Pertanyaan:
Saya seorang wanita, 30 tahun, berkeluarga dengan 2 anak, suami bekerja wiraswasta. Setahun yang lalu, usaha suami saya bangkrut, kami sangat sedih dan hampir putus asa. Sekarang suami mencoba dengan susah payah dan dengan bantuan sana-sini untuk bangkit lagi. Semenjak itu saya sering mengalami kecemasan dan ketakutan, nanti jangan-jangan usaha kami jatuh lagi. Selalu muncul bayangan-bayangan negatif yang menghantui, sehingga bangun tidurpun saya sudah mulai cemas. Bila muncul menghebat, saya tidak mampu bekerja, bahkan mendampingi anak-anak belajar pun kacau. Kecemasan itu dibarengi keringat dingin, jantung berdebar keras, dan tangan gemetaran. Oleh teman-teman, saya dianjurkan ke psikiater, tapi saya tunda-tunda. Apakah saya harus minum obat penenang Dok? Apakah ada cara yang bagus untuk mengatasi kecemasan yang muncul hampr tiap hari itu?
Nk di Yohyakarta.

Jawaban psikiater:
Ya, tampaknya Anda mengalami gangguan cemas menyeluruh. Ini suatu gangguan psikis yang ditandai dengan kecemasan berlebihan karena pikiran akan terjadinya musibah atau hal-hal buruk. Terjadi hiperaktivitas saraf otonom dengan gejala berdebar-debar, kerongkongan seperti tersumbat, keringat dinigin, tangan gemetaran, mual-mual dsb. Stressor yang nyata untuk timbulnya gangguan cemas ini biasanya sudah tak jelas lagi, atau tidak disadari individu. Namun biasanya karena suatu ingatan atau pikiran yang disadari maupun tidak disadari, tentang suatu hal yang mencemaskan di masa lalu yang dikhawatirkan akan terjadi sekarang. Dengan kata lain individu ketakutan akan khayalan atau pikirannya sendiri yang tak sengaja tercipta. Karena haris “melawan” pikiran dan ingatannya sendiri inilah maka biasanya hal ini sangat sukar disembuhkan.

Individu sangat terganggu dan tersiksa setiap hari sehingga para psikiater harus memberikan obat-obatan anti cemas jangka panjang selain terapi-terapi psikologik yang membutuhkan waktu untuk dilihat hasilnya.

Para psikiater selain menjalankan psikoterapi sesaat pada pasien-pasien gangguan cemas seperti ini, juga menganjurkan pasien untuk menjalankan meditasi, yoga, dzikir khusuk sesudah sjolat, atau relaksasi beberapa menit sehari dua kali. Ternyata sering kali belum membuahkan hasil. tetap saja pasien-pasien itu membutuhkan obat anti cemas sehari dua kali dan ketakutan bila dosis obat harus diturunkan. Mengapa upaya-upaya terapi itu biasanya tak membuahkan hasil? Disebabkan pikiran yang merangsang emosi kecemasan masih dominan melekat pada pasien-pasien itu. Individu-individu yang mengalami kecemasan itu harus memindahkan pikirannya ke hal lain yang memberikan kesibukan yang mengasyikkan.

Mengapa hal sederhana, seperti sibuk memancing, sibuk bekerja atau sibuk membaca di di perpustakaan, dapat membantu menghilangkan kecemasan kita? Hal ini disebabkan oleh sebuah hukum yang mendasar bahwa hampir tidak mungkin bagi pikiran manusia untuk berpikir lebih dari satu hal pada saat yang bersamaan. Otak manusia tidak bisa berpikir dua hal secara sistematis pada waktu yang bersamaan. Hal yang sama juga terjadi di bidang emosi. Kita tidak bisa merasa bersemangat dan antusias untuk melakukan suatu hal yang menarik dan pada saat bersamaan merasa hancur karena kecemasan. Satu emosi menghilangkan emosi yang lain. Penemuan inilah yang menyebabkan para psikiater menganjurkan terapi kerja dan kesibukan yang bersemnangat untuk menghancurkan emosi-emosi kecemasan.

Sumber: Buku “Mereka Bilang Aku Sakit Jiwa” oleh Inu Wicaksana (psikiatri, penulis dan pembicara dalam seminar-seminar), penerbit Kanisius Yogyakarta.