Anita's Personal Blog

Kegiatan Arsiparis | Komputer | Fotografi

Gangguan Penyakit Kejiwaan Skizofrenia

GANGGUAN PENYAKIT KEJIWAAN SKIZOFRENIA

Gangguan Skizofrenia

schizophrenia

Schizophrenia

SKIZOFRENIA

Skema Titik-titik syaraf di kepala yang terganggu sehingga menyebabkan SKIZOFRENIA

Respon Rentang Gangguan Skizofernia

Skema Respon Rentang Gangguan Skizofernia

Skema Masalah Skizofernia

Skema Masalah Skizofernia

Ada 2 (dua) orang temanku terkena penyakit ini.  Sungguh sedih saya melihatnya, karena teman saya ini harus selalu ke dokter dan meminum obat.  Karenanya saya tertarik untuk menulis tentang Gangguan Skizofrenia ini dengan mencari di berbagai sumber, semoga bermanfaat. 

A. Pengertian

Skizofrenia adalah satu istilah untuk beberapa gangguan yang ditandai dengan kekacauan kepribadian, distorsi terhadap realitas, ketidakmampuan untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari (Atkinson Dkk.,1992), perasaan dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya, waham atau delusi, dan gangguan persepsi (PPDGJ, 1983).

Umumnya gangguan ini muncul pada usia yang sangat muda, dan memuncak pada usia antara 25-35 tahun. Gangguan yang muncul dapat terjadi secara lambat atau datang secara tiba-tiba pada penderita yang cenderung suka menyendiri yang mengalami stres (Atkinson Dkk., 1992).

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai gangguan mental mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri.

Penyakit skizofrenia bisa diidap siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.

Skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan mental, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater.

B. Ciri-ciri Skizofrenia

Ciri utama penderita Skizofrenia:
1. Kekacauan Pikiran dan Perhatian
2. Kekacauan Persepsi
3. Kekacauan Afektif
4. Penarikan Diri dari Realita
5. Delusi dan Halusinasi

Add 1. Kekacauan Pikiran dan Perhatian
Menurut Atkinson Dkk. (1992) kekacauan di sini merupakan kesulitan umum untuk menyaring stimulus yang relevan. Pada penderita skizofrenia jika ia menghadapi banyak stimulus pada waktu yang bersamaan, maka ia sulit untuk mengambil makna dan menyeleksi masukan-masukan yang beragam tersebut. Ketidakmampuan menyaring stimulus ini ditandai dengan pembicaraan yang tidak berujung pangkal.

Add 2. Kekacauan Persepsi
Pada penderita skizofrenia akut seringkali mengalami bahwa dunia tampak berbeda baginya. Suara terdengar lebih keras, warna terlihat lebih mencolok, dan tubuhnya terlihat tidak sama. Beberapa penderita sudah tidak dapat mengenali dirinya sendiri di dalam cermin atau melihat bayangannya sendiri seperti bayangan rangkap tiga (Atkinson., 1992).

Add 3. Kekacauan Afektif
Penderita skizofrenia pada umumnya tidak dapat memberikan respons emosional yang normal dan wajar. Kadang –kadang mereka mengungkapkan perasaan yang tidak sesuai dengan situasi atau pikiran yang diungkapkan.

Add 4. Penarikan Diri dari Realita
Penderita skizofrenia cenderung menarik diri dari pergaulan dengan orang lain dan cenderung asyik dengan dunianya sendiri. Keasyikan dengan diri sendiri tersebut seringkali disebut dengan autisme. Penarikan diri dari realita ini pada penderita akut dapat bersifat sementara. Sedangkan pada penderita kronis, penarikan diri dapat bertahan dan berkembang sedemikian rupa, sehingga penderita menjadi tidak responsif pada peristiwa eksternal, tetap diam dan tidak bergerak selama berhari-hari, serta harus dirawat seperti bayi.

Add 5. Delusi dan Halusinasi
Delusi adalah suatu perasaan keyakinan atau kepercayaan yang keliru, yang tidak dapat diubah lewat penalaran atau dengan disajikannya fakta-fakta. Delusi yang sifatnya menetap dan sistematis akan berakibat menjadi abnormal.

C. Gejala Skizofrenia

Gejala skizofrenia dibagi menjadi dua kategori, yaitu negatif dan positif. Gejala negatif skizofrenia menggambarkan hilangnya sifat dan kemampuan tertentu yang biasanya ada di dalam diri orang yang normal. Sebagai contoh:

  • Keengganan untuk bersosialisasi dan tidak nyaman berada dekat dengan orang lain sehingga lebih memilih untuk berdiam di rumah.
  • Kehilangan konsentrasi.
  • Pola tidur yang berubah.
  • Kehilangan minat dan motivasi dalam segala aspek hidup, termasuk minat dalam menjalin hubungan

Perubahan pola tidur, sikap tidak responsif terhadap keadaan, dan kecenderungan untuk mengucilkan diri merupakan gejala-gejala awal skizofrenia. Terkadang gejala tersebut sulit dikenali orang lain karena biasanya berkembang di masa remaja sehingga orang lain hanya menganggapnya sebagai fase remaja.

Ketika penderita sedang mengalami gejala negatif, dia akan terlihat apatis dan datar secara emosi (misalnya bicara monoton tanpa intonasi, bicara tanpa ekspresi wajah, dan tidak melakukan kontak mata). Mereka juga menjadi tidak peduli terhadap penampilan dan kebersihan diri, serta makin menarik diri dari pergaulan. Sikap tidak peduli akan penampilan dan apatis tersebut bisa disalahartikan orang lain sebagai sikap malas dan tidak sopan. Hal ini sering kali memicu rusaknya hubungan penderita dengan keluarga ataupun dengan teman-temannya.

Gejala negatif skizofrenia bisa berlangsung beberapa tahun sebelum penderita mengalami episode akut pertama, yaitu ketika gejala menjadi parah dan kadang-kadang diikuti beberapa gejala positif.

Gejala positif skizofrenia terdiri dari:

  1. Halusinasi. Terjadi pada saat panca indera seseorang terangsang oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Fenomena halusinasi terasa sangat nyata bagi penderita. Contoh gejala halusinasi yang biasanya dialami oleh penderita skizofrenia adalah mendengar suara-suara.
  2. Delusi. Yaitu kepercayaan kuat yang tidak didasari logika atau kenyataan yang sebenarnya.
    Contoh gejala delusi bisa bermacam-macam. Ada penderita yang merasa diawasi, diikuti, atau khawatir disakiti oleh orang lain. Ada juga yang merasa mendapat pesan rahasia dari tayangan televisi. Gejala-gejala delusi semacam ini bisa berdampak kepada perilaku penderita skizofrenia.
  3. Pikiran kacau dan perubahan perilaku. Penderita sulit berkonsentrasi dan pikirannya seperti melayang-layang tidak tentu arah sehingga kata-kata mereka menjadi membingungkan. Penderita juga bisa merasa kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Perilaku penderita skizofrenia juga menjadi tidak terduga dan bahkan di luar normal. Misalnya, mereka menjadi sangat gelisah atau mulai berteriak-teriak dan memaki tanpa alasan.

D. Penyebab skizofrenia

Sebenarnya para ahli belum mengetahui apa yang menjadi penyebab skizofrenia secara pasti. Kondisi ini diduga berisiko terbentuk oleh kombinasi dari faktor psikologis, fisik, genetik, dan lingkungan.

Sebenarnya penyebab penyakit skizofrenia belum diketahui secara pasti oleh para ahli kesehatan. Namun ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh dalam pembentukan kondisi ini, di antaranya:

  1. Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamine (zat neurotransmiter yang bertugas membawa pesan antar sel-sel otak).
  2. Bentuk struktur otak dan sistem saraf pusat yang tidak normal.
  3. Genetik yang diturunkan dari orangtua (penyakit keturunan).
  4. Kekurangan oksigen, kekurangan nutrisi, dan terpapar racun atau virus saat masih di dalam kandungan ibu.
  5. Lahir prematur dan lahir dengan berat badan di bawah normal.
  6. Peningkatan aktivasi pada sistem kekebalan tubuh akibat penyakit autoimun dan peradangan.
  7. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seperti amfetamin, kokain, dan ganja.Tiga penelitian besar menunjukkan bahwa remaja pecandu ganja yang masih berusia di bawah 15 tahun memiliki risiko empat kali lipat untuk terkena skizofrenia sebelum usia 26 tahun dibandingkan remaja seumuran yang tidak memakai ganja. Di lain sisi, penggunaan kokain dan amfetamin bisa menyebabkan kumatnya gejala skizofrenia pada penderita yang sudah sembuh dan memicu gejala psikosis. Psikosis bisa dikenali dari perubahan drastis pada perilaku penderita skizofrenia, misalnya tiba-tiba bingung, cemas, marah, atau curiga pada orang-orang di sekitar.

E. Pemicu Skizofrenia

Yang dimaksud pemicu di sini adalah sesuatu yang dapat memunculkan gejala skizofrenia pada orang-orang yang berisiko terkena skizofrenia akibat faktor-faktor pembentuk kondisi seperti yang sudah disebutkan di atas. Pada kasus skizofrenia, stres merupakan pemicu utama. Banyak hal yang dapat menjadikan seseorang mengalami stres, di antaranya karena kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, kehilangan orang yang dicintai, perceraian, pelecehan seksual, dan sebagainya.

F. Penyakit skizofrenia akan terdeteksi pada diri pasien jika:

  • Mengalami halusinasi, delusi, bicara meracau, dan terlihat datar secara emosi.
  • Mengalami penurunan secara signifikan dalam melakukan tugas sehari-hari, termasuk penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah akibat gejala-gejala di atas.
  • Gejala-gejala di atas bukan disebabkan oleh kondisi lain, seperti gangguan bipolar atau efek samping penyalahgunaan obat-obatan.

Delusi atau waham adalah suatu keyakinan yang salah karena bertentangan dengan kenyataan. Gangguan delusi merupakan salah satu jenis penyakit mental psikosis. Psikosis sendiri ditandai dengan ketidaksinambungan antara pemikiran dan emosi sehingga penderitanya kehilangan kontak dengan realitas sebenarnya.  Pada gangguan delusi, penderitanya memiliki kesadaran palsu dari pemaknaan kenyataan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Walau sudah jelas terbukti bahwa apa yang diyakini penderita berbeda dengan kenyataan, penderita tetap berpegang teguh pada pemikirannya. Penderita umumnya tidak mau membicarakan delusinya kepada orang lain karena mereka yakin bahwa apa yang menjadi delusinya merupakan sesuatu yang unik dan mungkin tidak dapat diterima atau dipahami orang lain.

Delusi adalah seseorang suka meyakini yang aneh-aneh

Delusi adalah seseorang suka meyakini yang aneh-aneh

Gangguan bipolar adalah kondisi seseorang yang mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis,misalnya tiba-tiba menjadi sangat bahagia dari yang sebelumnya murung. Nama lain dari gangguan bipolar adalah manik depresif.  Terdapat dua episode dalam gangguan bipolar, yaitu episode mania (fase naik) dan depresi (fase turun). Pada periode mania, penderita menjadi terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan bicara cepat. Sedangkan pada periode depresi, penderita akan terlihat sedih, lesu, dan hilang minat terhadap aktivitas sehari-hari.

Gangguan Bipolar

Gangguan Bipolar

Beberapa jenis delusi pada penderita skizofrenia antara lain:

  1. Delusi paranoid atau delusi persekusi adalah adanya keyakinan penderita bahwa ada orang atau kelompok tertentu mengancam atau secara diam-diam merencanakan akan melawan penderita.
  2. Waham kebesaran adalah keyakinan bahwa dirinyalah yang kuat atau yang terpenting. Halusinasi adalah persepsi atau tanggapan yang keliru atau palsu, dimana penderita menghayati gejala-gejala yang dikhayalkan sebagai hal yang nyata.

Halusinasi pada penderita skizofrenia bisa secara:

  1. Halusinasi auditoris merupakan suara-suara yang mengatakan kepada penderita tentang sesuatu yang harus dilakukannya.
  2. Halusinasi visual adalah keyakinan melihat sesuatu objek tertentu yang tidak biasa, misalnya melihat mahluk aneh atau malaikat.
  3. Halusinasi sensoris tidak banyak terjadi, misalnya keyakinan bahwa terdapat bau busuk yang terpancar dari tubuh penderita.

G. Diagnosis Skizofrenia

Seorang pasien dapat terdiagnosis menderita skizofrenia apabila dia:

  • Mengalami gejala-gejala skizofrenia (misalnya delusi, halusinasi, emosi datar, perilaku atau bicaranya aneh, dan tidak memerhatikan kebersihan diri) selama sekurang-kurangnya setengah tahun.
  • Gejala tersebut menyebabkan penurunan produktivitas kerja atau prestasi di sekolah, serta menyebabkan rusaknya hubungan dengan orang lain.
  • Gejala yang ada telah dipastikan bukan disebabkan oleh kondisi lain, seperti gangguan bipolar, gangguan skizoafektif, depresi berat, atau penyalahgunaan narkoba.

Kadang-kadang dokter kesulitan untuk mendapatkan keterangan di atas jika bertanya langsung pada penderita skizofrenia karena mereka cenderung tertutup, menyangkal, atau sama sekali tidak menyadari gejala yang ada. Untuk mengatasi hal ini, dokter perlu bertanya kepada orang-orang yang mengantar penderita berobat, misalnya keluarga atau teman.

Selain evaluasi psikologis, kadang-kadang dokter juga akan memberlakukan jenis pemeriksaan lain, seperti CT scan, MRI, dan pemeriksaan darah. Pemindaian lewat CT scan atau MRI pada kasus skizofrenia dimaksudkan untuk melihat adanya kelainan pada struktur otak dan sistem saraf pusat. Sedangkan pemeriksaan darah dilakukan untuk memastikan bahwa gejala bukan disebabkan oleh pengaruh obat-obatan, alkohol, atau kondisi kesehatan lainnya.

Depresi adalah salah satu gangguan kesehatan mental yang terjadi sedikitnya selama dua minggu atau lebih yang memengaruhi pola pikir, perasaan, suasana hati (mood) dan cara menghadapi aktivitas sehari-hari. Ketika mengalami depresi kita akan merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulunya menghibur, dan menyalahkan diri sendiri. Ketika mengalami depresi, suasana hati yang sedih bisa berlangsung hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.  Banyak orang yang menganggap depresi adalah sesuatu yang sepele dan bisa hilang dengan sendirinya, padahal sebenarnya, depresi adalah bentuk suatu penyakit yang lebih dari sekadar perubahan emosi sementara. Depresi bukanlah kondisi yang bisa diubah dengan cepat atau secara langsung. Akibat depresi, kegiatan sehari-hari seperti bersekolah atau bekerja menjadi tidak menyenangkan. Bahkan, untuk mempertahankan hubungan dengan orang lain maupun keluarga sendiri terasa begitu berat. Depresi bisa membuat Anda merasa hidup ini tidak ada gunanya, bahkan dapat memicu penderita untuk melakukan bunuh diri.  Contohnya aktor terkenal Leslie Cheung Kwok seorang penyanyi dan aktor melakukan bunuh diri pada tanggal 1 April 2003 dengan melompat dari lantai 24 hotel Mandarin Oriental di Hong Kong karena menderita depresi.

Depresi

Depresi

Gejala yang Muncul pada Penderita Depresi

Gejala dan juga pengaruh depresi berbeda-beda pada berbagai orang. Berikut ini adalah beberapa gejala psikologis yang muncul akibat depresi:

  • Kehilangan selera untuk menikmati hobi.
  • Merasa bersedih secara berkepanjangan.
  • Mudah merasa cemas.
  • Merasa hidup tidak ada harapan.
  • Mudah menangis.
  • Merasa sangat bersalah, tidak berharga, dan tidak berdaya.
  • Tidak percaya diri.
  • Menjadi sangat sensitif atau mudah marah terhadap orang di sekitar.
  • Tidak ada motivasi untuk melakukan apa pun.
  • Berpikir atau mencoba bunuh diri.

Gejala fisik akibat depresi:

  • Badan selalu merasa lelah.
  • Gangguan pada pola tidur.
  • Merasakan berbagai rasa sakit.
  • Tidak berselera untuk melakukan hubungan seksual.
  • Bergerak atau berbicara lebih lambat.
  • Merasa tidak bisa beristirahat atau kesulitan untuk duduk diam.
  • Berat badan berubah.
  • Sakit kepala.
  • Mengalami kram.
  • Gangguan pencernaan tanpa sebab fisik yang jelas.

Beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya depresi antara lain:

  • Kejadian tragis atau signifikan seperti kehilangan seseorang atau pun kehilangan pekerjaan.
  • Kehamilan dan/atau melahirkan.
  • Masalah keuangan.
  • Terisolasi secara sosial.
  • Trauma masa kecil.
  • Ketergantungan terhadap narkoba dan/atau alkohol.

Selain hal-hal di atas, beberapa kondisi medis yang berlangsung lama dan mengancam hidup juga bisa memicu depresi pada penderitanya, seperti penyakit jantung koroner, atau kanker. Kelenjar tiroid yang kurang aktif, atau cedera kepala minor yang merusak kelenjar kecil basal otak (pituitary gland) bisa menimbulkan beberapa gejala seperti sangat kelelahan dan kehilangan libido, keadaan ini yang kemudian dapat menimbulkan depresi.

Pengobatan pada Depresi

Teknik pengobatan dan perawatan depresi sangat tergantung kepada jenis dan penyebab dari depresi yang dialami. Terdapat berbagai jenis obat antidepresan yang penggunaannya diresepkan oleh dokter, dan beberapa penanganan yang bisa dilakukan sendiri.

Perubahan hidup seperti sering berolahraga dan mengurangi konsumsi minuman beralkohol dapat memberikan keuntungan bagi penderita depresi. Anda juga bisa bergabung dengan kelompok-kelompok terapi untuk berbagi cerita dan saling memberi dukungan.

Mewaspadai Sistem Saraf Tubuh yang Rusak

Mewaspadai Sistem Saraf Tubuh yang Rusak

Mewaspadai Sistem Saraf Tubuh Yang Rusak

Otak merupakan organ pusat yang mengatur segala interaksi yang terjadi pada tubuh. Namun, kinerjanya tidak akan maksimal tanpa bantuan sistem saraf.

Sistem saraf bertugas mengantarkan pesan dari seluruh bagian tubuh ke otak dan sebaliknya. Sebagai contoh, otak mendapat pesan dari salah satu anggota tubuh, misal tangan yang sakit akibat menyentuh panci panas. Kemudian, saraf-saraf pada kulit tangan mengirim pesan berupa rasa sakit tersebut ke otak. Setelah itu, otak mengirim pesan kembali ke otot-otot untuk menarik tangan dari panci tersebut.

Tubuh memiliki miliaran saraf-saraf yang tersebar di seluruh bagian tubuh. Saraf-saraf tersebut dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu:

  1. Saraf sensorik. Berkat saraf ini Anda bisa merasakan segala sensasi yang terjadi pada tubuh seperti rasa sakit ketika kulit dicubit, atau merasakan manisnya permen, pedasnya cabai, atau pahitnya obat.
  2. Saraf motorik. Anda bisa mengontrol anggota tubuh untuk bergerak karena bantuan saraf ini.
  3. Saraf autonomik. Saraf ini mengontrol aktivitas yang terjadi tanpa kita sadari pada tubuh seperti tekanan darah, pencernaan, detak jantung, dan suhu tubuh.

Sayangnya, sistem saraf bisa mengalami kerusakan atau gangguan. Kerusakan pada sistem saraf walau sifatnya ringan, tetap saja bisa memengaruhi kualitas hidup Anda, mengingat betapa pentingnya saraf-saraf ini.
Ini beberapa kemungkinan yang dapat terjadi jika sistem saraf rusak:

  1. Saraf sensorik. Gejala-gejala yang mungkin bisa Anda alami jika saraf ini rusak yaitu mati rasa, kesemutan, kulit seperti terbakar, tubuh nyeri, atau lebih sensitif, serta gangguan kesadaran akan posisi tubuh.
  2. Saraf motorik. Rusaknya saraf ini mungkin dapat membuat badan lemas, otot mengecil, paralisis (Anda tidak bisa menggerakkan bagian tertentu otot tubuh), atau kedutan.
  3. Saraf autonomik. Yang mungkin bisa Anda alami jika saraf ini rusak antara lain mata kering, konstipasi, keringat berlebih, mulut kering, pusing, tidak mampu merasakan sakit pada dada, gangguan pada kandung kemih, atau disfungsi seksual.

Penyebab Rusaknya Sistem Saraf

Ada banyak kondisi yang bisa membuat sistem saraf rusak. Hal ini berkaitan dengan masalah kesehatan yang Anda alami seperti:

  • Diabetes.
  • Kekurangan vitamin.
  • Gangguan elektrolit.
  • Kecanduan minuman beralkohol atau narkoba.
  • Gangguan suplai darah.
  • Pernah mengalami cedera pada kepala dan tulang belakang.
  • Terekspos zat-zat beracun seperti karbon monoksida atau arsenik.
  • Infeksi pada otak.
  • Parkinson.
  • Alzheimer.
  • Tumor otak.
  • Gangguan mental seperti depresi.
  • Gagal ginjal
  • Gagal hati.
  • Gagal jantung.
  • Stroke.
  • Kerusakan pada sist

Jika Anda mengalaminya, Anda bisa mengurangi ketidaknyamanan tersebut dengan tidur yang cukup dan berkualitas. Pastikan Anda tidur pada jam yang konsisten. Rutin berolahraga juga bisa membantu. Tidak perlu melakukan olahraga yang berat, cukup berjalan kaki tiap hari mungkin bisa menutrisi saraf-saraf yang telah rusak.

Penanganan melalui terapi psikologis

Setelah gejala skizofrenia reda, penderita membutuhkan terapi psikologis di samping harus tetap melanjutkan konsumsi obat. Di dalam terapi psikologis, penderita akan diajari cara mengatasi stres dan mengendalikan penyakit mereka melalui identifikasi tanda-tanda kambuh. Selain itu, penderita juga akan diajari cara meningkatkan kemampuan komunikasi agar bisa tetap berinteraksi secara sosial. Terapi ini juga bermanfaat untuk kembali mengembangkan kemampuan penderita dalam bekerja.

Terapi psikologis tidak hanya diperuntukkan bagi penderita. Ahli terapi juga perlu memberikan edukasi pada keluarga penderita tentang cara menghadapi skizofrenia.

Konstipasi atau Sembelit atau Stomach Illness

Konstipasi atau Sembelit atau Stomach Illness

Konstipasi atau sembelit adalah kondisi sulit buang air besar secara teratur, tidak bisa benar-benar tuntas, atau tidak bisa sama sekali. Secara umum, seseorang bisa dianggap mengalami konstipasi apabila buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu.

Penyebab dan Faktor Risiko Konstipasi

Konstipasi atau sembelit merupakan penyakit yang sangat umum dan bisa diderita oleh siapa saja. Meski demikian, penyakit ini dua kali lebih banyak dialami oleh wanita daripada pria, terutama pada masa kehamilan. Lansia juga termasuk kelompok orang yang lebih sering mengalaminya.

Penyebab konstipasi pada seseorang bisa lebih dari satu faktor. Misalnya, kurang minum, kurang konsumsi serat, perubahan pola makan, serta kebiasaan mengabaikan keinginan untuk buang air besar, efek samping obat-obatan, dan gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.

Sementara pada anak-anak, pola makan yang buruk, rasa cemas saat menggunakan toilet, dan masalah saat latihan menggunakan toilet bisa menjadi penyebab konstipasi.

Langkah Pengobatan Konstipasi

Perubahan pola makan dan gaya hidup merupakan langkah utama dalam mengobati konstipasi. Langkah-langkah tersebut meliputi:

  • Meningkatkan konsumsi serat per hari secara bertahap.
  • Mengonsumsi lebih banyak air putih.
  • Lebih sering berolahraga.

Pencegahan dan Komplikasi Konstipasi

Di samping mengubah pola makan dan gaya hidup, Anda juga bisa mengurangi risiko konstipasi dengan tidak mengabaikan keinginan untuk ke toilet dan mengatur jadwal buang air besar agar bisa dilakukan dengan leluasa dan nyaman.
Konstipasi jarang menyebabkan komplikasi. Namun jika dialami dalam jangka panjang, konstipasi dapat menyebabkan hemoroid atau wasir, impaksi feses (menumpuknya tinja kering dan keras di rektum), sobeknya kulit pada anus, serta prolaps rektum (sebagian usus yang mencuat keluar dari anus akibat mengejan).

Gejala Konstipasi

Gejala utama konstipasi adalah kesulitan buang air besar dengan frekuensi yang lebih jarang dari biasanya (kurang dari tiga kali dalam seminggu). Sementara sejumlah tanda-tanda umum yang menyertai gejala utama meliputi:

  • Harus mengejan saat buang air besar.
  • Proses buang air besar terasa tidak tuntas.
  • Tinja terlihat kering, keras, atau bergumpal.
  • Ukuran tinja bisa besar atau sangat kecil.
  • Terasa ada yang mengganjal pada rektum.
  • Sakit dan kram perut, terutama pada perut bagian bawah.
  • Perut terasa kembung.
  • Mual.
  • Tidak nafsu makan.

Periksakan diri ke dokter apabila Anda mengalami gejala konstipasi disertai kelelahan, penurunan berat badan tanpa alasan jelas, mual, muntah, serta pendarahan pada rektum.

Konstipasi juga sering dialami oleh bayi dan anak-anak dengan gejala yang mirip dengan orang dewasa. Tetapi ada beberapa gejala lain yang mungkin akan dialami oleh anak-anak dan bayi, seperti sering mengeluarkan bercak-bercak di celana karena tinja yang menumpuk di rektum, tinja atau kentut berbau busuk, serta cenderung terlihat lemas, rewel atau murung.

Penyebab Konstipasi

Konstipasi umumnya terjadi ketika tinja bergerak terlalu lamban dalam sistem pencernaan. Akibat banyak sisa-sisa makanan yang tertinggal terlalu lama, kolon atau usus besar akan menyerap air makin banyak, sehingga membuat tinja menjadi keras dan kering.

Penyakit ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang terkadang terjadi secara bersamaan. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi:

  1. Pola makan yang buruk, misalnya kurang mengonsumsi serat atau kurang minum.
  2. Kurang aktif dan jarang melakukan olahraga.
  3. Mengabaikan keinginan untuk buang air besar.
  4. Rasa tidak leluasa saat menggunakan toilet.
  5. Kekurangan atau kelebihan berat badan.
  6. Gangguan mental, seperti kecemasan atau depresi.
  7. Penyakit atau kondisi medis lain, misalnya diabetes, prolaps rektum, penyumbatan atau penyempitan usus, kanker usus besar, stroke, penyakit Parkinson, cedera saraf tulang belakang, hipotiroidisme, serta hipertiroidisme.
  8. Efek samping obat-obatan tertentu, contohnya suplemen kalsium, suplemen zat besi, antasida yang mengandung aluminium, obat diuretik, analgesik yang mengandung opium (seperti kodein dan morfin), antidepresan, antiepileptik untuk pengobatan epilepsi, serta antipsikotik untuk pengobatan skizofrenia dan penyakit kejiwaan lainnya. Jika penyebabnya memang obat, konstipasi biasanya akan reda saat Anda berhenti meminum obat tersebut.

Konstipasi dan Kehamilan

Konstipasi juga sering dialami oleh ibu hamil pada masa awal kehamilan karena tubuh mereka memproduksi lebih banyak hormon progesteron wanita. Peningkatan hormon yang berfungsi sebagai pelemas otot ini membuat otot usus sulit berkontraksi dan mendorong kotoran keluar.

Pengobatan Konstipasi

Langkah penanganan konstipasi bertujuan untuk melancarkan pencernaan agar pengidap dapat buang air besar secara teratur (setidaknya sekali dalam 2-3 hari dan tanpa mengejan).Penanganan pertama untuk konstipasi yang sering dianjurkan adalah memperbaiki pola makan dan gaya hidup, terutama peningkatan konsumsi serat. Tingkat kecukupan serat yang terkandung di dalam asupan makanan, seperti buah, sayur, serta gandum, akan berdampak pada kelancaran sistem pencernaan.

Selain serat, ada juga beberapa langkah lain yang berguna dalam melancarkan sistem pencernaan tubuh kita. Langkah-langkah sederhana tersebut adalah:

  • Memperbanyak konsumsi air putih sehingga terhindar dari dehidrasi.
  • Hindari kafein karena dapat memicu dehidrasi.
  • Meningkatkan frekuensi olahraga, misalnya lari pagi atau sore tiap hari.
  • Jangan mengabaikan keinginan untuk buang air besar.
  • Coba letakkan lutut Anda pada posisi lebih tinggi dari pinggul pada saat buang air besar, misalnya saat duduk di toilet gunakan bangku kecil untuk meletakkan kaki.

Penanganan dengan Obat Pencahar

Apabila langkah penanganan awal kurang efektif, dokter umumnya akan menganjurkan penggunaan obat pencahar. Harap diingat bahwa selama menggunakan obat ini, Anda atau anak Anda disarankan mengonsumsi banyak air putih untuk menghindari dehidrasi.

H. Pengobatan Skizofrenia

Dalam menangani skizofrenia, dokter akan mengombinasikan obat-obatan dengan terapi psikologis. Obat yang biasa diresepkan dalam kasus ini adalah antipsikotik. Antipsikotik bekerja dengan cara memengaruhi zat neurotransmiter di dalam otak (serotonoin dan dopamine). Pada penderita skizofrenia, obat ini bisa menurunkan agitasi dan rasa cemas, menurunkan atau mencegah halusinasi dan delusi, serta membantu menjaga kemampuan berpikir dan mengingat.

Antipsikotik digunakan dalam dua cara, yaitu oral (umumnya bentuk pil) dan suntik. Pada pasien yang mudah diatur, dokter biasanya akan memberikan pil antipsikotik. Namun sebaliknya, pada pasien yang menolak diberikan obat, terpaksa harus disuntik. Untuk menenangkan pasien yang mengalami agitasi, dokter biasanya akan memberikan benzodiazepine terlebih dahulu sebelum menyuntikkan antipsikotik.

Ada dua kelompok obat-obatan antipsikotik, yaitu antipsikotik generasi lama (misalnya fluphenazine, perphenazine, chlorpromazine, dan haloperidol) dan generasi baru (misalnya clozapine, ziprasidone, quetiapine, olanzapine, risperidone, aripiprazole, dan paliperidone)

Efek samping yang ada pada kedua kelompok antipsikotik ini adalah peningkatan berat badan, sembelit, mengantuk, pandangan kabur, mulut kering, dan berkurangnya gairah seks. Sedangkan efek samping yang hanya ada pada antipsikotik generasi lama adalah otot terasa berkedut, badan gemetar, dan kejang otot.

Saat ini, antipsikotik generasi baru merupakan obat yang paling sering direkomendasikan oleh dokter karena terbukti memiliki risiko efek samping yang lebih rendah.

Bagi penderita skizofrenia yang telah melewati episode akut, pemberian antipsikotik harus tetap dilakukan selama 1-2 tahun untuk mencegah kambuh. Namun selama periode akut belum reda, biasanya dokter akan menyarankan perawatan di rumah sakit jiwa agar kebersihan, nutrisi, kebutuhan istirahat, dan keamanan penderita terjamin.

1. Terapi Somatik (Medikamentosa)

Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut antipsikotik.

Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia. Pasien mungkin dapat mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat atau kombinasi obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi pasien. Antipsikotik pertama diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan terapi obat-obatan pertama yang efekitif untuk mengobati Skizofrenia. Terdapat 3 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu antipsikotik konvensional, newer atypical antipsycotics, dan Clozaril (Clozapine)

  1. Antipsikotik Konvensional
    Obat antipsikotik yang paling lama penggunannya disebut antipsikotik konvensional. Walaupun sangat efektif, antipsikotik konvensional sering menimbulkan efek samping yang serius. Contoh obat antipsikotik konvensional antara lain :
    1. Haldol (haloperidol)
    2. Mellaril (thioridazine)
    3. Navane (thiothixene)
    4. Prolixin (fluphenazine)
    5. Stelazine ( trifluoperazine)
    6. Thorazine ( chlorpromazine)
    7. Trilafon (perphenazine)
    Akibat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh antipsikotik konvensional, banyak ahli lebih merekomendasikan penggunaan newer atypical antipsycotic.
    Ada 2 pengecualian (harus dengan antipsikotok konvensional).
    Pertama, pada pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek samping yang berarti. Biasanya para ahli merekomendasikan untuk meneruskan pemakaian antipskotik konvensional.
    Kedua, bila pasien mengalami kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol dapat diberikan dalam jangka waktu yang lama (long acting) dengan interval 2-4 minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot formulation, obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh lalu dilepaskan secara perlahan-lahan. Sistem depot formulation ini tidak dapat digunakan pada newer atypic antipsychotic.
  2. Newer Atypcal Antipsycotic
    Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena prinsip kerjanya berbda, serta sedikit menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan antipsikotik konvensional. Beberapa contoh newer atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain :
    · Risperdal (risperidone)
    · Seroquel (quetiapine)
    · Zyprexa (olanzopine)
  3. Clozaril
    Clozaril mulai diperkenalkan tahun 1990, merupakan antipsikotik atipikal yang pertama. Clozaril dapat membantu ± 25-50% pasien yang tidak merespon (berhasil) dengan antipsikotik konvensional. Sangat disayangkan, Clozaril memiliki efek samping yang jarang tapi sangat serius dimana pada kasus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat menurunkan jumlah sel darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Ini artinya, pasien yang mendapat Clozaril harus memeriksakan kadar sel darah putihnya secara reguler. Para ahli merekomendaskan penggunaan. Clozaril bila paling sedikit 2 dari obat antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil.

Sediaan Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran

No. Nama Generik Sediaan

Dosis

1. Klorpromazin (CPZ) Tablet, 25 dan 100 mg, Injeksi 25 mg/ml 150 – 600 mg/hari
2. Haloperidol (HLP) Tablet, 0,5 mg, 1,5 mg, 5 mg, Injeksi 5 mg/ml 5 – 15 mg/hari
3. Perfenazin Tablet 2, 4, 8 mg 12 – 24 mg/hari
4. Flufenazin Tablet 2,5 mg, 5 mg 10 – 15 mg/hari
5. Flufenazin dekanoat Inj 25 mg/ml 25 mg/2-4 minggu
6. Levomeprazin Tablet 25 mg, Injeksi 25 mg/ml 25 – 50 mg/hari
7. Trifluperazin Tablet 1 mg dan 5 mg 10 – 15 mg/hari
8. Tioridazin Tablet 50 dan 100 mg 150 – 600 mg/hari
9. Sulpirid Tablet 200 mg 300 – 600 mg/hari
10. Pimozid Tablet 1 dan 4 mg 1 – 4 mg/hari
11. Risperidon Tablet 1, 2, 3 mg 2 – 6 mg/hari

Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama

Newer atypical antipsycoic merupakn terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia episode pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena tardive dyskinesia lebih rendah. Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat untuk mulai bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat gagal dan diganti dengan obat lain, para ahli biasanya akan mencoba memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril)

Pemilihan Obat untuk keadaan Relaps (kambuh)

Biasanya timbul bila penderita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat. Terkadang penderita berhenti minum obat karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat menurunkan dosis menambah obat untuk efek sampingnya, atau mengganti dengan obat lain yang efek sampingnya lebih rendah. Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu. Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya. Terkadang pasien dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya dengan obat obatan yang lain, misalnya antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan newer atipycal antipsycotic atau newer atipycal antipsycotic diganti dengan antipsikotik atipikal lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi dengan obat-obatan diatas gagal.

Pengobatan Selama fase Penyembuhan

Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun setelah sembuh. Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5 pasien yang behenti minum obat setelah episode petama Skizofrenia dapat kambuh. Para ahli merekomendasikan pasien-pasien Skizofrenia episode pertama tetap mendapat obat antipskotik selama 12-24 bulan sebelum mencoba menurunkan dosisnya. Pasien yang mendertia Skizofrenia lebih dari satu episode, atau balum sembuh total pada episode pertama membutuhkan pengobatan yang lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab tersering kekambuhan dan makin beratnya penyakit.

Efek Samping Obat-obat Antipsikotik

Karena penderita Skizofrenia memakan obat dalam jangka waktu yang lama, sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek samping yang timbul. Mungkin masalah terbesar dan tersering bagi penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional gangguan (kekakuan) pergerakan otot-otot yang disebut juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Dalam hal ini pergerakan menjadi lebih lambat dan kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus bergerak (berjalan) setiap waktu, dan akhirnya mereka tidak dapat beristirahat.

Efek samping lain yang dapat timbul adalah tremor pada tangan dan kaki. Kadang-kadang dokter dapat memberikan obat antikolinergik (biasanya benztropine) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mencegah atau mengobati efek samping ini.

Efek samping lain yang dapat timbul adalah tardive dyskinesia dimana terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat dikontrol, protruding tongue, dan facial grimace.

Kemungkinan terjadinya efek samping ini dapat dikurangi dengan menggunakan dosis efektif terendah dari obat antipsikotik. Apabila penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional mengalami tardive dyskinesia, dokter biasanya akan mengganti antipsikotik konvensional dengan antipsikotik atipikal.

Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual, sehingga banyak penderita yang menghentikan sendiri pemakaian obat-obatan tersebut. Untuk mengatasinya biasanya dokter akan menggunakan dosis efektif terendah atau mengganti dengan newer atypical antipsycotic yang efek sampingnya lebih sedikit. Peningkatan berat badan juga sering terjadi pada penderita Sikzofrenia yang memakan obat. Hal ini sering terjadi pada penderita yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet dan olah raga dapat membantu mengatasi masalah ini.

Efek samping lain yang jarang terjadi adalah neuroleptic malignant syndrome, dimana timbul derajat kaku dan termor yang sangat berat yang juga dapat menimbulkan komplikasi berupa demam penyakit-penyakit lain. Gejala-gejala ini membutuhkan penanganan yang segera.

2. Terapi Psikososial

Terapi Psikososial terdiri dari:

  1. Terapi perilaku
    Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan ketrampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa dan pas jalan di rumah sakit. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif atau menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat, dan postur tubuh aneh dapat diturunkan.

  2. Terapi berorintasi-keluarga
    Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluraga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofreniadan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya. Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan relaps. Didalam penelitian terkontrol, penurunan angka relaps adalah dramatik. Angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 % dan 5 – 10 % dengan terapi keluarga.

  3. Terapi kelompok
    Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.

  4. Psikoterapi individual
    Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi alah membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia adalah perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien sebagai aman. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak emosional antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh pasien. Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien non-psikotik. Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan; pasien skizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.

3. Perawatan di Rumah Sakit (Hospitalization)

Indikasi utama perawatan rumah sakit adalah untuk tujuan diagnostik, menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh, prilaku yang sangat kacau termasuk ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar.

Tujuan utama perawatan dirumah sakit yang harus ditegakkan adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung masyarakat. Rehabilitasi dan penyesuaian yang dilakukan pada perawatan rumahsakit harus direncanakan.

Dokter harus juga mengajarkan pasien dan pengasuh serta keluarga pasien tentang skizofrenia. Perawatan di rumah sakit menurunkan stres pada pasien dan membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya perawatan rumah sakit tergantung dari keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas pengobatan rawat jalan. Rencana pengobatan di rumah sakit harus memiliki orientasi praktis ke arah masalah kehidupan, perawatan diri, kualitas hidup, pekerjaan, dan hubungan sosial. Perawatan di rumah sakit harus diarahkan untuk mengikat pasien dengan fasilitas perawatan termasuk keluarga pasien. Pusat perawatan dan kunjungan keluarga pasien kadang membantu pasien dalam memperbaiki kualitas hidup.

I. Status Mental

  1. Penampilan Diri
    Pasien tampak lesu, tak bergairah, rambut acak-acakan, kancing baju tidak tepat, resliting tak terkunci, baju tak diganti, baju terbalik sebagai manifestasi kemunduran kemauan pasien.
  2. Pembicaraan
    Nada suara rendah, lambat, kurang bicara, apatis.
  3.  Aktifitas Motorik
    Kegiatan yang dilakukan tidak bervariatif, kecenderungan mempertahankan pada satu posisi yang dibuatnya sendiri (katalepsia).
  4. Emosi
    Emosi dangkal
  5.  Afek
    Dangkal, tak ada ekspresi roman muka.
  6. Interaksi Selama Wawancara
    Cenderung tidak kooperatif, kontak mata kurang, tidak mau menatap lawan bicara, diam.
  7. Persepsi
    Tidak terdapat halusinasi atau waham.
  8. Proses Berfikir
    Gangguan proses berfikir jarang ditemukan.
  9. Kesadaran
    Kesadaran berubah, kemampuan mengadakan hubungan dengan dan pembatasan dengan dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada taraf tidak sesuai dengan kenyataan (secara kualitatif).
  10.  Memori
    Tidak ditemukan gangguan spesifik, orientasi tempat, waktu, orang baik.
  11. Kemampuan penilaian
    Tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan, selalu memberikan alasan meskipun alasan tidak jelas atau tidak tepat.
  12. Tilik diri
    Tak ada yang khas.

J. Kebutuhan Sehari-hari

Pada permulaan penderita kurang memperhatikan diri dan keluarganya, makin mundur dalam pekerjaan akibat kemunduran kemauan. Minat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri sangat menurun dalam hal makan, BAB/BAK, mandi, berpakaian, istirahat tidur.

Daftar Singkatan

  • TAK : Terapi Aktivitas Kelompok
  • TEK : Terapi Elektro Konvulsi
  • SP : Strategi Pelaksanaan
  • DO : Data Objektif
  • DS : Data Subjektif
  • Mg : Miligram
  • TD : Tekanan Darah
  • N : Nadi
  • S : Suhu
  • P : Pernafasan
  • Mnt : Menit
  • TB : Tinggi Badan
  • BB : Berat Badan
  • Cm : Centimeter
  • Kg : Kilogram
  • BAB : Buang Air Besar
  • BAK : Buang Air Kecil

Sumber:

  1. http://hack-zone.blogspot.com/2010/03/gangguan-skizofrenia.html
  2. http://lpkeperawatan.blogspot.co.id/2014/01/laporan-pendahuluan-skizofrenia.html
  3. http://www.alodokter.com/skizofrenia

Artikel Gangguan Skizofrenia ini bisa di download dalam bentuk file pdf disini:

  1. GANGGUAN_PENYAKIT_KEJIWAAN_SKIZOFRENIA.pdf
  2. GANGGUAN_PENYAKIT_KEJIWAAN_SKIZOFRENIA_BW.pdf

Penulis: Anita Handayani

2 Comments

  1. Mantap sekali penjelasannya, tapi sebagian besar penyebab skizofrenia itu apa ya? Mungkin stres dan beban hidup yang semakin berat

    salam

  2. @Tangki Fiberglass: Sebagian besar penyebab skizofrenia adalah karena STRES. Banyak hal yang dapat menjadikan seseorang mengalami stres, di antaranya karena kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, kehilangan orang yang dicintai, perceraian, pelecehan seksual, dan sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*