Jeritan Jiwa dari Kursi Roda

“Mereka bilang aku sakit jiwa !” kata Profesor tua yang masih aktif itu. Setelah kena stroke yang membuat tangan dan kaki kanannya lumpuh dan telah menjalani perawatan yang rumit selama sebulan, ia harus memakai kursi roda.

Ia selalu tampak murung, tak bersemangat, uring-uringan, semua yang melayani dianggap salah, petugas fisioterapi yang mau melatih di rumah diusirnya pergi, menolak makan dengan diet yang diatur.

Ya, siapa orangnya yang tidak sedih, merasa hancur, gelap hidupnya, putus asa, merasa tak tertolong lagi dan tak berguna bila tubuhnya yang semula lincah dan gesit, perkasa, mudah berlari atau mengendarai mobil mendadak lumpuh separuh tangan dan kaki, atau lumpuh total, tak bisa bergerak selain terlentang di tempat tidur?

Perasan-perasaan hati seperti inilah, yang bila berat dan berkepanjangan sehingga mempengaruhi fungsi-fungsi perilaku, disebut DEPRESI.

Depresi, sebagai satu kesatuan diagnostik gangguan metal, adalah Suatu keadaan jiwa dengan ciri sedih, merasa sendirian, putus asa, rendah diri, disertai perlambatan psikomotor atau kadang malah agitasi, menarik diri dari hubungan sosial dan terdapat gangguan vegetatif seperti anoreksia dan insomnia (Kapland & Sadock 1996).

Depresi biasanya didahului suatu stressor yang berupa suatu “kehilangan” (lost of love-object). Stressor ini bersifat berat, multipel, tidak normatif dan tidak diinginkan, tidak dapat dikontrol atau diramalkan oleh individu.

Stroke, selain penyakit jantung koroner (miocard infraction), kanker, dan AIDS adalah penyakit-penyakit berat yang sering menimbulkan keadaan depresi pada penderita-penderitanya. Namun, ada juga manusia yang mengalami stroke berat sehingga tidak bisa melakukan sesuatu apa pun, tapi bisa “menerima” keadaan itu, sabar, dan menganggap penderitaan itu sebagai guru. Stroke adalah gangguan akut fungsi otak yang disebabkan gangguan vaskuler (pembuluh darah) yang mengakibatkan “hendaya” yang berlangsung lebih dari 24 jam atau kematian dalam waktu 24 jam. Defisit serebral yang terjadi bisa berupa:
– hemiplegia (limpuh separo, atau
– hemiparesis (setengah lumpuh separo),
– hemihipestesia,
– hemiparestesia,
– afasia (tak bisa bicara),
– hemianpsia, atau
– kombinasi dari semuanya
itu tergantung regio pembuluh darah otak yang terkena. Setelah kena stroke, penderita bisa lumpuh, penderita menjadi tidak bisa bicara sama sekali, atau hanya bicara “ah uh” dan cadel. Penderita sering lupa dengan orang-orang yang baru mengunjunginya, atau malah tidak ingat lagi siapa yang mengunjunginya. Bila semula penderita aktif bergerak, olah raga, sekarang hanya bisa terlentang dan buang airpun terpaksa di tempat tidur. Penelitian Moestrarsi Firngadi (1987) menunjukkan bahwa derajat depresi penderita parese karena stroke lebih tinggi dibanding penderita non-stroke.

Depresi Pasca Stroke yaitu menjadi apatis, mudah marah, banyak diam, menolak makan dan minum obat, pandangan kosong, dan tidak bersemangat terhadap upaya rehabilitasi.

Penyebab terjadinya Depresi Pasca Stroke adalah faktor neuro-biologik dan faktor psikologik. Faktor neurobiologik adalah kerusakan anatomik dan vaskularisasi di otak yang menyebabkan ketidakseimbangan neurotransmiter yang langsung menyebabkan gangguan perilaku dan emosional (depresi). Sedangkan faktor psikologik adalah stressor yang bersifat “kehilangan” (loss of love-objeck). Kehilangan kegagahan, kebebasan gerak, aktivitas yang menggembirakan dan memuaskan, kemandirian, kewibawaan, daya pikir, dan ketrampilan teknis. Jadi, kondisi depresi pada penderita stroke bisa terjadi karena faktor neurobiologik, atau faktor psikologik saja, atau keduanya bersama-sama. Tentu saja bila kedua faktor berpengaruh bersama-sama, depresi akan menjadi berat bahkan bisa menjadi depresi psikotik, dengan waham dan halusinasi yang isinya rasa bersalah, rendah diri, ancaman, nihilistik, dan ide bunuh diri. Maka, wajar kiranya bila orang-orang disekitar penderita itu menganggapnya sudah “sakit jiwa”


Gambar: Utha Likumahua, penyanyi terkenal tahun 60 an, sesudah dan sebelum terkena stroke
Nampak sekali setelah stroke wajah Utha berubah

Kiat penanggulangan depresi pasca-stroke adalah sebagai berkut:

  1. Memahami (empati) terhadap perasaan dan sikap penderita
    Mendengarkan dengan sabar semua keluhan penderita.

  2. Meredakan ketegangan dan memberikan penjaminan rasa aman
    Berikan jaminan rasa aman, tak ada lagi bahaya menagncam, bisa hidup dengan tentram dan bahagia.

  3. Membantu penderita memahami diri sendiri
    Menyadarkan penderita bahwa ia sedang mengalami tekanan (stres) akibat stroke nya. Bahwa semua orang akan mengalami hal yang sama bila stroke. Membantu penderita mengantisipasi perasaannya sendiri secara positif.

  4. Mendorong penderita untuk mau dan rajin berlatih/menjalani program rehabilitasi/fisioterapi
    Keengganan dan penolan penderita depresi terhadap rehabilitasi/fisioterapi/latihan jalan dan gerak diatasi dengan dorongan-dorongan keluarga yang sabar/telaten.

  5. Mendorong penderita untuk berpikir positif/paradigma baru
    Mengubah pola pikir penderita dari mengutuk diri atau meratapi nasib dengan “positive thingking”. Bahwa semua itu kehendak Tuhan dan ada hikmahnya. Bahwa masih ada hal-hal positifyang bisa dikerjakan. Penderita menghadapi hidupnya dengan paradigma baru. Tidak menolak tapi menerima keadaan dengan ikhlas.

  6. Bila memungkinkan, sebatas kecacatannya, menyediakan sarana supaya penderita masih bisa melakukan kegiatan produktif
    Menyediakan sopir untuk mengantar penderita ke tempat kerja. Menyediakan kursi roda, ruang kerja yang nyaman di rumah. Menyediakan komputer, toko/warung, meja, reparasi elektronik., order kerjaan, dll.

  7. Mencarikan teman untuk mengatasi kesepian penderita
    Tetap sering dan rutin mengunjungi penderita. Meyakinkan bahwa penderita masih dihargai, masih punya eksistensi. Mencarikan perawat untuk membantu penderita dan menemaninya berbicara di kala sepi.

  8. Setelah pasien keluar dari RS, berikan program rehabilitasi yang community based (misalnya aktivitas sosial) dan support (menghilangkan/mencegah depresi pasca-stroke)

  9. Pemberian obat-obatan antidepresan sesuai beratnya gejala depresi
    Bila langkah-langkah no. 1-8 diatas bisa dikerjakan dengan efektif, obat antidepresan bisa diberikan dalam jangka waktu relatif pendek, antara 3 – 5 bulan. Sampai saat ini Trisiklik Antidepresan merupakan antidepresan yang paling banyak diresepkan terutama di negara berkembang karena harganya relatif murah dan efektif.

Sumber: Buku “Mereka Bilang Aku Sakit Jiwa” oleh Inu Wicaksana (psikiatri, penulis dan pembicara dalam seminar-seminar), penerbit Kanisius Yogyakarta.


FacebookTwitterGoogle+PinterestLinkedInWhatsAppLineShare/Bookmark