Pertanyaan:
Saya seorang laki-laki muda, mahasiswa di sebuah universitas terkemuka di Yogyakarta, sudah dua tahun ini berpacaran dengan mahasiswa satu fakultas. Kami saling cocok dan mencintai, tapi sering sekali terjadi percekcokan, beda pendapat, kadang sampai hebat. Jadi, hubungan kami seperti putus sambung, sesudah saling marah-marahan lalu berbaik kembali. Tak berapa lama sudah cekcok lagi. Macam-macam hal bisa menjadi sumber pertengkaran. Mulai beda idealisme, beda prinsip, adanya orang ketiga, tidak saling mengerti, dan lain-lain. Tapi toh akhirnya berhubungan kembali. Apakah ini memang bumbunya orang saling mencintai? Tapi saya selalu terpancing emosi bila menerima ucapan atau sms-nya yang saya anggap memancing kemarahan. Kadang saya tak bisa mengendalikan emosi. Emosi saya meledak-ledak dan ini rupanya mengganggu konsetrasi dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya seperti tak bisa berfikir jernih dan buntu bila emosi saya sedang naik. Padahal ini sering terjadi. Saya mohon saran atau penjelasan Dokter tentang ini. Terima kasih.
BK di Yogyakarta.

Jawaban dari Psikiatri:
Emosi adalah salah satu unsur ynag membentuk kepribadian manusia yang sangat berharga. Boleh dikata ini unsur yang berdiri sendiri, tapi juga sangat dipengaruhi pola pikir. Emosi sudah terbentuk sejak manusia dilahirkan. Seorang bayi yang lahir ke dunia merasa tidak nyaman dengan keadaan dunia yang tidak senyaman dalam kandungan ibunya. Maka, ia langsung menangis sekeras-kerasnya. Bila ada suatu rangsangan yang menyakiri dirinya, atau ia merasa lapar, bayi itu langsung menangis meronta-ronta. Sesudah besar, pikiran semakin mempengaruhi emosinya. Bila ia memperoleh apa yang ia inginkan, pikirannya puas, emosinya pun bahagia. Tapi bisa pikirannya mengharapkan sesusatu dan terbentur suatu hal, emosinya pun kecewa, frustasi, sedih atau marah. Maka dapatlah dikatakan bahwa mengendalikan emosi sesungguhnya adalah mengendalikan pikiran kita karena sampai batas tertentu pikiran bisa menguasai emosi. Yang menjadi problem adalah seringkali emosi tak bisa dikendalikan oleh pikiran kita, meskipun kita ingin sekali menguasai atau mengelolanya. Disinilah kadang emosi bergerak sendiri, sesuai karakter, sifat dan keprib

Para ahli seperti Fehr dan Russel menyatakan bahwa “Setiap orang tahu apa itu emosi, sampai dia diminta untuk memberikan definisi tentang emosi itu sendiri, setelah itu tidak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya”. Ketika kita menggunakan istilah tersebut, emosi merupakan sebuah pengalaman rasa. Kita merasakan adanya emosi, kita tidak sekedar memikirkannya. Ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang secara pribadi penting untuk kita, maka emosi kita akan meresponsnya, biasanya diikuti dengan pikiran yang ada hubungannya dengan perkataan tersebut, perubahan psikis, dan hasrat untuk melakukan sesuatu. Bila ada seorang teman yang semena-mena menyuruh kita melakukan sesuatu, psikis kita mengalami perubahan, tekanan darah kita meninggi karena terpacu adrenalin, dan kita siap untuk marah.

Emosi itu bisa menjadi positif, tetapi bisa juga menjadi negatif. Emosi yang psoitif secara personal menghasilkan perasaan yang menyenangkan. Apakah itu bangga, harapan, kelegaan, emosi ini akan menghasilkan seseuatu yang baik pula. Dalam interaksi dengan orang lain, emosi yang positif bisa membangun kedekatan, sebuah hubungan yang ditandai dengan keinginan baik, pemahaman, dan perasaan menjadi bagian dari sebuah “kebersamaan”. Sebaliknya, perasaan marah, frustasi, dan emosi-emosi negatif lainnya secara personal menghasilkan perasaan susah, kecewa, sakit hati, atau marah. Emosi-emosi ini kecil kemungkinannya digunakan untuk membangun kedekatan.

Emosi bisa mengalihkan perhatian dari persoalan poko yang akan dibicarakan. Emosi bisa menghancurkan hubungan. Emosi bisa mengeksploitasi kita. Sebaliknya, emosi positif bisa mempermudah terpenuhinya beberapa kepentingan sunstantif. Emosi positif dapat memperrat hubungan. Emosi positif tidak akan menambah resiko bahwa kita akan dieksploitasi.

Mematikan emosi adalah suatu hal yang mustahil karena emosi itu adalah suatu hal yang alamiah. Demikian juga menghilangkan emosi. Emosi muncul sebagai reaksi atau respons manusia terhadap suatu rangsang eksternal maupun internal. Setiap rangsangan akan mendapat reaksi dari kita. Namun ada titik-titik waktu yang bisa kita pikirkan bagaimana bentuk reaksi yang kita ambil, inilah yang disebut respons, bentuk bentuk reaksi emosi yang sudah diatur oleh pikiran dengan pertimbangan yang bijak. Tentunya emosi yang timbul adalah emosi yang positif dan menguntungkan semua pihak, bukan emosi yang merusakkan segalanya.

Dengan demikian, lebih baik perhatian kita arahkan kepada apa-apa yang membangkitkan reaksi emosi-emosi tertentu. Perhatian utama adalah keinginan manusia yang penting dalam semua hubungan antar manusia. Keinginan itu seringkali tidak terucapkan, tetapi tidak kalah pentingnya jika dibandingkan dengan ketertarikan yang tampak. Keinginan utama itu memberikan kerangka yang sangat kuat kepada kita untuk mengatasi emosi tanpa mendapatkan masalah dengannya. Ada lima keinginan yang merangsang, baik maupun buruk, munculnya sebagai emosi dalam sebuah interaksi manusia. 5 (lima) keinginan itu adalah apresiasi, afiliasi, otonomi, status, dan peran. Kalau kita mampu menangani semua itu dengan efektif, kita bisa merangsang munculnya emosi-emosi yang positif baik di dalam diri kita sendiri maupun pada orang lain. Karena setiap orang memiliki keinginan itu, maka kita bisa secara langsung memanfaatkannya untuk merangsang munculnya emosi-emosi positif.

Sumber: Buku “Mereka Bilang Aku Sakit Jiwa” oleh Inu Wicaksana (psikiatri, penulis dan pembicara dalam seminar-seminar), penerbit Kanisius Yogyakarta.


FacebookTwitterGoogle+PinterestLinkedInWhatsAppLineShare/Bookmark