Anita's Personal Blog

Kegiatan Arsiparis | Komputer | Fotografi

Jalan-jalan ke Istana Maimoon Medan

Istana Maimoon, Medan
Thumbnail: Saya berfoto di depan Istana Maimoon nan cantik

Pada hari Sabtu tanggal 4 Januari 2014, kami sekeluarga jalan-jalan ke Istana Maimoon, Medan.
Mashudi Damanik Family

Thumbnail: Saya berfoto bersama suami dan anak di depan Istana Maimoon

Kesan pertama saya, istana ini cantik sekali, di dominasi warna kuning, warna rumah kerajaan Sultan Deli. Dari kejauhan terlihat dua orang gadis cantik berpakaian lengkap pengantin melayu yang bersuntingkan kembang goyang. Sungguh amat serasi, dan membuat saya penasaran untuk mengetahui lebih banyak tentang Istana Maimoon ini. Di dalam, kita akan dipandu oleh pramu wisata yang akan menjelaskan sejarahnya Istana Maimoon ini.

Putri cantik penerima tamu di Istana Maimoon
Thumbnail: Saya berfoto bersama dua orang putri cantik penerima tamu di Istana Maimoon

Istana Maimoon didirikan pada tanggal 26 Agustus 1888 oleh Sultan Ma’moen Al Rasyid (Sultan Deli ke-IX) dan menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Deli pada masa itu. Didesain oleh arsitek Italia. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan.

Dengan usia 100 tahun lebih, Istana Maimoon sudah menjadi Cagar Budaya oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan SK No. PM01/PW.007/MKP/2010 Menteri Pariwisata dan Kebudayaan.

Istana Maimun adalah salah satu dari ikon kota Medan, Sumatera Utara, terletak di kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan.

Istana Maimun menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia.

Wisatawan Asing di Istana Maimoon
Thumbnail: Ketika saya berkunjung, ramai sekali terlihat wisatawan asing

Masuk ke Istana Maimoon ini kita dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp. 5000 per orang.

Didalam banyak dijual berbagai macam souvenir. Gantungan kunci nan cantik berbentuk wajah anak gadis dengan rambut panjang berekor kuda. harganya cukup murah yaitu Rp. 10.000 perbuah. Harga kaos nya yang sangat mahal, yaitu Rp. 150.000, sehingga saya tak jadi membelinya, padahal saya tadinya ingin sekali membelinya sebagai kenang-kenangan :-) .

Cinderamata Istana Maimoon
Thumbnail: Cinderamata Istana Maimoon

Langit-langit dan lampu hiasnya masih asli, berasal dari Italia. Ornamen langit2nya serasi dengan lantainya (sayang sekali saya lupa mengabadikan gambar lantainya).

IMG_2642_diputar Interior Istana Maimoon, Medan
Thumbnail: Langit-langit dan lampu hiasnya

Di dalam ada balairung tempat Sultan Deli duduk kalau sedang mengadakan upacara adat.

IMG_2645
Thumbnail: Saya berfoto di depan balairung Sultan Deli, yang seluruhnya berwarna kuning keemasan

Peta Kebangsawanan di Kesultanan Deli
Thumbnail: Bentuk payung perlambangan bangsawan di Istana Maimoon

Disamping depan Istana Maimoon ada potongan kanon yang dikeramatkan, yang disimpan di dalam sebuah rumah kayu kecil.

Rumah kecil tempat potongan kanon disimpan dekat Istana Maimoon

Menurut sebuah legenda Melayu Deli, potongan kanon ini ada penjelmaan dari Mambang Khayali, adik laki-laki dari Putri Hijau dari Kerajaan Deli Tua, yang merubah dirinya menjadi sebuah kanon sebagai usaha terakhirnya untuk mempertahankan Istana dari serbuan Raja Aceh yang merasa sangat kecewa dan marah karena lamarannya ditolak oleh Putri Hijau.

Kanon itu terus memuntahkan peluru tanpa henti yang membuat larasnya menjadi sangat panas dan akhirnya pecah menjadi dua bagian. Bagian ujung kanon mencelat terbang ke angkasa dan mendarat di Kampung Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Tanah Karo.

Keturunan Sultan Melayu Deli ini sampai sekarang masih ada, masih berumur 15 tahun. Sultan Deli ke-XIV ini bernama Tuanku Mahmud Lamandjidji Perkasa Alam. Gelar yang didapatnya karena sang ayahanda yang merupakan Sultan Deli XIII Tuanku Tito Othman Mahmud Padrap yang juga merupakan anggota militer, meninggal dalam kecelakaan pesawat yang terjadi 2005 yang lalu.

Dan sejak saat itu, gelar yang jatuh secara turun temurun ini disandangnya. “Karena saya anak tertua dari ayah saya karena itu saya saya yang mendapat gelar ini,” papar remaja yang lahir di Makassar 29 Agustus 1998 yang lalu ini.

Sepeninggal sang ayah, sultan yang akrab disapa Jiji ini pun dibawa sang bunda untuk menatap di tanah kelahiran sang bunda, yaitu Makassar .

Selain memiliki darah ningrat dari Kesultanan Deli, di tubuh Jiji juga mengalir darah ningrat yang dialiri dari sang bunda Ir Hj Siska Marabintang yang merupakan keturunan petinggi di Sulawesi Selatan. Karena itu, selain belajar dan memperdalam budaya Melayu, Jiji beserta sang adik Tuanku Zulkarni Othman Mahmud Mangendar Alam juga belajar kebudayaan Makassar.

Sultan Deli XIV Tuanku Mahmud Lamandjidji Perkasa Alam
Sultan Deli XIV, Tuanku Mahmud Lamandjidji Perkasa Alam (Sumber foto ini: sumutpos.co)

Copyright © Anita Handayani


6 Comments

  1. Asyiknya berjalan-jalan ke tempat sejarah..

  2. Keren…penerima tamu y pake baju adatnya ya…

  3. Ya benar. Tadinya ku kira ada yang pesta perkawinan. Eh gak taunya itu petugasnya yang setiap hari pakai baju adat.

  4. Ya benar asyik, makanya kita orang Indonesia harus melestarikan peninggalan sejarah ini. Saya lihat di dalam lebih banyak turis asing.

  5. Kita orang Indonesia harus melestarikan peninggalan sejarah ini. Saya lihat di dalam lebih banyak turis asing.

  6. Jawaban buat Adam: Benar sekali kita harus melestarikan peninggalan sejarah, jangan sampai hanya turis asing yang lebih banyak mengunjungi Istana Maimoon

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*