Anita's Personal Blog

Kegiatan Arsiparis | Komputer | Fotografi

Category: Jiwa

Gangguan Penyakit Kejiwaan Skizofrenia

GANGGUAN PENYAKIT KEJIWAAN SKIZOFRENIA

Gangguan Skizofrenia

schizophrenia

Schizophrenia

SKIZOFRENIA

Skema Titik-titik syaraf di kepala yang terganggu sehingga menyebabkan SKIZOFRENIA

Respon Rentang Gangguan Skizofernia

Skema Respon Rentang Gangguan Skizofernia

Skema Masalah Skizofernia

Skema Masalah Skizofernia

Ada 2 (dua) orang temanku terkena penyakit ini.  Sungguh sedih saya melihatnya, karena teman saya ini harus selalu ke dokter dan meminum obat.  Karenanya saya tertarik untuk menulis tentang Gangguan Skizofrenia ini dengan mencari di berbagai sumber, semoga bermanfaat.  Continue reading


Budaya dan Gangguan Jiwa


Pertanyaan dari SMD di Yogyakarta
:
Saya seorang laki-laki, pensiunan guru PNS, yang sekarang mengisi waktu hidup saya dengan memberi les privat matematika dan bahasa Inggris anak-anak SMU yang membutuhkan, selain mengikuti acara-acara diskusi bedah buku dan banyak membaca buku-buku filsafat dan kebudayaan. Saya ingin bertanya Dok, apakah ada kaitan antara budaya lokal dengan prilaku manusia baik yang sehat maupun yang terganggu jiwanya? Saya melihat nampaknya penilaian perilaku manusia yang normal itu di berbagai budaya tidaklah sama, demikian pula apa yang dikatakan “sakit jiwa” itu mungkin tidak sama di berbagai tempat dengan corak budaya yang berlainan. Terima kasih atas kesediaan dokter untuk menjawabnya.

Jawaban oleh psikiater Inu Wicaksana:
Bapak SMN yang terhormat,
Alangkah bagusnya kegiatan bapak di masa pensiun, untuk terus belajar dengan banyak membaca buku-buku yang berbobot dan aktif mengajar privat anak-anak SMU yang membutuhkan. Inilah kegiatanyang akan menjaga kemampuan otak kiri dan kanan dan bisa mencegah kepikunan atau dimensia. Ini mirip dengan kegiatan orang-orang usia lanjut di negeri-negeri barat yang di usia lanjut masih aktif membaca, melanglang buana dan menulis, karena cara inilah yang paling tepat untuk mencegah manusia dari demensia senilis.

Ya memang ada kaitan erat antara corak budaya setempat dengan kriteria “sehat mental” maupun bentuk dan struktur jiwa. Orang di Jawa Tengah yang sangat yakin bahwa keris warisan ayahnya itu punya “roh”, bisa glodakan di alam hari dan melesat melesat pergi bila tak cocok dengan pemegangnya, mungkin sudah dikatakan menderita “waham majik-mistik” dari skizofrenia oleh psikiater dari Amerika, padahal orang itu adalah sarjana teknik yang bekerja produkstif di pabrik otomotif. Atau orang di Jawa Timur yang yakin dirinya bisa membaca pikiran orang lain, bisa mengetahui masa depan, dan membuat orang sakit, mungkin sudah didiagnose “skizofrenia” oleh psikiater Eropah, padahal dia adalah seorang petani yang giat bekerja di sawah dan bisa menghasilkan beras untuk makan orang sekampung. Penilaian sehat mental sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan sosial setempat. Demikian pula adanya kasus-kasus kangslupan, kesambet atau kesurupan, tak bisa dijelaskan secara medis ilmiah kecuali dimasukkan dalam kriteria “fenomena yang terkait budaya setempat (culture-bond phenomen).

Meminjam konsep Kiev, pakar psikiatri budaya, penyebab gangguan jiwa adalah tekanan-tekanan (stres) yang non-spesifik, menimbulkan rekasi-rekasi biologik pada individu, dan sekali ini berjalan reaksi tersebut beroperasi tidak tergantung lagi dari tekanan semula. Manifestasi klinik gejala-gejalanya sangat diwarnai oleh faktor-faktor budaya. Gejala-gejala sekunder gangguan jiwa seperti isi dan simbol-simbol dari waham dan halusinasi ditentukan oleh efek patoplastik budaya-budaya tertentu. Waham paranoid orang Sumatera jelas lain dengan waham paranoid orang Jombang, Jatim.

Demikian pula budaya mempengaruhi corak pertahanan psikologik, kriteria dalam memasuki peranan sakit dan sikap terhadap gejala-gejala spesifik. Gejala-gejala sekunder gangguan jiwa mungkin pula disesuaikan dengan harapan-harapan budayanya. Misal dengan menjadi “gila” (insane) individu menerima dan mendapatkan berbagai keuntungan dari peranan sakitnya. Dengan “sakit jiwa” nya individu bisa menarik perhatian dari lingkungannya, hingga mendapatkan dukungan sosial yang dibutuhkannya. Bila gejala-gejala sakit itu ditolerir, diizinkan oleh lingkungan, si sakit tidak akan menderita karenanya dan malah tidak dianggap “sakit”.

Psikiater Lambo (1955) melaporkan bahwa skizofrenia di Afrika terutama menunjukkan gejala keadaan “twillight” atau kebingungan dengan kegelisahan dan waham serta halusinasi yang cepat berlalu. Sedang Carothers (1959) menunjukkan skizofrenia di daerah lain dengan gejala gelisah, banyak bicara, halusinasi visual, menyanyi, menari, bicara sendiri dan jalan-jalan tanpa tujuan. Peneliti Wittkower menyatakan, penarikan diri secara sosial dan emosional yang sering tampak pada skizofrenia di Asia mungkin ada hubungannya dengan pengaruh agama Hindu dan Budha yang menerima cara penarikan diri tersebut sebagai reaksi terhadap kesulitan. Di India dan Mexico ide-ide kejaran (paranoid) biasanya menyangkut ibu tiri, anggota keluarga besar dan roh-roh orang yang sudah meninggal, karena itu merupakan titik-titik tekanan batin di daerah itu.

Menurut peneliti Arieti dan Meth, sakit jiwa tidak perlu merupakan suatu penyimpangan dari norma-norma suatu masyarakat dan tidak usah merupakan ketidaknormalan bila dengan sakit jiwa kita artikan kegegalan mekanisme psikologik adaptif manusia guna secukupnya melawan rangsangan dan tekanan yang dihadapinya. Misalnya, seorang gadis di Melanesia yang takut diracuni adalah “normal” bagi masyarakat Melanesia, tapi “tidak normal” dari sudut pandang kita. Meski demikian kita anggap bahwa dia “tidak menderita sakit jiwa”. Sebaliknya seorang pasien paranoid kita yang takut diracuni, kita anggap “tidak normal” dan “sakit jiwa” karena ketakutan merupakan tanda gagalnya mekanisme adaptif. Maka terbuktilah bahwa budaya bisa memberi corak pada gangguan-gangguan, dan bisa menciptakan tipe-tipe kepribadian yang khusus rentan terhadap gangguan-gangguan tersebut.

Tersirat dari UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, bahwa kesehatan jiwa adalah “keadaan kesejahteraan dari badan, mental, sosial yang sejahtera, yang memungkinkan seseorang hidup harmonis, produktif secara sosial dan ekonomis sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang”. Jelaslah bahwa manusia harus bisa hidup selaras dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial budayanya, fleksibel dan adaptif bila ingin tetap sehat dan tidak terganggu jiwanya.

Sumber: Refleksi Psikiatrik masalah-masah Kesehatan Jiwa oleh Inu Wicaksana (psikiatri, penulis dan pembicara dalam seminar-seminar), penerbit Kanisius Yogyakarta.

 


Bila Penyiksaan, Bullying, dan Teror Geng menjadi Tradisi Murid Sekolah Kita

Bila Penyiksaan, Bullying, dan Teror Geng
Menjadi Tradisi Murid Sekolah Kita. 

Fadhil Hakkaputra, anak 15 tahun, bangga diterima di sekolah favorit SMAN 34 Jakarta Selatan. Kebangga ini tak berlangsung lama, karena 4 bulan kemudian Fadhil sudah menjadi korban kekerasan kakak kelasnya. Bermula dari permintaan para kakak kelasnya agar dia masuk anggota geng Gesper. Fadhil tak bisa menolak karena jika menolak akan dihajar babak belur oleh kakak kelasnya tersebut. Seperti film action, setiap anggota baru geng Gesper dikumpulkan untuk mengikuti acara penggemblengan fisik, yang diadakan setiap Jum’at, Fadhil dan teman-teman seangkatannya diadu berkelahi satu lawan satu. Setiap anggota juga wajib menyetor uang Rp. 6000,- per hari. Fadhil mendapat tugas sebagai debt collector anak kelas X, ia diberi target menyetor hingga ratusan ribu rupiah setiap Jum’at.

Jika gagal memenuhi target, pukulan dan tendangan menjadi hadiah. Siksaan fisik itu ia terima di kamar mandi sekolah. Para penganiaya tidak pernah ketahuan guru karena mereka punya kode khusus jika ada guru lewat. Andaikata ada guru yang agak tahu pun hal itu dianggap kenakalan anak laki-laki biasa yang bisa diselesaikan mereka sendiri. Semula Fadhil masih bisa bertahan menerima siksaan dengan melatih otot-ototnya untuk menahan rasa sakit seperti suku Indian Apache, tapi akhirnya ia menyerah.

Ayahnya semula tidak menaruh curiga terhadap sang anak. Namun, ia mulai curiga karena Fadhil sering meminta tambahan uang saku – belakangan diketahui uang saku itu ia gunakan untuk menomboki kekurangan setoran. Fadhil juga meminta bekal makanan yang banyak seperti orang kelaparan dan pulang dengan baju kotor serta sobek-sobek. Kecurigaan sang ayah memuncak ketikla 17 Agustus lalu Fadhil pulang dengan lengan bawah kiri patah. Sang anak beralasan dia jatuh. Namun ayah Fadhil melihat hal yang agak ganjil. Patah tulang itu ditambah bekas luka sundutan rokok. Ibu Fadhil mengecek ke sekolah, dan Jum’at itu untuk ketiga kalinya ternyata Fadhil membolos karena takut disiksa. Dia bersembunyi di rumah salah seorang temannya. Barulah kemudian Fadhil berterus terang perihal siksaan yang diterimanya selama ini.

Sang ayah lalu minta pertanggung jawaban sekolah untuk membongkar semua penganiayaan itu dan melaporkannya ke polisi. Sayang, kepala sekolah tidak begitu tahu bahwa selama ini ada geng Gesper di sekolahnya yang beranggotakan 250 orang dengan penganiayaan sadis yang dilakukan pada adik kelas setiap hari.

Ternyata bukan hanya ini, April silam media massa memberitakan penyiksaan yang dialami Adi Saputra, 18 tahun, siswa kelas 1 SMA Pangudi Luhur Jakarta Selatan. Adi dipukuli dengan botol dan di intimidasi kakak-kakak kelasnya karena menolak memata-matai teman-teman sekelasnya. Ia bahkan pernah ditelanjangi dan disuduti rokok di salah satu toilet sekolah yang disebut sebagai kamar eksekusi. Berbeda dengan teman-temannya yang memilih bungkam dan pindah sekolah, Adi bercerita pada orangtuanya dan melapor ke polisi.

Kasus di SMAN 34 Jakarta Selatan itu bukan kasus pertama. Sebelumnya ada Franky Edward Damar di SMK Pelayaran Maritim Surabaya, yang tewas saat mengikuti masa orientasi sekolah (MOS). Sebelumnya lagi, tiga siswa SMPN 8 Tegal dianiaya kepala sekolahnya. Malah di SD Santa Maria Immaculata Pondok Bambu Duren Sawit Jakarta Timur, Edo Rinaldo, bocah 8 tahun tewas di keroyok kakak-kakak kelasnya. Dan kita tentu saja masih terhenyak dengan kasus termasyhur, Clif Muntu, siswa taruna IPDN yang tewas mengenaskan dianiaya paraseniornya yang akhirnya tidak menerima hukuman yang pantas dalam pengadilan.

Bullying adalah kekerasan fisik dan psikologis jangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan dirinya dalam situasi di mana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang itu atau membuat dia tertekan. Dalam kasus-kasus dari halaman sekolah di atas, bullying adalah kekerasan fisik dan mental yang dilakukan secara tersembunyi dan berjangka panjang oleh para siswa senior pada siswa yuniornya yang tidak berdaya dan tidak berani melapor karena ancaman terus menerus.

Fenomena bullying dulu dan sekarang

Apakah fenomena bullying baru terjadi akhir-akhir ini saja? Tentu saja tidak. Kita semua menyadari bahwa fenomena ini telah ada di institusi pendidikan sejak puluhan tahun yang lalu.

Mengapa bullying di sekolah-sekolah sekarang menjadi sangat mengerikan sampai dengan luka berat dan kematian? Apa yang salah dengan dunia pendidikan kita khususnya hubungan dan pengawasan guru – orangtua murid? Yang pertama mungkin dari segi si anak murid sendiri. Anak-anak belasan tahun itu sedang dalam masa pubertas, masa mencari identitas diri. Masa dimana sangat dibutuhkan contoh, panutan, simbol ideal untuk pembentukan eksistensi diri. Heroisme, sadisme, kehidupan geng-geng seperti Yakuza dan Mafia, eksploitasi seksual, gaya hidup vulgar bebas tanpa norma yang bisa dilihat tiap hari dalam film-film barat maupun sinetron Indonesia di berbagai TV merupakan contoh yang ditelan mentah-mentah. Kedua, contoh perilaku orang dewasa yang sangat mencolok tiap hari seperti karikatur Oom Pasikom di Koran Kompas. Bentak sang Bapak: “Mau sekolah apa mau jadi gangster? Siapa yang ngajarin?” lalu si anak menjawab dengan kalem: “Bapak! korupsi, ngrampok uang rakyat, jual beli hukum, adu jotos di DPR, bentrok antar aparat, kasus HAM, bentrok Satpol PP dan rakyat miskin yang tergusur dan sebagainya”. Bukankah kita para orang dewasa tak pernah berfikir bahwa ini semua adalah contoh bagus yang masuk di benak unconscious (bawah sadar) murid-murid belasan tahun itu untuk kemudian dipraktekkan pada teman-temannya yang lemah? Menginjak lengan sampai patah atau menelanjangu adik kelas lalu menyilet atau menyunduti dengan rokok bukankah mirip dialam Pius dan kawan-kawan dari para penculiknya di Zaman Suharto?

 

Gangguan Tingkah Laku Agresif Berkelompok (Sosiopatik) Masa Puber

Dalam khazanah psikiatri, pada anak-anak belasan tahun bisa timbul Gangguan Tingkah Laku Agresif Berkelompok dan Gangguan Tingkah Laku Agresif Tidak Berkelompok. Ditandai dengan perilaku melanggar norma sosial tanpa perasaan bersalah, mencuri dan merampok, mengganggu orang, menganiaya yang lemah, melakukan hubungan seks dengan mudah, melawan orangtua dan guru, sudah coba-coba menggunakan Napza atau berjudi, dan tindak kriminal lainnya.

Pada yang tidak berkelompok, perilaku agresif merusak itu dikerjakan sendiri atau waktu dia sendirian. Sedangkan pada yang berkelompok perilaku agresif itu selalu dikerjakan berkelompok atau sewaktu ia berada bersama-sama kelompoknya. Bila sendirian anak itu tidak pernah melakukan hal itu.

Psikolog Stanley Milgram dalam eksperimennya mengemukakan bahwa siswa/mahasiswa bisa melakukan kekejaman di luar batas selama ia merasa dirinya bukan yang bertanggung jawab atas perbuatannya itu, tapi kelompoknya. Itulah yang terjadi pada penganiayaan sadis dari Geng Gasper (di SMAN 34 Jakarta), Perpeloncoan (MOS), atau tradisi SMA Pangudi Luhur Smack Down, kelompok eksekutor di IPDN dan lain sebagainya.

Gangguan Tingkah Laku Agresif pada usia remaja merupakan benih dan cikal bakal Gangguan Kepribadian Antisosial (Dissosial) pada usia dewasa (18 tahun ke atas), yang secara klasik disebut “psikopat” (sosiopatik)Tingkah laku tak peduli norma-norma sosial, penganiayaan istri dan anak-anak, memperkosa, pembunuhan sadis, perampokan, korupsi besar-besaran uang rakyat, perjudian, mengedarkan narkoba, kriminal lain yang semuanya dikerjakan tanpa rasa bersalah, adalah ciri gangguan kepribadian ini yang sebagaina besar memenuhi penjara.

Meski termasuk gangguan jiwa (mental dan perilaku) namun mereka tidak kebal hukum karena jumlahnya terlalu banyak. Mereka memang dilahirkan untuk “meramaikan dunia” karena jumlahnya lebih besar dari jumlah polisi di dunia.

Maka di Amerika hukumannya hanya satu, yatu “kursi listrik”. Kita saat ini tidak pernah menyadari bahwa para penganiaya sadis di sekolah itu bila tidak ditangani secara kuat maka akan berkembang menjadi gangguan perilaku (yang lebih mengerikan dari “kegilaan”) ini pada usia di atas 18 tahun.

 

Mengapa Terjadi Bullying dan Siapa yang Bertanggung Jawab?

Siapakah yang bertanggung jawab terhadap timbulnya GANGGUAN TINGKAH LAKU AGRESIF pada murid sekolah ini? Faktor utama yang berpengaruh adalah pengasuhan dan perkembangan mental sejak masa anak (baca:TK,SD). Tentu, tidak bisa lain, orangtua memegang peran sentral. Orangtua harus mendidik dan memberi contoh nilai-nilai moral, budi pekerti, watak ksatria, kejujuran dan tanggung jawab. Menjadi super ego, anak yang menentukan pembentukan ego-nya sehingga anak bisa memilih contoh positif atau negatif dalam kehidupan sehari-hari pada usia remajanya. Itu berarti harus ada hubungan erat dan komunikasi antara orangtua, khususnya bapak dengan anak laki-laki  sejak anak sampai usia dewasa muda. Bila tidak, anak laki-laki tidak bisa mengidentifikasi figir bapak sehingga mencari simbol “heroisme” nya dari tokoh-tokoh berwibawa namun sadis dari kehidupan nyata maupun film dan bacaan.

Maka dalam kehidupan di sekolah, tentu bukan masalah gampang untuk menghilangkan bullying mengingat adanya faktor-faktor pubertas pada masa remaja ini, krisis identitas, pencarian figur-figur, terbentuknya peer, faktor keluarga, anak kos (jauh dari orangtua), lingkungan sosial dan lain-lain.

Tanggung jawab tidak bisa ditimpakan sepenuhnya pada para guru dan pengurus sekolah semata, karena orangtua dan lingkungan sosialpun berpengaruh untuk timbulnya perilaku agresif.

Pengawasan guru dan pengurus sekolah hanya terbatas pada jam pelajaran di sekolah. Mungkin kesalahan guru adalah tidak pekanya terhadap perilaku murid-muridnya di luar kelas pada jam sekolah. Bila guru-guru BP (BK) yang tela ada di tiap sekolah menjalankan tugasnya dengan baik, artinya peka terhadap segala perilaku murid-muridnya dan kejadian agak aneh di sekolah, pastilah penyiksaan ala penculik-penculik di Zaman Shartodi kamar mandi sekolah tiap hari itu tidak akan terjadi, demikian pula adu “gladiator” setiap Jum’at.

Adalah kesalahan guru pula bila todak menanggapi serius laporan murid-murid yang teraniaya, atau menganggap hal itu hanyalah “kenakalan anak” biasa yang bisa diselesaikan di antara mereka sendiri.

 

Upaya dan Strategi Sekolah Menanggulangi Kekerasan

Kekerasan di sekolah umumnya disebabkan karena kurangnya kesetiakawanan dan kerjasama diaNtara siswa. Bila dilihat fungsi sekolah selain sebagai tempat pendidikan ilmu juga sebagai tempat pendidikan perilaku, guru memang berperan utama karena merupakan agen pelaksana semua kebijakan sekolah yang langsung berhadapan dengan murid. Para pamong bisa menyediakan diri sebagai konselor, tidak hanya dilimpahkan pada guru BP (BK), guru juga menjadi social support. Sekolah harus mempunyai mekanisme penyelesaian kasus kekerasan dan bullying, seperti membuat bentuk penalti non fisik atau sanksi seperti menarik hak-hak atau fasilitas istimewa murid umumnya atau skorsing dan pemecatan. Meniru kasus narkoba, tiga kali peringatan sekolah pada murid bila masih tetap menggunakan narkoba akan dikeluarkan. Kurikulum sekolah harus lebih berorientasi pada budi pekerti dan solidaritas sosial.

Anak-anak harus diajarkan bagaimana saling membantu antar teman dengan kasih sayang, persahabatan, dan persaudaraan, bukannya saling menyakiti atau mencelakakan. Lapar haus bersama-sama dan makan dengan senang bersama-sama pula. Ajarkan langsung kepada siswa tentang dasar azas kepramukaan bahwa Pandu itu setia, berwatak ksatria, jujur dan bersahaja, bisa dipercaya, siap menolong dan wajib berjasa.

Sarlito Wirawan Sawono mengajukan metoda psikologi dari Durkhem dan Milgram, Reinforcement method. Kembalikan segalanya pada norma. Para penegak norma harus berfungsi maksimal kembali. Galakkan razia tas untuk mencari senjata tajam atau narkoba. Cegah alumni yang tidak jelas tujuannya mempengaruhi murid yang masih sekolah. Skors murid-murid yang melanggar hukum sekolah dan sebagainya. Metode ini dipraktekan dengan amat berhasildi Singapura, Malaysia dan Cina.

Adakan pelatihan (workshop) yang bertema “Penanggulangan Perilaku Agresif Sosiopatik dan Bullying di Sekolah”.  Sebagai peserta adalah para guru umum, guru BP (BK), Kepala Sekolah, wakil-wakil siswa SMP dan SMA yang akan menjadi anggota Satgas anti kekerasan.  Ikutkan juga kesaksian para orang tua, siswa-siswa korban bullying maupun mantan pelaku bullying.  Adakan narasumber guru yang mengajarkan pembentukan budi pekerti yang pas untuk anti kekerasan. Narasumber pelatih pembina pramuka profesional.  Narasumber lain adalah dosen pendidikan, psikolog, psikiater khusus, kepolisian Polda/Poltabes, dan ahli agama.

 

Sumber: Refleksi Psikiatrik masalah-masah Kesehatan Jiwa oleh Inu Wicaksana (psikiatri, penulis dan pembicara dalam seminar-seminar), penerbit Kanisius Yogyakarta.

 


Mengelola Emosi

Pertanyaan:
Saya seorang laki-laki muda, mahasiswa di sebuah universitas terkemuka di Yogyakarta, sudah dua tahun ini berpacaran dengan mahasiswa satu fakultas. Kami saling cocok dan mencintai, tapi sering sekali terjadi percekcokan, beda pendapat, kadang sampai hebat. Jadi, hubungan kami seperti putus sambung, sesudah saling marah-marahan lalu berbaik kembali. Tak berapa lama sudah cekcok lagi. Macam-macam hal bisa menjadi sumber pertengkaran. Mulai beda idealisme, beda prinsip, adanya orang ketiga, tidak saling mengerti, dan lain-lain. Tapi toh akhirnya berhubungan kembali. Apakah ini memang bumbunya orang saling mencintai? Tapi saya selalu terpancing emosi bila menerima ucapan atau sms-nya yang saya anggap memancing kemarahan. Kadang saya tak bisa mengendalikan emosi. Emosi saya meledak-ledak dan ini rupanya mengganggu konsetrasi dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya seperti tak bisa berfikir jernih dan buntu bila emosi saya sedang naik. Padahal ini sering terjadi. Saya mohon saran atau penjelasan Dokter tentang ini. Terima kasih.
BK di Yogyakarta.

Jawaban dari Psikiatri:
Emosi adalah salah satu unsur ynag membentuk kepribadian manusia yang sangat berharga. Boleh dikata ini unsur yang berdiri sendiri, tapi juga sangat dipengaruhi pola pikir. Emosi sudah terbentuk sejak manusia dilahirkan. Seorang bayi yang lahir ke dunia merasa tidak nyaman dengan keadaan dunia yang tidak senyaman dalam kandungan ibunya. Maka, ia langsung menangis sekeras-kerasnya. Bila ada suatu rangsangan yang menyakiri dirinya, atau ia merasa lapar, bayi itu langsung menangis meronta-ronta. Sesudah besar, pikiran semakin mempengaruhi emosinya. Bila ia memperoleh apa yang ia inginkan, pikirannya puas, emosinya pun bahagia. Tapi bisa pikirannya mengharapkan sesusatu dan terbentur suatu hal, emosinya pun kecewa, frustasi, sedih atau marah. Maka dapatlah dikatakan bahwa mengendalikan emosi sesungguhnya adalah mengendalikan pikiran kita karena sampai batas tertentu pikiran bisa menguasai emosi. Yang menjadi problem adalah seringkali emosi tak bisa dikendalikan oleh pikiran kita, meskipun kita ingin sekali menguasai atau mengelolanya. Disinilah kadang emosi bergerak sendiri, sesuai karakter, sifat dan keprib

Para ahli seperti Fehr dan Russel menyatakan bahwa “Setiap orang tahu apa itu emosi, sampai dia diminta untuk memberikan definisi tentang emosi itu sendiri, setelah itu tidak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya”. Ketika kita menggunakan istilah tersebut, emosi merupakan sebuah pengalaman rasa. Kita merasakan adanya emosi, kita tidak sekedar memikirkannya. Ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang secara pribadi penting untuk kita, maka emosi kita akan meresponsnya, biasanya diikuti dengan pikiran yang ada hubungannya dengan perkataan tersebut, perubahan psikis, dan hasrat untuk melakukan sesuatu. Bila ada seorang teman yang semena-mena menyuruh kita melakukan sesuatu, psikis kita mengalami perubahan, tekanan darah kita meninggi karena terpacu adrenalin, dan kita siap untuk marah.

Emosi itu bisa menjadi positif, tetapi bisa juga menjadi negatif. Emosi yang psoitif secara personal menghasilkan perasaan yang menyenangkan. Apakah itu bangga, harapan, kelegaan, emosi ini akan menghasilkan seseuatu yang baik pula. Dalam interaksi dengan orang lain, emosi yang positif bisa membangun kedekatan, sebuah hubungan yang ditandai dengan keinginan baik, pemahaman, dan perasaan menjadi bagian dari sebuah “kebersamaan”. Sebaliknya, perasaan marah, frustasi, dan emosi-emosi negatif lainnya secara personal menghasilkan perasaan susah, kecewa, sakit hati, atau marah. Emosi-emosi ini kecil kemungkinannya digunakan untuk membangun kedekatan.

Emosi bisa mengalihkan perhatian dari persoalan poko yang akan dibicarakan. Emosi bisa menghancurkan hubungan. Emosi bisa mengeksploitasi kita. Sebaliknya, emosi positif bisa mempermudah terpenuhinya beberapa kepentingan sunstantif. Emosi positif dapat memperrat hubungan. Emosi positif tidak akan menambah resiko bahwa kita akan dieksploitasi.

Mematikan emosi adalah suatu hal yang mustahil karena emosi itu adalah suatu hal yang alamiah. Demikian juga menghilangkan emosi. Emosi muncul sebagai reaksi atau respons manusia terhadap suatu rangsang eksternal maupun internal. Setiap rangsangan akan mendapat reaksi dari kita. Namun ada titik-titik waktu yang bisa kita pikirkan bagaimana bentuk reaksi yang kita ambil, inilah yang disebut respons, bentuk bentuk reaksi emosi yang sudah diatur oleh pikiran dengan pertimbangan yang bijak. Tentunya emosi yang timbul adalah emosi yang positif dan menguntungkan semua pihak, bukan emosi yang merusakkan segalanya.

Dengan demikian, lebih baik perhatian kita arahkan kepada apa-apa yang membangkitkan reaksi emosi-emosi tertentu. Perhatian utama adalah keinginan manusia yang penting dalam semua hubungan antar manusia. Keinginan itu seringkali tidak terucapkan, tetapi tidak kalah pentingnya jika dibandingkan dengan ketertarikan yang tampak. Keinginan utama itu memberikan kerangka yang sangat kuat kepada kita untuk mengatasi emosi tanpa mendapatkan masalah dengannya. Ada lima keinginan yang merangsang, baik maupun buruk, munculnya sebagai emosi dalam sebuah interaksi manusia. 5 (lima) keinginan itu adalah apresiasi, afiliasi, otonomi, status, dan peran. Kalau kita mampu menangani semua itu dengan efektif, kita bisa merangsang munculnya emosi-emosi yang positif baik di dalam diri kita sendiri maupun pada orang lain. Karena setiap orang memiliki keinginan itu, maka kita bisa secara langsung memanfaatkannya untuk merangsang munculnya emosi-emosi positif.

Sumber: Buku “Mereka Bilang Aku Sakit Jiwa” oleh Inu Wicaksana (psikiatri, penulis dan pembicara dalam seminar-seminar), penerbit Kanisius Yogyakarta.


Cemas

Pertanyaan:
Saya seorang wanita, 30 tahun, berkeluarga dengan 2 anak, suami bekerja wiraswasta. Setahun yang lalu, usaha suami saya bangkrut, kami sangat sedih dan hampir putus asa. Sekarang suami mencoba dengan susah payah dan dengan bantuan sana-sini untuk bangkit lagi. Semenjak itu saya sering mengalami kecemasan dan ketakutan, nanti jangan-jangan usaha kami jatuh lagi. Selalu muncul bayangan-bayangan negatif yang menghantui, sehingga bangun tidurpun saya sudah mulai cemas. Bila muncul menghebat, saya tidak mampu bekerja, bahkan mendampingi anak-anak belajar pun kacau. Kecemasan itu dibarengi keringat dingin, jantung berdebar keras, dan tangan gemetaran. Oleh teman-teman, saya dianjurkan ke psikiater, tapi saya tunda-tunda. Apakah saya harus minum obat penenang Dok? Apakah ada cara yang bagus untuk mengatasi kecemasan yang muncul hampr tiap hari itu?
Nk di Yohyakarta.

Jawaban psikiater:
Ya, tampaknya Anda mengalami gangguan cemas menyeluruh. Ini suatu gangguan psikis yang ditandai dengan kecemasan berlebihan karena pikiran akan terjadinya musibah atau hal-hal buruk. Terjadi hiperaktivitas saraf otonom dengan gejala berdebar-debar, kerongkongan seperti tersumbat, keringat dinigin, tangan gemetaran, mual-mual dsb. Stressor yang nyata untuk timbulnya gangguan cemas ini biasanya sudah tak jelas lagi, atau tidak disadari individu. Namun biasanya karena suatu ingatan atau pikiran yang disadari maupun tidak disadari, tentang suatu hal yang mencemaskan di masa lalu yang dikhawatirkan akan terjadi sekarang. Dengan kata lain individu ketakutan akan khayalan atau pikirannya sendiri yang tak sengaja tercipta. Karena haris “melawan” pikiran dan ingatannya sendiri inilah maka biasanya hal ini sangat sukar disembuhkan.

Individu sangat terganggu dan tersiksa setiap hari sehingga para psikiater harus memberikan obat-obatan anti cemas jangka panjang selain terapi-terapi psikologik yang membutuhkan waktu untuk dilihat hasilnya.

Para psikiater selain menjalankan psikoterapi sesaat pada pasien-pasien gangguan cemas seperti ini, juga menganjurkan pasien untuk menjalankan meditasi, yoga, dzikir khusuk sesudah sjolat, atau relaksasi beberapa menit sehari dua kali. Ternyata sering kali belum membuahkan hasil. tetap saja pasien-pasien itu membutuhkan obat anti cemas sehari dua kali dan ketakutan bila dosis obat harus diturunkan. Mengapa upaya-upaya terapi itu biasanya tak membuahkan hasil? Disebabkan pikiran yang merangsang emosi kecemasan masih dominan melekat pada pasien-pasien itu. Individu-individu yang mengalami kecemasan itu harus memindahkan pikirannya ke hal lain yang memberikan kesibukan yang mengasyikkan.

Mengapa hal sederhana, seperti sibuk memancing, sibuk bekerja atau sibuk membaca di di perpustakaan, dapat membantu menghilangkan kecemasan kita? Hal ini disebabkan oleh sebuah hukum yang mendasar bahwa hampir tidak mungkin bagi pikiran manusia untuk berpikir lebih dari satu hal pada saat yang bersamaan. Otak manusia tidak bisa berpikir dua hal secara sistematis pada waktu yang bersamaan. Hal yang sama juga terjadi di bidang emosi. Kita tidak bisa merasa bersemangat dan antusias untuk melakukan suatu hal yang menarik dan pada saat bersamaan merasa hancur karena kecemasan. Satu emosi menghilangkan emosi yang lain. Penemuan inilah yang menyebabkan para psikiater menganjurkan terapi kerja dan kesibukan yang bersemnangat untuk menghancurkan emosi-emosi kecemasan.

Sumber: Buku “Mereka Bilang Aku Sakit Jiwa” oleh Inu Wicaksana (psikiatri, penulis dan pembicara dalam seminar-seminar), penerbit Kanisius Yogyakarta.