Kamera Full Frame 1 : 1
Kamera Canon TIDAK full frame dikonversi 1,6
Kamera Nikon TIDAK full frame dikonfersi 1,5
Artinya:
Kamera Canon full frame lensa 70mm = Kamera Canon TIDAK full frame lensa 44mm (yaitu 70/1,6)
Kamera Nikon full frame lensa 70mm = Kamera Nikon TIDAK full frame lensa 46mm (yaitu 70,1,5)

Jadi boleh dikatakan Kamera full frame akan menangkap gambar sama seperti apa yang kita lihat di jendela bidik. Disebut juga Kamera Normal.
Sedangkan Kamera TIDAK full frame menangkap gambar tidak sama seperti apa yang kita lihat di jendela bidik, karena akan terpotong (crop), jadi akan menghasilkan area gambar lebih kecil.

Contoh kamera full frame: Canon 5D mark II, Nikon D700, Nikon D3, Sony A900.

Contoh kamera TIDAK full frame (crop sensor): Canon 350D – 550D, Canon 40D, 50D, 7D, Nikon D3000, D5000, D90, Pentax kx, k20d, Olympus E-3, E-620, Sony A200 – A700 dan lain lain.

Kamera yang ukuran sensor dibuat menyamai ukuran film analog 35mm disebut kamera full frame (36 x 24mm).

Selain memakai sensor berukuran 35mm, kamera DSLR juga tersedia dengan sensor yang berukuran lebih kecil. Tujuannya adalah untuk menekan biaya produksi dan membuka kesempatan memproduksi lensa khusus yang bisa dibuat lebih kecil dan dengan biaya yang lebih murah.

Sensor yang lebih kecil dari sensor full frame biasa disebut dengan crop-sensor, karena gambar yang dihasilkan tidak lagi memiliki bidang gambar yang sama dengan fokal lensa yang digunakan. Hal ini biasa disebut dengan crop factor, dinyatakan dengan focal length multiplier, suatu faktor pengali yang akan membuat fokal lensa yang digunakan akan terkoreksi sesuai ukuran sensor. Perkalian ini akan menaikkan fokal efektif dari fokal lensa yang dipakai sehingga hasil foto yang diambil dengan sensor crop ini akan mengalami perbesaran (magnification). Semakin kecil sensornya maka semakin tinggi crop factornya dan semakin besar perbesaran gambarnya.

Kamera SLR full frame berukuran sensor lebih besar dari kamera SLR crop, berapa bedanya? Luas penampang kamera full frame adalah 864 mm2 dibandingkan dengan kamera crop sensor Canon: 329 mm2, Nikon, Sony, Pentax : 370 mm2 dan Olympus: 225 mm2

Dampak perbedaan ukuran inilah yang menjadi sumber perbedaan-perbedaan dibawah ini:

  1. Kualitas foto. Kamera bersensor berukuran besar lebih baik terutama di ISO tinggi (foto di tempat yang gelap). Untuk ketajaman foto, ini tergantung juga dengan lensa yang dipakai. Kalau lensa yang dipakai jelek, maka kualitas foto di kamera bersensor besar malah bisa lebih buruk.
  2. Jangkauan fokal lensa. Bila kita mengunakan lensa yang sama dan kita pasang di kamera full frame dan satunya lagi kamera crop frame, maka ada perbedaan jangkauan fokal lensa. Di kamera full frame, foto akan terlihat lebih lebar, sedangkan di kamera crop frame, foto terlihat lebih sempit. Hal ini dikarenakan kamera crop frame otomatis mengkrop foto yang diambil.
    Tiap merek kamera memiliki rasio yang agak berbeda dengan yang lain. Contoh Canon 1.6, Nikon, Pentax dan Sony 1.5, Olympus 2.
    Artinya bila lensa 100mm di pasang di kamera crop Canon, maka akan keliatan seperti 160mm di kamera full frame.
    Jika lensa 160 mm di pasang di kamera full frame Canon, maka akan kelihatan seperti 100mm di kamera crop Canon.
    Jika lensa 70 mm dipasang di kamera full frame Canon, maka akan kelihatan seperti 44mm di kamera crop Canon.
    Efek ini tentunya disukai oleh fotografer olahraga atau satwa liar, karena dengan lensa 300mm misalnya, dengan mengunakan kamera crop, jangkauannya seperti 480mm.
    Lensa 55mm, dengan menggunakan kamera crop, jangkauannya seperti 88mm.
    Lensa 55mm, dengan menggunakan kamera full frame, jangkaunnya tampak tetap seperti 55mm.
  3. Tidak semua lensa cocok dipasang buat kamera full frame. Ini yang penting bagi yang mempertimbangkan untuk membeli kamera full frame. Gak semua lensa kompatibel, ini dikarenakan banyak produsen lensa membuat lensa yang berukuran lebih kecil dan di optimalkan untuk kamera crop. Sebaliknya, semua lensa yang bisa dipakai di kamera full frame, bisa dipakai di kamera crop frame.
    Contoh lensa yang tidak kompatibel antara lain Canon EF-S, Nikon DX, Tamron Dii, Sigma DC.
    Lensa non full frame di desain memang untuk body non full frame (ada crop factor). Karena sensor dengan crop factor lebih kecil ukurannya maka “pantat” lensa non full frame bisa menjorok lebih dalam, lebih dekat ke si sensor. Lihat pada foto di bawah ini lensa non full frame (type EF-S kalau di canon – sebelah kiri) memiliki ujung yang lebih menonjol dibandingkan lensa full frame (EF kalau canon – sebelah kanan).

    Hal ini membuat lingkaran gambar yang dihasilkan lensa juga lebih kecil dibandingkan lensa full frame. Lihat ilustrasi di bawah ini – pada ilustrasi ini terlihat mengapa lensa EF-S tidak bisa digunakan di kamera full frame. Simply karena image circle EF-S lebih kecil dibandingkan sensor full frame. Akibatnya adalah munculnya vignette (lebih tepat disebut blockage karena hitam total) pada foto yang dihasilkan.
    Belum lagi ada resiko tersangkutnya mirror dari kamera full frame (ingat lensa EF-S memiliki pantat yang lebih menjorok dibandingkan lensa EF). Resiko terburuk? Mirrornya retak / pecah saat menghantam pantat lensa tersebut.
    Hal ini yang juga menyebabkan walaupun lensa Nikon seri DX (non full frame) bisa digunakan di kamera full frame Nikon tetapi ada crop factor. Misalnya D700 yang memiliki total 12 MPixel apabila digunakan lensa DX hanya akan menghasilkan foto dengan kualitas 5 MPixel. Pemotongan ini tentunya merupakan kerugian yang paling besar. Kita menggunakan kamera full frame yang mahal justru dikarenakan ukuran sensor yang besar (dengan segala kelebihannya). Masak kita mau memotongnya hanya demi menggunakan lensa non full frame?
    Kerugian lain adalah simply lensa non full frame tidak di desain untuk sepadan dengan detil yang mampu ditangkap oleh sensor full frame. Ibaratnya si sensor mampu menangkap resolusi sampai dengan 1000 maka lensa nya hanya mampu menghantarkan resolusi gambar 500. Maka hasil foto juga tidak akan optimal. Canon bahkan sampai meluncurkan lensa Canon EF 16-35 f2.8 L Mark II dan 70-200 f2.8 L IS Mark II demi mampu menandingi kemampuan sensor Canon 5d Mark II nya. Lensa yang sebelumnya (Mark I) bukannya jelek, hanya saja menggunakan Mark I tidak akan memaksimalkan kekuatan sensor baru Canon ini.
    Jadi, apabila sudah pakai full frame tapi masih mikir menggunakan lensa non full frame, mungkin memang kemampuan ekonomi kita belum sanggup – after all perbedaan image quality sensor full frame dan non full frame itu hanya untuk konsumsi mata fotografer. Buat awam … keduanya sama saja. :)
  4. Depth of field atau kedalaman fokus. Karena ukuran sensor lebih besar, makin tipis kedalaman fokus dibandingkan dengan kamera crop. Contoh, lensa dengan bukaan f/1.4 bila digunakan di full frame seperti lensa f/1 (Di dapat dari 1.4 dibagi crop faktor kamera misalnya 1.5 untuk kamera Nikon) bila dipakai di kamera crop sensor.
    Memahami bukaan lensa sangat penting bagi pelajar fotografi karena bukaan menentukan dua hal penting. Dan sebenarnya tidak sukar memahami bukaan.

    Memahami Aperture / Bukaan:
    Memahami bukaan lensa sangat penting bagi pelajar fotografi karena bukaan menentukan dua hal penting. Dan sebenarnya tidak sukar memahami bukaan.Bukaan menentukan banyaknya cahaya yang masukSemakin besar bukaan, semakin besar cahaya yang masuk.Bukaan menentukan kedalaman fokusSemakin besar bukaan, kedalaman fokus menjadi tipis, sehingga latar belakang lebih kabur / blur daripada bukaan yang kecil.Itu saja, sederhana bukan? Memang sederhana kok hehe..Contoh berbagai ukuran bukaan di lensa. Kamera digital SLR sekarang telah mengunakan kamera untuk mengganti besarnya bukaan
    Ukuran BukaanUkuran bukaan agak unik karena semakin kecil angkanya, maka semakin besar bukaannya.  Contoh: f/1.4, f/2, f/4. f/5.6, f/8, f/16, dst.Dari f/1.4 ke f/2 itu besarnya cahaya yang masuk berkurang dua kali lipat.Kisaran bukaan tergantung lensa yang dipakai, ada lensa yang punya bukaan f/1.4, ada juga yang f/3.5 atau f/4.
    Contoh berbagai ukuran bukaan di lensa (lihat tulisan yang dilingkari merah).
  5. Lebih rentan blur (belum ada riset yang pasti). Saya pernah baca artikel yang mengatakan bahwa kamera bersensor besar sedikit lebih rentan blur bila kamera goyang. Ini mungkin ada benarnya. Akibatnya, kita perlu menaikkan shutter speed lebih tinggi untuk mengkompensasikannya agar hasil tidak blur.Supaya foto tidak blur
    Biasanya, kesalahan fotografer pemula adalah salah memperhitungkan shutter speed (kecepatan rana) sehingga foto menjadi blur terutama ketika handhandle (motret langsung pakai tangan tanpa menggunakan tripod dan cable release).

    Ada dua faktor utama yang membuat foto menjadi blur:

    1. Faktor Pertama adalah setting kecepatan rana Anda terlalu lambat dibandingkan dengan rentang lensa (focal length) lensa Anda. Pada umumnya, supaya foto Anda tidak blur akibat getaran tangan kita, rumusnya adalah Speed (kecepatan rana) haruslah sama dengan 1/rentang fokal lensa.

      Contoh, bila Anda mengambil foto dalam rentang fokal 200mm, maka Anda memerlukan kecepatan rana 1/200.

      Rumus ini berlaku bila Anda mengunakan kamera full frame sensor.Bila Anda mengambil foto dengan lensa 55mm, maka Anda memerlukan kecepatan rana 1/55 (pakai shutter speed 1/55) untuk Kamera Full Frame.

      Bila Anda mengambil foto dengan lensa 55mm, maka Anda memerlukan kecepatan rana 1/88 (pakai shutter speed 1/88) untuk Kamera TIDAK Full Frame (didapat dari 55mm X 1,6) untuk mencegah blur.

      Untuk kamera Digital SLR yang ada dipasar, sebagian besar mengunakan sensor yang lebih kecil. Sensor ini bervariasi antara kamera yang satu dengan yang lain. Tetapi pada umumnya Canon mengunakan 1.6X, Nikon, Sony, Pentax mengunakan 1.5X dan Olympus mengunakan 2X. Dengan adanya variasi tersebut, maka perhitungannya menjadi sedikit lebih rumit.

      Kembali ke contoh awal dimana jika Anda memutuskan mengunakan rentang fokal 100mm di kamera Canon Rebel yang mengunakan 1.6X (yaitu Kamera TIDAK full frame) jadinya minimal Anda harus mengunakan speed (kecepatan rana) 1/160 untuk mencegah blur. (Didapatkan dari 1 per 100mm X 1.6).

      Mengapa semakin besar rentang fokalnya, Anda harus mengunakan kecepatan rana yang lebih cepat? hal ini dikarenakan semakin besar rentang fokal, maka semakin sensitif sensor dalam menangkap getaran.

    2. Faktor kedua adalah benda yang Anda foto bergerak cepat, sehingga kecepatan rana (speed) pun harus mengikuti cepatnya gerak subjek foto tersebut.Contohnya, untuk membekukan gerakan pemain basket orang orang berlari, minimal Anda memerlukan 1/500.

      Untuk penari dan penyanyi, biasanya shutter speed 1/200 cukup,

      dan untuk foto manusia yang tidak bergerak 1/60 biasanya cukup baik.

      Rumus ini berguna sekali jika anda motret tanpa bantuan tripod.

      Joe Decker dari blog foto Photocrati mengenalkan faktor baru yaitu ukuran piksel sensor mempengaruhi blur. Katanya, kamera yang berukuran sensor sama, tapi resolusi gambar tinggi, memerlukan kecepatan rana yang lebih cepat karena ukuran piksel yang kecil lebih sensitif dalam mendeteksi getaran.

      Kalau teori ini benar, maka kamera yang berukuran 15 megapiksel akan lebih rawan blur daripada kamera yang berukuran 6 megapiksel.Cara mencegah supaya foto tidak blur:

      Ada juga teknologi dalam kamera maupun lensa yang ditujukan untuk mencegah blur. Jenis teknologi ini terbagi atas dua kategori. Yang pertama dibuat dalam kamera, satunya lagi didalam lensa.

      Namanya pun bervariasi. Antara lain yaitu Image Stabilization (IS) atau Vibration Reduction (VR), Steady Shot (SS), Shake Reduction (SR) Mega OIS, Optical Stabilization (OS) and Vibration Compensation (VC). Semuanya berfungsi sama hanya istilahnya berbeda. Teknologi ini bisa membantu Anda tapi tidak bisa membantu secara total.

      IS -> kependekan dari “Image Stabilizer”. Teknologi peredam getar pada lensa yang memungkinkan lensa menstabilkan getaran tangan yang bisa menyebabkan foto shaking. Kemampuan IS biasanya diukur dengan stop rating, di mana semakin tinggi angka ratingnya, semakin baik kemampuan IS lensa tersebut dalam menstabilkan getaran.

      Misalnya yang tadinya Anda harus mengunakan speed (kecepatan rana) 1/200, tapi dengan bantuan teknologi ini (Teknologi IS = Image Stabilization), Anda bisa mengunakan speed (kecepatan rana) 1/100 atau 1/60.

      Teknologi ini juga tidak bisa mencegah blur saat Anda mengambil foto orang atau benda yang bergerak cepat.

      Hal lain yang bisa digunakan untuk mencegah blur antara lain yaitu teknik memegang kamera dan teknik pernafasan. Dengan menahan nafas saat mengambil gambar, dan memposisikan tubuh dengan rapat atau menyender di dinding, bisa membantu mengurangi getaran yang menghasilkan blur.

      Teknik memegang kamera adalah seperti gambar dibawah ini:

     

  6. Harga. Karena untuk membuat sensor berukuran besar mahal, dan tidak diproduksi se-massal sensor crop, maka kamera full frame juga lebih mahal banyak daripada kamera crop. Kamera baru setidaknya berharga 20-30 juta. Ada juga yang mencapai 70 juta, sedangkan kamera crop baru bisa dibeli dengan harga mulai dari sekitar 4 – 5 jutaan.
    Demikian perbedaan-perbedaan utama kamera full frame dan non-full frame. Tentunya kita bisa menemukan perbedaan-perbedaan lain seperti perbedaan fitur dan teknologi yang dipakai. Kadang teknologi yang dipakai di kamera crop frame lebih canggih daripada kamera full frame, contohnya Canon 7D dan Canon 5D mark II. Untuk menentukan kamera yang paling cocok untuk Anda, tentunya harus memahami perbedaan tersebut sehingga tidak membuang duit sia-sia.

Sumber: Hasil Kursus Fotografi di Canon School Jakarta dan http://www.infofotografi.com


FacebookTwitterGoogle+PinterestLinkedInWhatsAppLineShare/Bookmark