuk mulai menumbuhkan getar-getar cinta lagi, meski telah sekian lama absen. Hubungan yang dibiarkan datar dan dingin, akan membuat suami/istri gampang terjebak dalam kejenuhan. Bukan tidak mungkin karena merasa jenuh dengan kehidupan rumah tangganya, pasangan jadi lebih rentan menghadapi berbagai godaan di luaran.

Bahkan untuk pasangan yang sepertinya belum pernah merasakan getaran cinta, entah karena dijodohkan atau dipaksa pun belum terlambat untuk memulainya. Jangan jadikan kehadiran si kecil sebagai penghalang. “Bukan pada tempatnya pasangan suami-istri merasa bersalah pada anak karena ‘pacaran’ lagi setelah hadirnya si kecil di antara mereka. Karena pada dasarnya keinginan untuk dicintai itu kebutuhan tiap manusia, kok,” kata Kasandra pula.

Sumber: Marfuah Panji Astuti.