Anita's Personal Blog

Kegiatan Arsiparis | Komputer | Fotografi

Category: IPB (page 1 of 24)

Form D.1.2 PEMBERKASAN DAN PENATAAN ARSIP AKTIF

Form D.1.2 PEMBERKASAN DAN PENATAAN ARSIP AKTIF

Form D.1.2 PEMBERKASAN DAN PENATAAN ARSIP AKTIF

Penjelasan atau petunjuk pengisian Form D.1.2 Pemberkasan dan Penataan Arsip Aktif:

  1. Form D.1.2 Penciptaan Arsip adalah formulir isian yang harus diisi oleh Pencipta Arsip, yaitu petugas persuratan (pengelola arsip) yang ditandatangani oleh KTU nya.
  2. Kegiatan Pemberkasan Arsip adalah penempatan naskah ke dalam suatu himpunan yang tersusun secara sistematis dan logis sesuai dengan konteks kegiatannya sehingga menjadi satu berkas karena memiliki hubungan informasi, kesamaan jenis atau kesamaan masalah dari suatu unit kerja.

    Berkas adalah himpunan dokumen yang disusun baik atas dasar kesamaan urusan, kesamaan masalah dan kesamaan jenis.

    Penataan berkas yaitu kegiatan menata dokumen dalam bentuk berkas dan mengatur berkas dalam tatanan yang sistimatis

    Tujuan penataan berkas:

    1. Menemukan kembali informasi dengan cepat dan tepat
    2. Mempermudah penyusutan arsip

    Prinsip Penataan Berkas, ada yang disebut Dosier, Seri, dan Rubrik/Subjek.

    Note: Penataan berkas yang dilakukan di unit kerja pencipta arsip bisa bergantian antara dosier / rubrik / seri tergantung jenis berkas nya. Yang terbaik jika bisa menyusun berkas berdasarkan Dosier karena bercerita dari awal sampai akhir kegiatan.

    Setiap folder bisa berisi satu berkas yang disusun secara Dosier (arsip disusun atas dasar kesamaan urusan dalam satu berkas, contoh Berkas Proyek Renovasi gedung Kantor utama (April – Oktober 2012), atau disusun secara Seri (arsip disusun atas dasar kesamaan jenis dalam satu berkas, contoh Seri Surat Edaran tahun 2009), atau beberapa berkas arsip yang disusun berdasarkan Rubrik/Subjek (arsip disusun atas dasar kesamaan masalah dalam satu berkas, contoh Berkas Pembelian ATK, 2012 ). Dosier, Seri dan Rubrik adalah bentuk-bentuk penyusunan sekumpulan arsip dalam satu berkas.

    Alat pemberkasan:

    1. Kode Klasifikasi Arsip (KKA)
    2. Indeks

    Tahap-tahap Pemberkasan

    Membuat Daftar Isi Berkas DP3

    Membuat Daftar Berkas

Cara Menyimpan Arsip Dinamis (Arsip Aktif) dengan Sistem Berkas (Cara Memberkaskan Arsip) :

  1. Surat2 yang akan di berkas kan (atau disimpan dalam filling cabinet) sudah mendapat Disposisi Simpan
  2. Jika ada surat2 yang terkait digabungkan menjadi satu berkas, lalu beri klip. Setiap berkas beri nomor urut
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_15cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_7cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_6cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_5
  3. Sebaiknya dalam satu map berisi 1 berkas. Perhatikan gambar dibawah ini
    Berkas ke 1 tulis tab nya seperti ini:
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_16
  4. dan Berkas ke 2 tulis tab nya seperti ini:
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_17
  5. dan seterusnya
  6. Perhatikan di ujung kiri atas tab dituliskan nomor berkasnya
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_4Note:
    Setiap menuliskan judul tab jangan lupa sisipkan kata2:

    ….. Sub-sub Masalahnya …..

    Nomor Kalisifikasi + Judul Sub-sub Masalahnya + Nama Berkas

    Dalam hal ini Sub-sub Masalahnya adalah Jadwal Retensi Arsip

  7. Di depan berkas kita beri sekat kelompok tersier yang berisi Sub-sub Masalah
    Biasanya sekat kelompok tersier berwarna merah.
    Disini di contohkan Sub Masalah nya adalah PK 03 09 Jadwal Retensi Arsip (JRA)cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_22cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_23
  8. Di Depan nya lagi kita beri sekat kelompok sekunder yang berisi Sub Masalah. Sekat kelompok Sekunder uu mempunyai tab ditengah (atau lebih kekanan daripada Sekat Kelompok Primer).
    Biasanya sekat kelompok sekunder primer berwarna hijau.
    Disini di contohkan Sub Masalah nya adalah
    PK 03 Konsultasi Supervisi dan Implementasi Sistem Kearsipan
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_20cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_21
  9. Dipaling depan kita beri sekat kelompok primer, sekat ini mempunyai tab pada ujung kiri. Kelompojk primer ini berisi Pokok Masalah. Biasanya sekat kelompok primer berwarna putih.
    Disini di contohkan Pokok Masalah nya adalah PK Pembinaan Kearsipan
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_18cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_19Sekat atau guide merupakan petunjuk dan pemisah antara kelompok masalah yang satu dengan kelompok masalah lain, sesuai dengan pengelompokan masalah pada KLASIFIKASI ARSIP.Sekat atau guide ini terbuat dari karton tebal tujuannya agara dapat berdiri tegak dan memiliki bagian yang meninol yang disebut TAB.
  10. Arsip yang sudah tersimpan dalam satu berkas disimpan di map gantung arsip seperti ini:
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_1
  11. Setelah itu baru masukkan ke filling cabinet
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_2
  12. Perhatikan setiap Filling Cabinet diberi nama
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_24cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_8
  13. Begitu juga lacinya diberi nama
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_3 copy
  14. Setiap tahun kita buat daftar isi setiap laci, letakkan daftarnya di paling depan
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_9
  15. Dalam contoh ini, judul bukunya adalah:

    DAFTAR ARSIP AKTIF, DIREKTORAT KEARSIPAN PUSAT, TAHUN ANGGARAN 2011

    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_10

  16. Tabel Daftarnya seperti ini:

    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_11
  17. Tabel Daftar Arsip Aktif tsb bila dibesarkan jadi seperti ini:
    (Ini untuk menjawab pertanyaan Pak Setyo Edy Susanto:
    Perhatikan disini bahwa Nomor Berkas kembali ke nomor 1 di setiap Klasifikasi Anak yang berbeda, demikian juga denganNomor Isi Berkas kembali ke nomor 1 di setiap Berkas yang berbeda). Judul berkas disesuikan dengan RKAT yang dibuat setiap tahun. Dalam satu berkas sebaiknya mempunyai kode klasifikasi yang sama, misalnya surat undangan diklat, klasifikasinya bukan TU tapi DL karena undangannya nya adalah undangan diklat)
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_27
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_28cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_29
  18. Isinya dalah sebagai berikut:
    DAFTAR ARSIP AKTIF TAHUN 2013:
    1. Kode Klasifikasi/Indeks
    2. Uraian Informasi Berkas
    3. Nomor Berkas
    4. JULAH
    5. Nomor Isi Berkas
    6. URAIAN
    7. KURUN WAKTU
    8. Tngkat Perkembanga
    9. JUMLAH
    10. Lokasi Filling Cabinet II
    (Ini adalah contoh buku daftar pada Filling Cabinet nomor II)cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_12cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_13
  19. Arsip dinamis (arsip aktif) disimpan di ruangan yang diberi Nama Central File
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_0
  20. Setelah arsipnya menjadi inaktif maka pindah kan ke kotak arsip, siap untuk di pindahkan ke Record Center
    cara_menyimpan_arsip_dinamis_dengan_sistem_berkas_14
  21. Selesai.

 

KLASIFIKASI ARSIP

  • KLASIFIKASI ARSIP adalah PENGGOLONGAN DAN PENGELOMPOKKAN ARSIP ATAS DASAR PERSAMAAN MASALAH YANG TERKANDUNG DALAM ARSIP
  • FUNGSI Klasifikasi Arsip:
    MEMPERMUDAH DALAM PENYIMPANAN DAN TEMU KEMBALI

INDEKS

  • lNDEKS adalah SUATU TANDA PENGENAL BERKAS/JUDUL BERKAS
  • FUNGSI Indeks yaitu :
    MEMBEDAKAN ANTARA BERKAS YANG SATU DENGAN BERKAS LAINNYA
    MEMPERMUDAH DALAM PENEMUAN DAN PENYIMPANAN ARSIP

PENULISAN INDEKS NAMA ORANG:

  1. Straigth order
  2. Indexing order
Straight Order

Contoh penulisan Index berdasarkan nama orang dengan sistem Straight Order

Indexing Order

Contoh penulisan Index berdasarkan nama orang dengan sistem Indexing Order

PENULISAN INDEKS ORGANISASI:

Indeks Nama Organisasi

Contoh penulisan Indeks berdasarkan Nama Organisasi

 

GUIDE atau SEKAT

Guide atau Sekat

Contoh bentuk guide atau sekat

 

JENJANG MASALAH

Jenjang Masalah

Jenjang masalah dalam sekat

Jenjang Masalah

Penyekat PRIMER berisi Pokok Masalah, yaitu bagian utama dalam file

Penyekat SEKENDER berisi Sub Masalah, yaitu bagian yang menunjukkan pada suatu kelompok yang mempunyai persamaan indeks: menunjuk urusan kegiatan, masalah khusus

Penyekat TERTIER berisi Sub-sub Masalah, yaitu bagian yang menunjukkan pada suatu kelompok yang mempunyai persamaan indeks, menunjukka urusan subkegiatan, submasalah khusus

FOLDER

Folder berisi Berkas/surat
Note: Warna penyekat bebas saja tergantung keinginan

Folder adalah alat untuk menempatkan/meletakkan arsip aktif.

Ada 3 macam folder yaitu:

  1. Folder Individual, berisi arsip dari satu koresponden,perorangan atau instansi, diletakkan diposisi paling kanan disusun sesuai urutan alphabetis atau nomor.
  2. Folder Khusus, berisi arsip yang menunjukkan suatu kegiatan khusus, ditempatkan di posisi mengikuti guode sekunder (guide pembantu) dalam pengaturannya. Folder khusus berisi korespondensi yang berkenaan dengan bagian dari subyek khusus seperti: Aplikasi (lamaran), pertama sisusun berdasarkan nama responden, jika koresponden mempunyai lebih dari satu arsip maka selanjutnya diatur berdasarkan tanggal.
  3. Folder macam-macam, berisi arsip yang bermacam-macam koresponden, diatur berdasar nama koresponden kemudian diurutkan berdasarkan tanggal, tanggal baru ada di depan. Folder ini diletakkan paling belakang ditiap-tiap alphabet atau nomor.
Folder dengan tab diatas

Bentuk folder denga tab diatas beserta ukurannya

Huruf dan Label di Tab. Judul atau label dari secarik kertas yang ditempel pada tab folder. Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan yaitu haruslah label tsb tidak mudah rusak, jelas, mudah dibaca.

Dalam memberkaskan arsip dikenal prosedur (CARA A) sebagai berikut:

  1. Pemeriksaan (Inspecting), adalah kegiatan memeriksa arsip yang akan disimpan. Bebeapa hal yang harus dicermati adalah:
    1) Apakah sudah ada diposisi simpan
    2) Apakah lampiran-lampiran (jika ada) sudah lengkap
    3) Apakah akan disatukan dengan suratnya (jika ada surat) atau dipisahkan karena bentuk fisiknya menghastuskan demikian.
  2. Pengindeksan (Indexing), adalah kegiatan menetapkan kata tangkap dari arsip yang akan disimpan. Penentuan kata tangkap ini tergantung cara pemberkasan yang digunakan. Pada sistem alfabetis kata tangkapnya adalah nama (orang, badan usaha, nstansi dsb.). Kata tangkap pada sistem numerik adalah kode angka, kata tangkap pada organisasi yang sudah memiliki klasifikasi arsip adalah kode klasifikasi. Tata cara dalam penentuan indeks antara lain:
    1) Indeks harus singkat, jelas mewakli isi arsip
    2) Indeks harus mengandung makna tunggal, tidak ganda
    3) Kata yang digunakan harus sudah lazim
    4) Fleksibel untuk perkembangan selanjutnya
    5) Indeks harus kata benda atau yang dibendakan
  3. Pengkodean (Coding), adalah kegatan pemberian tanda atau kode yang mewakili arsip yang akan menunjukkan pada tempat yang paling pas dalam fle. Dengan kode tersebut petugas dapat mensortir atau menempatkan arsip sesuai kelompoknya.
  4. Pembuatan tunjuk silang (Cross reference). Tunjuk silang dipergunakan apabila:
    1) Ada arsip yang mempunyai 2 masalah atau lebih
    2) Apabila ada pergantian nama (orang, organisasi atau perusahaan, nama tempat dsb.)
    3) Jika ada surat yang lampirannya bukan merupakan surat, seperti: disket, buku dsb.
    Tunjuk silang pada dasarnya merupakan catatan agar dapat memperoleh informasi arsip baik secara langsung (intern file) ataupun tidak langsung (antar file).
    Tunjuk silang langsung adalah menunjukkan keterkaitan informasi arsip dari file itu sendiri (intern file) karena file tersebut dipandang perlu menggunakan tanda (X), atyau dengan istilah “Lihat (See)”.
    Tunjuk silang tidak langsung menunjukkan keterkaitan informasi arsip dengan file atau berkas lain, biasanya menggunakan tanda (XX), atau dengan istilah lihat juga (See also),
    Contoh: Surat dari ANRI tentang Diklat Kearsipan yang ditunjukan kepada suatu instansi dapat dikenal dengan: Diklat Kearsipan (sebagai subyek) atau dengan ANRI (asal arsip).
Tunjuk Silang Langsung

Tunjuk Silang Langsung

  • Penyortiran (sortir)
  • Pembuatan Label (labeling)
  • Pemberkasan (filling) (= Penyimpanan Berkas) yaitu kegiatan memasukkan arsip ke dalam folder yang sesuai

 

PROSEDUR PEMBERKASAN ARSIP (CARA B), adalah sebagai berikut:

  1. Membaca isi surat, untuk menentukan isi ringkas
    Pemeriksaan (Inspecting), adalah kegiatan memeriksa arsip yang akan disimpan. Bebeapa hal yang harus dicermati adalah:
    1) Apakah sudah ada diposisi simpan
    2) Apakah lampiran-lampiran (jika ada) sudah lengkap
    3) Apakah akan disatukan dengan suratnya (jika ada surat) atau dipisahkan karena bentuk fisiknya menghastuskan demikian.
  2. Penentuan Indeks subjek , kode klasifikasi arsip (KKA), dan tahun1) Arsip disusun berdasarkan Subjek, tentukan indeks subjek nya
    2) Tentukan Kode Klasifikasi nya
    3) Arsip disusun berdasarkan Tahun

Pengindeksan (Indexing), adalah kegiatan menetapkan kata tangkap dari arsip yang akan disimpan. Penentuan kata tangkap ini tergantung cara pemberkasan yang digunakan. Pada sistem alfabetis kata tangkapnya adalah nama (orang, badan usaha, nstansi dsb.). Kata tangkap pada sistem numerik adalah kode angka, kata tangkap pada organisasi yang sudah memiliki klasifikasi arsip adalah kode klasifikasi. TAta cara dalam penentuan indeks antara lain:
1) Indeks harus singkat, jelas mewakli isi arsip
2) Indeks harus mengandung makna tunggal, tidak ganda
3) Kata yang digunakan harus sudah lazim
4) Fleksibel untuk perkembangan selanjutnya
5) Indeks harus kata benda atau yang dibendakan


Contoh arsip-arsip yang disimpan dalam 1 berkas


  • Masukkan surat ke dalam folder
    Penyortiran (sortir)
    Dibuat folder berkas masukkan arsip aktifnya

    Arsip dalam berkas diberi nomor definitif


  • Menuliskan KKA (Kode Klasifikasi Arsip), Indeks Subjek dan Tahun pada tab folder


    Pengkodean (Coding), adalah kegatan pemberian tanda atau kode yang mewakili arsip yang akan menunjukkan pada tempat yang paling pas dalam fle. Dengan kode tersebut petugas dapat mensortir atau menempatkan arsip sesuai kelompoknya.


    Jenjang masalah dalam sekat

    Jenjang Masalah

     

  • Pengelompokkan kode yang sama


    Pembuatan Label (labeling)


    Dibuat Penyekat Primer, Sekunder dan Tertier
    Contoh: Cuti Tahunan
    Contoh: Perjalanan Dinas
    Sekat Berkas Tes Kesehatan yang diurut berdasarkan Tahun
    Sekat Tugas Belajar a.n. Pegawai

  • Diisi Form Daftar Isi Bekas Arsip, tempel di depan Folder nya

    Membuat Daftar Isi BerkasMembuat Daftar Isi Berkas DP3

  •  

    Daftar Isi Berkas ada di dalam setiap folder berkas yang mempunyai Kode Klasifikasi yang sama

    Contoh penempelan Daftar Isi Berkas Arsip di folder

    Contoh penempelan Daftar Isi Berkas Arsip di folder


  • Penataan Berkas

    Pembuatan tunjuk silang (Cross reference). Tunjuk silang dipergunakan apabila:
    1) Ada arsip yang mempunyai 2 masalah atau lebih
    2) Apabila ada pergantian nama (orang, organisasi atau perusahaan, nama tempat dsb.)
    3) Jika ada surat yang lampirannya bukan merupakan surat, seperti: disket, buku dsb.
    Tunjuk silang pada dasarnya merupakan catatan agar dapat memperoleh informasi arsip baik secara langsung (intern file) ataupun tidak langsung (antar file).
    Tunjuk silang langsung adalah menunjukkan keterkaitan informasi arsip dari file itu sendiri (intern file) karena file tersebut dipandang perlu menggunakan tanda (X), atyau dengan istilah “Lihat (See)”.
    Tunjuk silang tidak langsung menunjukkan keterkaitan informasi arsip dengan file atau berkas lain, biasanya menggunakan tanda (XX), atau dengan istilah lihat juga (See also),
    Contoh: Surat dari ANRI tentang Diklat Kearsipan yang ditunjukan kepada suatu instansi dapat dikenal dengan: Diklat Kearsipan (sebagai subyek) atau dengan ANRI (asal arsip).

    Tunjuk Silang Langsung

    Tunjuk Silang Langsung


    Buat Daftar Berkas Arsip setiap laci Filling Cabinet, simpan di dalam laci ybs.

    Membuat Daftar Berkas

    Daftar Berkas ini di tempel di box atau di laci filling cabinet

 

Penulis: Anita Handayani


Form D.1.1 PENCIPTAAN ARSIP

Form D.1.1 PENCIPTAAN ARSIP

Form D.1.1. untuk Pencipta Arsip

Form D.1.1 Pencipta Arsip

Penjelasan atau petunjuk pengisian Form D.1.1 Penciptaan Arsip:

  1. Form D.1.1 Penciptaan Arsip adalah formulir isian yang harus diisi oleh Pencipta Arsip, yaitu petugas persuratan (pengelola arsip) yang berada di sekretariat kantor.  Form ini ditandatangani oleh KTU nya.
  2. Kesesuaian format (spasi, jarak tepi, huruf, tata letak, dll) naskah dinas dengan pedoman.
    Maksudnya adalah Apakah dalam penulisan surat dinas apakah sudah sesuai dengan format yang tercantum pada Tata Naskah Dinas IPB?

Surat Dinas / Naskah Dinas

Ketentuan cara penulisan Naskah / Surat Dinas pada Tata Nsskah Dinas (TND) IPB:

  1. Surat Dinas merupakan naskah dinas yang berisi hal penting berkenaan dengan administrasi institusi.
  2. Pejabat yang berwenang menandatangani Surat Dinas untuk tingkat IPB adalah Rektor, Wakil Rektor, dan Sekretaris Institut. Untuk tingkat fakultas/sekolah adalah Dekan. Untuk tingkat unit kerja yang berwenang menandatangani adalah pimpinan unit kerja yang membuat Surat Dinas
  3. Naskah surat dinas diketik dengan jenis huruf Times New Roman dengan ukuran huruf 11 atau 12, di atas kertas A4.
  4. Kepala surat dinas menggunakan tatacara pembentukan dan format kepala naskah dinas.
  5. Kata nomor diketik di sebelah kiri di bawah garis kepala surat dinas.
  6. Nomor urut tidak dikombinasikan dengan huruf.
  7. Kata lampiran diketik di bawah kata Nomor dan menyebutkan jumlah lampiran.
  8. Jumlah lampiran yang dapat diketik dengan satu atau dua kata diketik dengan huruf dan diawali dengan huruf kapital, tidak didahului atau diikuti angka, sedangkan yang tiga kata atau lebih diketik dengan menggunakan angka Arab.
  9. Kata lampiran tidak diketik apabila tidak ada yang dilampirkan.
  10. lampiran tidak harus diberikan kepada semua tembusan.
  11. Hal surat dinas berisikan inti keseluruhan isi surat dinas diketik dengan huruf kapital pada setiap awal kata tanpa diakhiri tanda baca.
  12. Kata hal (bukan perihal) diketik di bawah kata lampiran dan apabila tidak ada yang dilampirkan, kata hal diketik di bawah kata nomor.
  13. Tanggal surat dinas diketik di sebelah kanan sebaris dengan nomor surat.
  14. Tanggal surat dinas tidak disertai nama tempat pembuatannya.
  15. Alamat tujuan surat dinas pengetikan alamat tujuan surat didahului frasa yang terhormat disingkat Yth. kemudian nama jabatan atau nama orang yang dituju.
    Singkatan Yth. diketik di bawah kata Hal (bukan perihal)
    Nama tempat pada alamat yang dituju tidak didahului kata depan di.

  16. Nomor halaman naskah diketik dengan menggunakan Nomor halaman naskah diketik dengan menggunakan nomor urut angka Arab dan dicantumkan secara simetris di tengah atas dengan membubuhkan tanda hubung (-) sebelum dan setelah nomor, kecuali halaman pertama naskah dinas yang menggunakan kop naskah dinas tidak perlu mencantumkan nomor halaman.

Isi surat dinas terdiri atas:

  1. pendahuluan merupakan kalimat pembuka isi surat dinas, diketik singkat dan jelas;
  2. awal kalimat isi surat dinas diketik di bawah dan sejajar dengan alamat tujuan surat;
  3. isi pokok berisi uraian dari inti surat dinas; dan
  4.  kalimat penutup merupakan kalimat yang mengakhiri isi surat dinas.

Penutup surat dinas terdiri atas:

  1. nama jabatan penanda tangan surat dinas yang diketik di bagian kanan bawah dengan huruf kapital pada setiap awal kata, kecuali kata penghubung, dan diakhiri tanda baca koma (,);
  2. nama pejabat yang menandatangani surat dinas diketik di bawah, sejajar dengan nama jabatan, dan menggunakan huruf kapital pada setiap awal kata tanpa diapit dengan tanda kurung dan garis bawah. Nama pejabat sebagaimana dimaksud dapat mencantumkan gelar akademik;
  3. anda tangan pejabat dibubuhkan di antara nama jabatan dan nama pejabat;
  4. singkatan NIP diketik di bawah dan sejajar dengan nama pejabat yang menandatangani serta menggunakan huruf kapital tanpa diakhiri dengan titik dan diikuti dengan nomor tanpa jarak;
  5. cap dinas atau cap jabatan dibubuhkan dengan menyentuh bagian sisi kiri tandatangan pejabat; dan
  6. apabila ada tembusan, dibuat dengan menggunakan tatacara sebagaimana pembuatan tembusan pada surat edaran.
  7. Setiap surat dinas sebelum ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dibubuhi paraf terlebih dahulu oleh pejabat yang bertugas menyiapkan konsep surat dinas tersebut. Paraf dibubuhkan disebelah kiri/sebelum nama pejabat penandatangan paraf surat dinas.
  8. Jika diperlukan boleh mecantumkan footer, misalnya logo ISO, Akreditasi, dan kotak paraf.

Ketentuan jarak spasi adalah sebagai berikut:

  1. jarak antara baris pertama dan kedua adalah satu spasi.
  2. Jarak antara judul dan subjudul adalah empat spasi.
  3. Jarak antara subjudul dan uraian adalah dua spasi.
  4. Jarak masing-masing baris disesuaikan dengan keperluan.
  5. Dalam penentuan jarak spasi, hendaknya diperhatikan aspek keserasian dan estetika, dengan mempertimbangkan isi naskah dinas.

Penentuan Batas/Ruang Tepi

Demi keserasian dan kerapian (estetika) dalam penyusunan naskah dinas, diatur supaya tidak seluruh permukaan kertas digunakan secara penuh. Oleh karena itu, perlu ditetapkan batas antara tepi kertas dan naskah, baik pada tepi atas, kanan, bawah, maupun pada tepi kiri sehingga terdapat ruang yang dibiarkan kosong. Penentuan ruang tepi dilakukan berdasarkan ukuran yang terdapat pada peralatan yang digunakan untuk membuat naskah dinas, yaitu

  1. ruang tepi kiri : sekurang-kurangnya 3 cm dari tepi kiri kertas; batas ruang tepi kiri tersebut diatur cukup lebar agar pada waktu dilubangi untuk kepentingan penyimpanan dalam ordner/snelhechter tidak berakibat hilangnya salah satu huruf/kata/angka pada naskah dinas;
  2. ruang tepi atas : apabila menggunakan kop naskah dinas, 2 spasi di bawah kop, dan apabila tanpa kop naskah dinas, sekurang-kurangnya 2 cm dari tepi atas kertas;
  3. ruang tepi kanan : sekurang-kurangnya 2 cm dari tepi kanan kertas.
    Catatan:
    Dalam pelaksanaannya, penentuan ruang tepi seperti tersebut di atas bersifat fleksibel, disesuaikan dengan banyak atau tidaknya isi suatu naskah dinas. Penentuan ruang tepi (termasuk juga jarak spasi dalam paragraf) hendaknya memperhatikan aspek keserasian dan estetika.
  4. ruang tepi bawah : sekurang-kurangnya 2,5 cm dari tepi bawah kertas.

Contoh format penulisan Surat Dinas yang benar :

Contoh Penulisan Naskah / Surat Dinas IPB sesuai Pedoman TND

Contoh Penulisan Naskah / Surat Dinas IPB sesuai Pedoman TND

Contoh Penulisan Lampiran Naskah / Surat Dinas IPB sesuai Pedoman TND

Contoh Penulisan Lampiran Naskah / Surat Dinas IPB sesuai Pedoman TND

Link terkait: Bentuk Form Surat Dinas Baru

NOMOR dan KODE SURAT

CONTOH FORMAT PEMBERIAN NOMOR DAN KODE SURAT

a. Surat yang dibuat dan ditandatangani oleh Rektor atau Wakil Rektor.

a. Surat yang dibuat dan ditandatangani oleh Rektor atau Wakil Rektor.

b. Surat yang dibuat dan ditandatangani oleh Dekan Fakultas Pertanian.

b. Surat yang dibuat dan ditandatangani oleh Dekan Fakultas Pertanian.

c. Surat yang dibuat dan ditandatangani oleh Ketua Departemen Arsitektur Lansekap Fakultas Pertanian.

c. Surat yang dibuat dan ditandatangani oleh Ketua Departemen Arsitektur Lansekap Fakultas Pertanian.

d. Surat yang berasal dari Rektor dan ditandatangani oleh Kepala LPPM dengan penyebut a.n. (Rektor).

d. Surat yang berasal dari Rektor dan ditandatangani oleh Kepala LPPM dengan penyebut a.n. (Rektor).

Surat yang berasal dan ditandatangani oleh Direktur Sumberdaya Manusia.

Surat yang berasal dan ditandatangani oleh Direktur Sumberdaya Manusia.

Surat yang berasal dan ditandatangani oleh Ketua MWA yang bersifat rahasia.

Surat yang berasal dan ditandatangani oleh Ketua MWA yang bersifat rahasia.

KEPALA NASKAH DINAS
(KOP SURAT)

Tatacara pencantuman kepala naskah dinas:

  1. lambang Institut Pertanian Bogor sesuai dengan yang ditetapkan dalam statuta, nama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, nama Institut Pertanian Bogor, alamat, dan garis penutup;
  2. nama Institut Pertanian Bogor dicetak lebih tebal dan nama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tidak dicetak tebal;
  3. nama unit kerja yang dipimpin oleh Kepala Biro, Direktur, Kepala Kantor, dan Ketua Departemen di lingkungan Institut Pertanian Bogor tidak dicantumkan pada kepala naskah dinas;
  4. nama organ, fakultas, sekolah, lembaga, pusat dan unsur penunjang di lingkungan Institut Pertanian Bogor dicetak di bawah nama Institut Pertanian Bogor dengan huruf kapital dengan warna hitam;
  5. alamat diketik lengkap pada baris akhir tanpa singkatan atau akronim (penggalan) disertai kode pos, telepon, faksimile, email, dan website;
  6. kepala naskah dinas ditutup dengan menggunakan garis tebal tunggal dengan ukuran garis 21/4 pt dengan warna hitam;
  7. jarak garis penutup dari tepi atas kertas sekitar 4,5 cm;
  8. pengetikan nama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dicetak pada baris pertama menggunakan huruf Times New Roman ukuran 14, nama Institut Pertanian Bogor dicetak pada baris kedua menggunakan huruf Times New Roman, ukuran 14 cetak tebal, nama unit dibawah Institut Pertanian Bogor pada baris ketiga, masing-masing dicetak dengan huruf kapital, dan alamat menggunakan huruf Times New Roman ukuran 12.

Contoh kepala naskah dinas:

  1. Contoh kepala naskah dinas IPB
  2. Contoh kepala naskah dinas Fakultas di IPB
  3. Contoh kepala naskah dinas Dewan Guru Besar IPB
  4. Contoh kepala naskah dinas Lembaga di IPB
  5. Contoh kepala naskah dinas Pusat-pusat di IPB
  6. Contoh kepala naskah dinas Unit Kerja di IPB
Kepala Naskah Dinas IPB sesuai Pedoman TND

Kepala Naskah Dinas IPB sesuai Pedoman TND

Kepala Naskah Dinas Fakultas Pertanian IPB sesuai Pedoman TND

Kepala Naskah Dinas Fakultas Pertanian IPB sesuai Pedoman TND

Kepala Naskah Dinas Dewan Guru Besar IPB sesuai Pedoman TND

Kepala Naskah Dinas Dewan Guru Besar IPB sesuai Pedoman TND

Kepala Naskah Dinas Lembaga di IPB sesuai Pedoman TND

Kepala Naskah Dinas Lembaga di IPB sesuai Pedoman TND

Kepala Naskah Dinas Pusat di IPB sesuai Pedoman TND

Kepala Naskah Dinas Pusat di IPB sesuai Pedoman TND

Kepala Naskah Dinas Unit Kerja di IPB sesuai Pedoman TND

Kepala Naskah Dinas Unit Kerja di IPB sesuai Pedoman TND

 

File Excell Form D.1.1 PENCIPTAAN ARSIP ini bisa di download  disini: formulir_d_untuk_pengawasan_kearsipan.xls
File pdf Form D.1.1 PENCIPTAAN ARSIP ini untuk bisa langsung di print bisa di download disini: formulir_d_1_1_1_untuk_pencipta_arsip.pdf

Kepala naskah dinas dalam bentuk file DOC bisa di download disini:

  1. contoh_bentuk_kop_surat_ipb.doc
  2. contoh_bentuk_kop_surat_fakultas_pertanian_ipb.doc
  3. contoh_bentuk_kop_surat_dewan_guru_besar_ipb.doc
  4. contoh_bentuk_kop_surat_lembaga_di_ipb.doc
  5. contoh_bentuk_kop_surat_pusat_di_ipb.doc
  6. contoh_bentuk_kop_unit_kerja_di_ipb.doc

 

SURAT TUGAS

  1. Pengertian
    Surat tugas merupakan naskah dinas yang berisi penugasan dari pejabat yang berwenang kepada seseorang untuk melaksanakan suatu kegiatan. Surat tugas dapat berbentuk lembaran surat atau kolom.
  2. Kewenangan
    Pejabat yang berwenang menandatangani Surat Tugas untuk tingkat IPB adalah Rektor, Wakil Rektor, dan Sekretaris Institut. Untuk tingkat fakultas/sekolah adalah Dekan. Untuk tingkat unit kerja yang berwenang menandatangani adalah pimpinan unit kerja yang membuat Surat Tugas.
  3. Naskah surattugas diketik dengan jenis huruf Times New Roman
    dengan ukuran huruf 12, di atas kertas A4.

Bagian-bagian surat tugas terdiri atas:

  1. Kepala
    Kepala surat tugas, baik yang berbentuk lembaran surat maupun kolom menggunakan tatacara pembentukan dan format kepala naskah dinas.
  2. Pembuka

Pembuka surat tugas terdiri atas:

  1. frasa surat tugas diketik di bawah kepala surat dengan huruf kapital secara simetris; dan
  2. Kata nomor diketik sejajar dengan frasa surat tugas, diawali dengan huruf kapital.

Surat Tugas berbentuk lembaran

Contoh frmat Surat Tugas berbentuk Lembaran

Contoh frmat Surat Tugas berbentuk Lembaran

Isi surat tugas yang berbentuk lembaran surat terdiri atas:

  1. nama jabatan pemberi tugas diketik di sebelah kiri di bawah kata nomor;
  2. kata nama diketik di bawah dan sejajar dengan awal frasa nama jabatan pemberi tugas;
  3. singkatan NIP diketik di bawah dan sejajar dengan kata nama;
  4. pangkat dan golongan serta jabatan penerima tugas;
  5. kata jabatan diketik di bawah dan sejajar kata pangkat dan golongan; dan
  6. maksud, tanggal dan tempat penugasan, diketik di bawah dan sejajar dengan kata jabatan, didahului dengan kata untuk.

Surat Tugas berbentuk kolom

Contoh frmat Surat Tugas berbentuk Kolom

Contoh frmat Surat Tugas berbentuk Kolom

Isi surat tugas yang berbentuk kolom terdiri atas:

  1. nama jabatan pemberi tugas diketik di sebelah kiri di bawah kata nomor;
  2. kolom isian surat tugas berisi nomor, nama, NIP, pangkat dan golongan, serta jabatan yang diberi tugas diketik di bawah dan sejajar dengan kalimat awal nama jabatan pemberi tugas; danmaksud, tanggal, dan tempat penugasan diketik di bawah kolom sejajar dengan nomor isi kolom dan didahului dengan kata untuk.

PEMAKAIAN SINGKATAN a.n.

a.n. diketik dengan huruf kecil, masing-masing diakhiri titik, digunakan hanya jika yang berwenang menandatangani surat mendelegasikan penandatangan surat kepada pejabat setingkat dibawahnya, sedangkan pertanggungjawaban isi surat tetap di tangan yang memberi kuasa.
Contoh:

Contoh pemakaian singkatan a.n.

Contoh pemakaian singkatan a.n.

ALAMAT SURAT

A.    Alamat surat dicantumkan pada:

  1. sampul surat; dan
  2. surat.

B.    Alamat pada sampul surat perlu dicantumkan:

  1. singkatan Yth.;
  2. nama jabatan;
  3. unit kerja;
  4. alamat lengkap;
  5. nama kota; dan
  6. kode pos.

C.    Alamat pada surat terdiri atas:

  1. singkatan Yth.;
  2. nama jabatan;
  3. unit kerja;
  4. nama kota.

D.    Pencantuman kata penyapa
Pencantuman kata penyapa, seperti bapak, ibu, atau saudara di depan nama jabatan dan gelar tidak diperlukan, baik pada sampul maupun pada surat.

E.    Sampul surat untuk surat keluar (eksternal) IPB
Sampul surat untuk surat keluar IPB menggunakan sampul surat berwarna coklat berkop IPB.

F.    Sampul surat untuk surat didalam (internal) IPB
Sampul surat untuk surat internal IPB menggunakan sampul surat berwarna putih polos berkop IPB dan bukan sampul buatan dari kertas bekas.

Pengurusan Surat Menjadi Arsip

Pengurusan Surat Menjadi Arsip

Surat setelah diberi nomor register barulah resmi menjadi arsip.

Pengertian Arsip Menurut UU No. 43 Tahun 2009
Arsip adalah Rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Arsip pada pokoknya terdiri dari Arsip Dinamis dan Arsip Statis.

Arsip pada pokoknya terdiri dari Arsip Dinamis dan Arsip Statis.

Penulis: Anita Handayani


Persyaratan SDM Pengawasan Kearsipan

Persyaratan SDM Pengawasan Kearsipan

Persyaratan SDM untuk untuk dapat melakukan Pengawasan Kearsipan

Persyaratan SDM untuk untuk dapat melakukan Pengawasan Kearsipan

Persyaratan SDM untuk dapat melakukan Pembinaan atau Pengawasan Kearsipan:

  1. Pejabat Struktural/Pengelola Arsip di Unit Kearsipan
  2. Fungsional Arsiparis Tingkat Terampil maupun Ahli
  3. Pegawai yang sudah mengikuti diklat teknis kearsipan

 

 

Penulis: Anita Handayani


Akreditasi Lembaga Kearsipan IPB Tahun 2013-2016

Akreditasi Lembaga Kearsipan IPB Tahun 2013-2016

Pada tanggal 2 Desember 2013, Lembaga Kearsipan IPB yang biasa dikenal dengan sebutan Unit Arsip mendapat sertifikat Akreditasi dari ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA.  Akreditasinya bernilai B, berlaku dari tahun 2013 – 2016 (berlaku 3 tahun saja).  Artinya tahun 2017 ini harus diperbaharui lagi akreditasinya.

Akreditasi Unit Arsip IPB Tahun 2013-2016 mendapat nilai B dari Kepala ANRI.

Akreditasi Unit Arsip IPB Tahun 2013-2016 mendapat nilai B dari Kepala ANRI.

Pada saat ini baru 2 perguruan tinggi yang di akreditasi lembaga kearsipannya yaitu UGM dan IPB.  UGM mendapatkan nilai akreditasi dengan kategori A.

Dengan nilai B ini berarti Lembaga Kearsipan IPB perlu lebih berbenah diri lagi, agar bisa mendapat nilai A.  Perlu mendapat perhatian yang lebih lagi dari pimpinan tertinggi Institut Pertanian Bogor.

Untuk mendapatkan nilai A tersebut saat ini sedang usaha dilaksanakan:

  1. Pengawasan Internal Kearsipan keseluruh unit kerja (sedang berlangsung)
  2. Sedang diproses JRA yang di akui oleh ANRI
  3. Beberapa waktu yang lalau IPB melakukan Diklat Fungsional Arsiparis Ahli secara mandiri yang dilaksanakan pada tanggal 11 April 2016 sampai dengan 10 Juni 2016 bertempat di Kampus IPB Darmaga Bogor, dari hasil Diklat ini terdapat 12 orang calon Arsiparis Ahli, adapun nama-nama nya yaitu:
    1. Primus Sanbein, SE (Fikri)

    2. Kusnani Sita Handayu, ST (Noni)

    3. R. Muhamad Maulana, S.Sos

    4. Martianah

    5. Yuni Puspita Sari, MM

    6. Vera Nora Indra Astuti, S.Pt, MM

    7. Abdullah Hudri, SH

    8. Waluyo, SE

    9. M. Zaenal Mutaqin, SE

    10. Haeranto Haerul Krismatika, SE
    11. Adelya, S.TP, MM

    12. Suhamba, SS

Yang masih menjadi PR sampai sekarang adalah sempitnya ruangan yang dimiliki oleh Unit Arsip IPB, sehingga hal ini menjadi kendala dalam pembuatan Depo Arsip (yaitu ruangan untuk menyimpan arsip statis). Masih minimnya perhatian dari pimpinan kepada Pengelola Arsip yang berprestasi.

Penulis: Anita Handayani


Cara Membuat Box Arsip

Cara Membuat Box Arsip

Berikut adalah tulisan saya tentang cara membuat atau merangkai lembaran box arsip sehingga membentuk sebuah box arsip yang siap pakai. Box arsip ini biasa digunakan untuk menyimpan dokumen atau berkas atau arsip surat yang sudah jarang digunakan dalam kegiatan sehari-hari atau untuk menyimpan arsip yang bernilai sejarah.  Arsip yang sudah jarang digunakan biasanya disebut arsip arsip in aktif. Dan arsip yang disimpan selamanya karena mempunyai nilai sejarah disebut arsip statis contohnya surat nikah, surat tanah, surat rumah (akta jual beli), surat gedung, sertifikat kursus, ijazah dsb.

Box arsip ini memiliki lubang ventilasi udara di depan dan dibelakangnya sehingga udara tetap mengalir dan arsip yang disimpan didalamnya tetap terjaga tetap kering, tidak lengket karena berjamur.

Cara Membuat atau Melipat atau Merangkai Box Arsip:

  1. Diawali ketika menerima kiriman Lembaran Box Arsip seperti gambar dibawah ini:

    Lembaran Box Arsip

    Lembaran Box Arsip

  2. Pertama kali bentuk menjadi seperti gambar dibawah ini
Cara Melipat Lembaran Box Arsip Tahap Pertama

Cara Melipat Lembaran Box Arsip Tahap Pertama

  • Kedua, dorong bagian atas ke dalam, seperti gambar dibawah ini

    Cara Melipat Lembaran Box Arsip tahap Kedua

    Cara Melipat Lembaran Box Arsip Tahap Kedua

  • Ketiga, masukkan  kedalam bagian yang ada di kiri dan dikanan

    Cara Melipat Lembaran Box Arsip Tahap Ketiga

    Cara Melipat Lembaran Box Arsip Tahap Ketiga

  • Keempat, masukkan bagian tutup ke lubang “kunci”

    Cara Melipat Lembaran Box Arsip Tahap Keempat

    Cara Melipat Lembaran Box Arsip Tahap Keempat

  • Kelima, tampilan akhirnya seperti gambar dibawah ini

    Cara Melipat Lembaran Box Arsip Tahap Kelima

    Cara Melipat Lembaran Box Arsip Tahap Kelima

  • Keenam, tampilan Box Arsip siap untuk digunakan

    Cara Melipat Lembaran Box Arsip Tahap Keenam

    Cara Melipat Lembaran Box Arsip Tahap Keenam

  • Selesai. Selamat Mencoba. Jika menemukan kesukaran silahkan meninggalkan pesan di kotak komentar.

Link Terkait:
Kepka ANRI No.11 Tahun 2000 tentang STANDAR BOX ARSIP

Copyright © Anita Handayani


Panduan Lomba Web IPB Tahun 2016

Panduan Lomba Web IPB Tahun 2016

Latar Belakang

Penilaian situs web perguruan tinggi merupakan salah satu tolak ukur dalam perangkingan perguruan tinggi (Isidro Aguillo, 2003). Indikator utama penilaian adalah kelengkapan komponen informasi yang ada dalam sebuah web perguruan tinggi. Informasi ini meliputi profil, kinerja, publikasi, kemahasiswaan, pengajaran, kegiatan, pendukung, dan hal-hal lainnya yang mencerminkan sebuah perguruan tinggi. Lebih jauh lagi, informasi tersebut haruslah mudah ditemukan oleh pencari informasi, karena hal ini juga merupakan sarana publikasi dan promosi keunggulan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang efektif dan efisien kepada masyarakat luas.

Situs web IPB dan unit-unit di dalamnya telah ada dan sebagian besar telah memenuhi kelengkapan informasi yang sesuai standar IPB. Standar IPB ini selalu dimutakhirkan untuk mengikuti standar perguruan tinggi internasional yang ada, sehingga dalam hal ini situs web IPB berikut unit-unit di dalamnya pun harus selalu melakukan pemutakhiran agar sesuai dengan perkembangan dunia. Selain itu, upaya ini juga dilakukan dalam rangka mendukung program pemerintah agar perguruan-perguruan tinggi di Indonesia, khususnya IPB, agar dapat bersaing secara internasional dan memiliki posisi yang cukup tinggi dalam World Class University Ranking.

Pada saat ini, Webometrics merupakan salah satu perangkingan yang cukup mempengaruhi pencitraan suatu perguruan tinggi di dunia. Perangkingan ini menitikberatkan pada kriteria visibility (50%), excellence (30%), presence (10%), dan openness (10%). (http://www.webometrics.info diakses 25 Oktober 2016) . Continue reading


Inpassing Tenaga Fungsional

Inpassing Tenaga Fungsional

Syarat Pengangkatan Pertama dalam Jabatan Fungsional Tertentu.

Syarat Pengangkatan Pertama dalam Jabatan Fungsional Tertentu.

Sehubungan dengan Permen Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI No. 26 tahun 2016 tentang Pengangkatan PNS dalam Jabatan Fungsional melalui Penyesuaian atau Inpassing (Surat dari Direktur SDM IPB Nomor 3265/IT3.23/KP/2017 tertanggal 16 Maret 2017) .

Maka dalam rangka pengembangan JABATAN FUNGSIONAL TERTENTU tersebut, IPB memberikan kesempatan kepada Tenaka Kependidikan untuk BERALIH dari tenaga fungsional umum menjadi tenaga fungsional tertentu sesuai dengan kompetensi yang dipersyaratkan.

Jabatan Fungsional Tertentu yang dimaksud adalah:

  1. Pustakawan,
  2. Arsiparis,
  3. Pranata Laboratorium Pendidikan,
  4. Pranata Humas,
  5. Pengelola Barang dan Jasa,
  6. Analis Kepegawaian,
  7. Pranata Komputer,
  8. Perancang Peraturan Perundang-undangan,
  9. Medik Veteriner,
  10. Perawat,
  11. Auditor,
  12. Peneliti, dan
  13. Dokter

Usia paling tinggi 3 (tiga) tahun sebelum batas usia pensiun.

Tenaga Kependidikan PNS yang berminat diberi kesempatan mendaftar paling lambat Senin, 17 April 2017.

Ayo teman2 Tendik mendaftar, ini Kesempatan yang baik bagi Tendik PNS menjadi Tenaga Fungsional lho.

Continue reading


Tolok Ukur Prasarana dan Sarana Kearsipan

Tolok Ukur Prasarana dan Sarana Kearsipan

Prasarana dan Sarana Kearsipan Arsip Konvensional :

– Gedung Penyimpanan Arsip :

  • Merujuk pada Peraturan Kepala (Perka) ANRI No 03/2000 tentang Standar Minimal Gedung dan Ruang Penyimpanan Arsip Inaktif)
  •  Rekomendasi Standar Depo Arsip Tahun 2013

– Peralatan Kearsipan :

  • Rak : Merujuk pada Perka ANRI No 03/2000,
  • Boks : Merujuk pada Perka ANRI No 11/2000
  • Folder dan Guide Arsip : Merujuk pada Perka ANRI No 10/2000
  • Kertas dan Tinta : Merujuk pada Perka ANRI No 4/2000, Perka No 30/2011
  • Kartu Kendali, Buku Agenda
  • Map Gantung
  • Filling Cabinet
  • Lemari Arsip, Lemari Arsip Tahan Api
  • Rak Arsip, Roll O Pack
Guide/Sekat, Folder, Filling Cabinet, Rak Arsip, Rol O Pack

Guide/Sekat, Folder, Filling Cabinet, Rak Arsip, Rol O Pack

Link Terkait:

Penulis: Anita Handayani


Foto Pemenang Lomba Website 2016

Foto Pemenang Lomba Website 2016
bersama Rektor, Wakil Rektor dan Direktur DIDSI

Dari kanan ke kiri: 1. Dekan FATETA Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc. Juara Web Terbaik Kategori Fakultas dari Fakultas Teknologi Pertanian. http://fateta.ipb.ac.id. 2. Ketua Departemen Agronomi Dan Hortikultura Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si. Juara Terbaik Kategori Departemen: Departemen Agronomi dan Hortikultura. http://agrohort.ipb.ac.id. 3. Ketua Program Studi Mayor Ilmu Ekonomi Dr.Lukytawati Anggraeni, SP, M.Si. Juara Terbaik Kategori Program Studi Pascasarjana: Program Studi Ilmu Ekonomi. http://pascaie.ipb.ac.id. 4. Direktur DPKHA Dr. Ir. Syarifah Iis Aisyah, M.Si. Juara Terbaik Kategori Kantor, Direktorat, Sekretariat, Unit Kerja Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni (DPKHA). http://cda.ipb.ac.id. 5. Pimpinan LPPM: Dr. Ir. Prastowo, M.Eng. Juara Terbaik Kategori Pusat Studi dan Lembaga Penelitian: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). http://lppm.ipb.ac.id. 6. Prof.Dr.Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc. Juara Terbaik Kategori Dosen Juara 1 dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian. http://phariyadi.staff.ipb.ac.id. 7. Rektor Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc. 8. Wakil Rektor Bidang Sarana dan Bisnis Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc. 9. Direktur Direktorat Integrasi Data dan Sistem Informasi (DIDSI) Dr. Ir. Idat Galih Permana,M.Sc. 10. Dr. Kaswanto, S.P, M.Si. Juara Terbaik Kategori Dosen Juara 2 Kategori Dosen dari Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian. http://kaswanto.staff.ipb.ac.id. 11. Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifm, MS. Juara Terbaik Kategori Dosen Juara 3 Kategori Dosen dari Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian.http://hsarifin.staff.ipb.ac.id. 12. Ir. Anita Handayani, Juara Terbaik Kategori Staf Juara 1 dari Kantor Arsip IPB. http://anitanet.staff.ipb.ac.id. 13. Rohmat Ismail, Juara Terbaik Kategori Staf Juara 2 dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. http://rohmatchemistry.staff.ipb.ac.id. 14. Angga Yuhistira Aryanto, S.TP, Juara Terbaik Kategori Staf Juara 3 Staf dari Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian. http://angga.staff.ipb.ac.id. 15. Syarif Abdullah, Juara Terbaik Kategori Mahasiswa Juara 1 dari Mahasiswa Pascasarjana S2 Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. http://syarifabdullah.student.ipb.ac.id. 16. Ridho Ananda, Juara Terbaik Kategori Mahasiswa Juara 2 dari Mahasiswa Pascasarjana S2 Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. http://ridho_insanilmiah.student.ipb.ac.id. 17. Dinda Sekarwati S., Juara Terbaik Kategori Mahasiswa Juara 3 dari Mahasiswa S 1 - Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. http://dinda_sekarwati.student.ipb.ac.id

Dari kanan ke kiri: 1. Dekan FATETA Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc. Juara Web Terbaik Kategori Fakultas dari Fakultas Teknologi Pertanian. http://fateta.ipb.ac.id. 2. Ketua Departemen Agronomi Dan Hortikultura Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si. Juara Terbaik Kategori Departemen: Departemen Agronomi dan Hortikultura. http://agrohort.ipb.ac.id. 3. Ketua Program Studi Mayor Ilmu Ekonomi Dr.Lukytawati Anggraeni, SP, M.Si. Juara Terbaik Kategori Program Studi Pascasarjana: Program Studi Ilmu Ekonomi. http://pascaie.ipb.ac.id. 4. Direktur DPKHA Dr. Ir. Syarifah Iis Aisyah, M.Si. Juara Terbaik Kategori Kantor, Direktorat, Sekretariat, Unit Kerja Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni (DPKHA). http://cda.ipb.ac.id. 5. Pimpinan LPPM: Dr. Ir. Prastowo, M.Eng. Juara Terbaik Kategori Pusat Studi dan Lembaga Penelitian: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). http://lppm.ipb.ac.id. 6. Prof.Dr.Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc. Juara Terbaik Kategori Dosen Juara 1 dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian. http://phariyadi.staff.ipb.ac.id. 7. Rektor Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc. 8. Wakil Rektor Bidang Sarana dan Bisnis Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc. 9. Direktur Direktorat Integrasi Data dan Sistem Informasi (DIDSI) Dr. Ir. Idat Galih Permana,M.Sc. 10. Dr. Kaswanto, S.P, M.Si. Juara Terbaik Kategori Dosen Juara 2 Kategori Dosen dari Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian. http://kaswanto.staff.ipb.ac.id. 11. Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, MS. Juara Terbaik Kategori Dosen Juara 3 Kategori Dosen dari Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian. http://hsarifin.staff.ipb.ac.id. 12. Ir. Anita Handayani, Juara Terbaik Kategori Staf Juara 1 dari Kantor Arsip IPB. http://anitanet.staff.ipb.ac.id. 13. Rohmat Ismail, Juara Terbaik Kategori Staf Juara 2 dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. http://rohmatchemistry.staff.ipb.ac.id. 14. Angga Yuhistira Aryanto, S.TP, Juara Terbaik Kategori Staf Juara 3 Staf dari Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian. http://angga.staff.ipb.ac.id. 15. Syarif Abdullah, Juara Terbaik Kategori Mahasiswa Juara 1 dari Mahasiswa Pascasarjana S2 Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. http://syarifabdullah.student.ipb.ac.id. 16. Ridho Ananda, Juara Terbaik Kategori Mahasiswa Juara 2 dari Mahasiswa Pascasarjana S2 Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. http://ridho_insanilmiah.student.ipb.ac.id. 17. Dinda Sekarwati S., Juara Terbaik Kategori Mahasiswa Juara 3 dari Mahasiswa S 1 – Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. http://dinda_sekarwati.student.ipb.ac.id.

Foto Pemenang Website IPB Tahun 2016

Foto Pemenang Website IPB Tahun 2016

 

1_kudang2_sugiyanta 3_lukytawati4_syarifah5_prastowo6_purwiyatno 7_kaswanto8_hadi9_anita10_rohmat11_angga12_syarif 13_ridho14_dinda

Penulis: Anita Handayani
Sumber Foto : Humas IPB
(Bambang Andri Yanto dan Cecep Abdul Wahab)

Link Terkait:

  1. Sertifikat Juara 1 Kategori Blog Staf Lomba Website Unit Kerja IPB 2016
  2. Horeee… Anitanet Blog Staff Juara Pertama 2016
  3. Penyerahan Sertifikat Akademisi Berprestasi IPB 2016
  4. Foto Pemenang Lomba Website 2016

Cara Pengajuan Jabatan Fungsional Arsiparis

Cara Pengajuan Jabatan Fungsional Arsiparis

Proses Usulan Jabatan Fungsional Arsiparis di Perguruan Tinggi

Proses Usulan Jabatan Fungsional Arsiparis di Perguruan Tinggi

Buat teman2 sesama peserta diklat fungsional arsiparis ingkat Ahli di IPB tanggal 11 April – 10 Juni 2016 yang baru lalu, yang bingung tentang cara mengajukan jabatan fungsional Arsiparis setelah LULUS Diklat kemarin, berikut saya sajikan tulisan ini, yaitu tentang Cara Pengajuan Jabatan Fungsional Arsiparis, khususnya di IPB. Semoga bermanfaat.

Pasal 10 ayat (1a) tentang Tata Cara Penyesuaian/Inpassing dalam Jabatan Fungsional Arsiparis berdasarkan Perka ANRI Nomor 6 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pengangkatan Arsiparis melalui Penyesuaian/Inpassing:

Pejabat Pembina Kepegawaian menyampaikan usulan Penyesuaian/Inpassing dalam jabatan Fungsional Arsiparis kepada Kepala ANRI untuk mendapatkan Rekomendasi/Persetujuan didasarkan pada kebutuhan pegawai sebagaimana yang ada dalam e-Formasi

Pasal 10 ayati (1b) berdasarkan Perka ANRI Nomor 6 Tahun 2017:

Penyampaian usulan sebagaimana dimaksud pada huruf a (tentang Tata Cara Penyesuaian/Inpassing dalam Jabatan Fungsional Arsiparis) dengan melampirkan:

  1. fotokopi Ijazah D.III atau D.IV/S-1/S-2 yang telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang;
  2. fotokopi Surat Keputusan kenaikan pangkat terakhir yang telah dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang;
  3. surat pernyataan dari atasan langsung dan/atau pimpinan unit kerja/ instansi yang menyatakan bahwa yang bersangkutan masih dan telah menjalankan tugas di bidang pengelolaan arsip dan pembinaan kearsipan berdasarkan keputusan pejabat yang berwenang sebagaimana tersebut dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia;
  4. surat pernyataan dari Pejabat Pembina Kepegawaian yang menyatakan bahwa yang bersangkutan:
    a) tidak sedang menjalani/dijatuhi hukuman disiplin sedang atau berat pada masa penyesuaian/inpassing.
    b) tidak sedang menjalani pembebasan sementara dari jabatan
  5. fotokopi penilaian prestasi kerja 1 (satu) tahun terakhir yang dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang;
  6. fotokopi portofolio sebagai hasil pelaksanaan tugas kinerja di bidang kearsipan sesuai dengan jenjang jabatan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 6.

Pasal 1 ayat (10) dalam Perka ANRI Nomor 6 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pengangkatan Arsiparis melalui Inpassing :

Penilaian Portofolio adalah penilaian terhadap kumpulan hasil karya dari seorang calon Arsiparis sebagai hasil pelaksanaan tugas kinerja di bidang kearsipan yang telah ditentukan oleh ANRI.

Pasal 6 ayat (1) dalam Perka ANRI Nomor 6 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pengangkatan Arsiparis melalui Inpassing:

Uji kompetensi bidang kearsipan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf g dan Pasal 3 ayat (2) huruf g dilaksanakan oleh ANRI.

Pasal 6 ayat (2)dalam Perka ANRI Nomor 6 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pengangkatan Arsiparis melalui Inpassing:

Uji kompetensi bidang kearsipan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:

  1. penilaian portofolio untuk Arsiparis Terampil, Arsiparis Mahir, Arsiparis Penyelia, Arsiparis Ahli Pertama dan Arsiparis Ahli Muda;
  2. penilaian portofolio dan wawancara untuk Arsiparis Ahli Madya dan Arsiparis Ahli Utama.

Kelengkapan usulan jabatan Arsiparis yang pertama kali (masing-masing rangkap tiga):

  1. Ijazah Diploma III (D.III) atau berijazah Sarjana (S1) atau Diploma IV (D.IV) BIDANG KEARSIPAN.  Atau Sertifikat LULUS Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Fungsional Arsiparis Tingkat Terampil atau Tingkat Ahli khusus bagi yang mempunyai Ijazah Diploma III (D.III) atau berijazah Sarjana (S1) atau Diploma IV (D.IV) Bidang Ilmu Lain.
  2. DUPAK beserta bukti fisik asli.
  3. Fotocopy NIP Baru.
  4. Fotocopy pangkat terakhir.
  5. Fotocopy Karpeg.
  6. Surat tugas dari atasan langsung yang menyatakan Ybs memiliki pengalaman di bidang kearsipan minimal dua tahun (2 th).
Kelengkapan Usulan Jafung Arsiparis di IPB 2016

Kelengkapan Usulan Jafung Arsiparis di IPB 2016

Karena sekarang sudah ada  Permenpan Nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis maka Kepmenpan Nomor 09/KEP/M.PAN/2002 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis dan Angka Kredit dan Permenpan Nomor PER/3/M.PAN/3/2009 tentang jabatan fungsional Arsiparis dan angka kredit sudah tidak berlaku lagi.

Syarat untuk dapat diangkat menjadi Arsiparis berdasarkan Permenpan Nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis :

  1. TERSEDIA FORMASI untuk Jabatan (Formasi Jabatan) Fungsional Arsiparis Kategori Keterampilan dan atau Keahlian.
  2. Berijazah Diploma III (D.III) atau berijazah Sarjana (S1) atau Diploma IV (D.IV) BIDANG KEARSIPAN
  3. Calon Arsiparis yang berijazah D.III dan S1/D.IV BIDANG ILMU LAIN WAJIB mengikuti dan LULUS PENDIDIKAN dan PELATIHAN Fungsional Arsiparis.
  4. Pangkat paling rendah Pengatur Tingkat I golongan ruang II/c atau Penata Muda golongan ruang III/a.
  5. Nilai kinerja minimal bernilai BAIK dalam satu tahun terakhir.
  6. Memiliki pengalaman di bidang kearsipan minimal dua tahun (2 th).
  7. Usia maksimal tiga tahun (3 th) sebelum batas usia pensiun.
  8. Satu tahun (1 th) sejak diangkat dalam jabatan Arsiparis harus LULUS sertifikasi KOMPETENSI penjenjangan Jabatan Arsiparis. PNS yang menduduki jabatan Arsiparis HARUS memenuhi STANDAR KOMPETENSI sesuai dengan jenjang jabatan.  Kompetensi Arsiparis meliputi kompetensi dalam pengelolaan arsip dinamis, kompetensi dalam pengelolaan arsip statis, kompetensi dalam pemmbinaan kearsipan, dan komm[etensi dalam pengolahan arsip menjadi informasi.  Untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme Arsiparis HARUS DIIKUTSERTAKAN dalam PENDIDIKAN dan atau PELATIHAN. Pendidikan dan atau Pelatihan yang dimaksud adalah dalam bentuk Pendidikan Formal, Pendidikan dan pelatihan fungsional, Pendidikan dan pelatihan teknis, serta pengembangan kompetensi lainnya.
  9. Target Kinerja yaitu nilai SKP > 50%
  10. PNS yang pada saat ditetapkan Peraturan Menteri Nomor 48 Tahun 2014 ini MEMILIKI PENGALAMAN dan MENJALANKAN TUGAS dibidang PENGELOLAAN KEARSIPAN namun memiliki ijazah SLTA maka berdasarkan keputusan pejabat yang berwenang DAPAT disesuaikan (di-inpassing) ke dalam jabatan fungsional Arsiparis kategori Keterampilan.

Syarat Penyesuaian (inpassing) dalam jabatan fungsional Arsiparis:

  1. Pangkat paling rendah Pengatur, golongan ruang II/c.
  2. Memiliki pengalaman dalam pelaksanaan tugas di bidang pengelolaan kearsipan paling kurang dua tahun (2th).
  3. Mengikuti dan LULUS uji kompetensi di bidang kearsipan.
  4. Nilai prestasi kinerja minimal bernilai BAIK dalam satu tahun (1 th) terakhir.
  5. Usia maksimum lima puluh tahun (50 th).

PNS yang disesuaikan (di-inpassing) setelah diangkat dalam jabatan fungsional Arsiparis HARUS memperoleh Ijazah Diploma III (D.III) bidang kearsipan atau bidang lain yang ditentukan oleh instansi pembina, dalam jangka waktu paling lama lima tahun (5 th) terhitung mulai tanggal pengangkatan ybs dalam jabatan fungsional Arsiparis (Pasal 27 ayat 3 Permenpan Nomor 48 Tahun 2014) . PNS yang disesuaikan (di-inpassing) yang tidak memperoleh ijazah D.III sebagaimana yang dimaksud (yaitu paling lama lima tahun (5 th) terhitung mulai tanggal pengangkatan ybs dalam jabatan fungsional Arsiparis) maka DIBERHENTIKAN dalam jabatan fungsional Arsiparis (Pasal 27 ayat 5 Permenpan Nomor 48 Tahun 2014)

Inpassing untung SLTA sudah tidak ada lagi di tahun 2017 ini. Penyesuaian (inpassing) berlaku selama dua tahun (2 th) sejak Peraturan Menteri ini berlaku (Pasal 27 ayat 5 Permenpan Nomor 48 Tahun 2014).  Note: Berarti hanya sampai tahun 2016 ada inpassing buat PNS yang lulusan SLTA? benarkah?.

sebab :

Pasal 5

Permenpan Nomor 26 Tahun 2016 tentang pengangkatan PNS dalam jabatan fungsional melalui penyesuaian/inpassing:
Pengangkatan PNS dalam Jabatan Fungsional melalui Penyesuaian/Inpassing dilaksanakan sampai dengan Desember 2018.

Pengangkatan PNS dalam Jabatan Fungsional melalui Penyesuaian/Inpassing untuk D3 dan S1 dilaksanakan sampai dengan Desember 2018.

Pasal 14 Perka ANRI Nomor 6 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pengangkatan Arsiparis melalui Penyesuaian/Inpassing:

Pejabat Pembina Kepegawaian menyampaikan usulan Penyesuaian (Inpassing) Nasional dalam Jabatan Fungsional Arsiparis kepada Kepala ANRI paling lambat 10 Desember 2018.

Pasal 2 ayat 5a

Permenpan Nomor 26 Tahun 2016 tentang pengangkatan PNS dalam jabatan fungsional melalui penyesuaian/inpassing mengatakan bahwa:

PNS yang melaksanakan Penyesuaian/Inpassing untuk Jabatan Fungsional Ketrampilan harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. berijazah paling rendah SLTA atau sederajat /Diploma I/Diploma II/Diploma III sesuai dengan persyaratan kualifikasi pendidikan dari jabatan yang akan diduduki;
  2. pangkat paling rendah Pengatur Muda, golongan ruang II/a sesuai dengan persyaratan kepangkatan dari jabatan yang akan diduduki;
  3. memiliki pengalaman dalam pelaksanaan tugas di bidang Jabatan Fungsional yang akan diduduki paling kurang 2 (dua) tahun;
  4. mengikuti dan lulus uji kompetensi di bidang Jabatan Fungsional yang akan diduduki;
  5. nilai prestasi kerja paling kurang bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir; dan
  6. usia paling tinggi:
    a. 3 (tiga) tahun sebelum batas usia pensiun dalam jabatan terakhir bagi pejabat pelaksana.
    b. 2 (dua) tahun sebelum batas usia pensiun dalam jabatan terakhir bagi administrator dan pengawas.
  7. Syarat lain yang ditentukan oleh Instansi Pembina.

Pasal 2 Ayat 5b

Permenpan Nomor 26 Tahun 2016 tentang pengangkatan PNS dalam jabatan fungsional melalui penyesuaian/inpassing:

PNS yang melaksanakan Penyesuaian/Inpassing untuk Jabatan Fungsional  Keahlian harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. berijazah paling rendah strata satu (S-1)/Diploma IV (D-IV) atau berijazah paling rendah strata dua (S2) atau yang sederajat dari pendidikan tinggi yang terakreditasi sesuai dengan persyaratan kualifikasi pendidikan dari jabatan yang akan diduduki;
  2. pangkat paling rendah Penata Muda, golongan ruang III/a sesuai dengan persyaratan kepangkatan dari jabatan yang akan diduduki;
  3. memiliki pengalaman dalam pelaksanaan tugas di bidang Jabatan Fungsional yang akan diduduki paling kurang 2 (dua) tahun;
  4. mengikuti dan lulus uji kompetensi di bidang Jabatan Fungsional yang akan diduduki;
  5. nilai prestasi kerja paling kurang bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir; dan
  6. usia paling tinggi:
    a. 3 (tiga) tahun sebelum batas usia pensiun dalam jabatan terakhir bagi pejabat pelaksana.
    b. 2 (dua) tahun sebelum batas usia pensiun dalam jabatan terakhir bagi administrator dan pengawas.
    c. 1 (satu) tahun sebelum batas usia pensiun dalam jabatan terakhir bagi administrator yang akan menduduki Jabatan Fungsional ahli madya.
    d. 1 (satu) tahun sebelum batas usia pensiun dalam jabatan terakhir bagi pejabat pimpinan tinggi.
  7. Syarat lain yang ditentukan oleh Instansi Pembina.

Keputusan PEMBEBASAN SEMENTARA terhadap jabatan fungsional Arsiparis yang dilakukan karena tidak terpenuhinya angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan satu tingkat lebih tinggi (yang dilaksanakan berdasarkan Permenpan Nomor PER/3/M.PAN/3/2009 tentang jabatan fungsional Arsiparis dan angka kreditnya), maka sejak bulan Januari Tahun 2014 sampai dengan Peraturan Menteri ini berlaku, dinyatakan TIDAK BERLAKU (Pasal 28 ayat 2 Permenpan Nomor 48 Tahun 2014).

Usia untuk pertama kali mengajukan jabatan fungsional arsiparis kategori Keterampilan dan Keahlian paling tinggi berumur 55 tahun ?.

Pemberhentian PNS yang mencapai BUP Bagi Pejabat Fungsional:
  • 58 Tahun bagi fungsional Ahli Muda dan Ahli Pertama serta pejabat fungsional terampil
  • 60 Tahun bagi PNS yang memangku jabatan Ahli Utama dan Ahli Madya

Permenpan Nomor 13 Tahun 2016 adalah tentang Perubahan atas Permenpan Nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis.

Pasal 29A pada Permenpan nomor 13 tahun 2016 tentang Perubahan Permenpan nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis :

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, semua petunjuk teknis dan Peraturan pelaksana mengenai Jabatan Fungsional Arsiparis dan Angka Kreditnya dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Menteri ini.

Yang berubah adalah sebagai berikut:

Pasal 1 ayat 11 pada Permenpan nomor 13 tahun 2016 tentang Perubahan Permenpan nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis :

Kegiatan kearsipan adalah kegiatanyang dilaksanakan dalam rangka mendukung penyelenggaraan kearsipan yang meliputi:

  • pengelolaan arsip dinamis,
  • pengelolaan arsip statis,
  • pembinaan kearsipan, dan
  • pengolahan dan
  • penyajikan arsip menjadi informasi.

Pasal 7 ayat 1 pada Permenpan nomor 13 tahun 2016 tentang Perubahan Permenpan nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis :

Jabatan Fungsional Arsiparis merupakan jabatan fungsional kategori:

  1. keterampilan; dan

  2. keahlian.

Pasal 7 ayat 2 pada Permenpan nomor 13 tahun 2016 tentang Perubahan Permenpan nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis :

Jenjang Jabatan Fungsional Arsiparis Kategori Keterampilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi, yaitu:

  1. Arsiparis Terampil/jenjang pelaksana (pensiun umur 58 th);

  2. Arsiparis Mahir/jenjang Mahir (pensiun umur 58 th); dan

  3. Arsiparis Penyelia/jenjang Penyelia (pensiun umur 58 th).

Pasal 7 ayat 2 pada Permenpan nomor 13 tahun 2016 tentang Perubahan Permenpan nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis :

Jenjang Jabatan Fungsional Arsiparis Kategori Keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi, yaitu:

  1. Arsiparis Ahli Pertama/jenjang Pertama (pensiun umur 58 th);

  2. Arsiparis Ahli Muda/jenjang Muda (pensiun umur 58 th);

  3. Arsiparis Ahli Madya/jenjang madya (pensiun umur 60 th); dan

  4. Arsiparis Ahli Utama/jenjang Utama (pensiun umur 60 th).

Pasal 17 Ayat 1 pada Permenpan nomor 13 tahun 2016 tentang Perubahan Permenpan nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis :

Pengangkatan PNS dari jabatan lain ke dalam jabatan Arsiparis Kategori Keterampilan dapat dipertimbangkan dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. tersedia formasi untuk Jabatan Fungsional Arsiparis Kategori Keterampilan;

  2. berijazah Diploma III (D.III) bidang kearsipan atau bidang ilmu lain yang ditentukan oleh Instansi Pembina;

  3. pangkat paling rendah Pengatur, golongan ruang II/c;

  4. memiliki pengalaman di bidang kearsipan paling kurang 2 (dua) tahun;

  5. mengikuti dan lulus sertifikasi Jabatan Fungsional Arsiparis;

  6. nilai kinerja paling kurang bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir; dan

  7. usia paling tinggi 3 (tiga) tahun sebelum batas usia pensiun.

Pasal 17 Ayat 2 pada Permenpan nomor 13 tahun 2016 tentang Perubahan Permenpan nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis :nomor 13 tahun 2016 ttg jafung arsiparis dan angka kreditnya :

Pengangkatan PNS dari jabatan lain ke dalam jabatan Arsiparis Kategori Keahlian dapat dipertimbangkan dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. tersedia formasi untuk Jabatan Fungsional Arsiparis Kategori Keahlian;

  2. berijazah Sarjana (S1)/Diploma IV (D.IV) bidang kearsipan atau bidang ilmu lain yang ditentukan oleh Instansi Pembina;

  3. pangkat paling rendah Penata Muda, golongan ruang III/a;

  4. memiliki pengalaman di bidang kearsipan paling kurang 2 (dua) tahun;

  5. mengikuti dan lulus sertifikasi Jabatan Fungsional Arsiparis;

  6. nilai kinerja paling kurang bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir; dan

  7. usia paling tinggi 3 (tiga) tahun sebelum batas usia pensiun.

Pasal 1 ayat 11 pada Permenpan nomor 13 tahun 2016 tentang Perubahan Permenpan nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis :

Kegiatan kearsipan adalah kegiatanyang dilaksanakan dalam rangka mendukung penyelenggaraan kearsipan yang meliputi pengelolaan arsip dinamis, pengelolaan arsip statis, pembinaan kearsipan, dan pengolahan dan penyajikan arsip menjadi informasi.

Angka Kredit Kumulatif untuk Kenaikan Pangkat/Jabatan Arsiparis Kategori Keterampilan

Angka Kredit Kumulatif untuk Kenaikan Pangkat/Jabatan Arsiparis Kategori Keterampilan

Tugas Pokok Arsiparis Kategori Keterampilan dan Keahlian pada Permenpan nomor 13 tahun 2016 tentang Perubahan Permenpan nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis :

  1. Melakukan kegiatan pengelolaan arsip dinamis,
  2. pengelolaan arsip statis,
  3. pembinaan kearsipan dan
  4. pengolahan dan penyajian arsip menjadi informasi
Angka Kredit Kumulatif untuk Kenaikan Pangkat/Jabatan Arsiparis Kategori Keahlian

Angka Kredit Kumulatif untuk Kenaikan Pangkat/Jabatan Arsiparis Kategori Keahlian

Angka Kredit Kumulatif adalah akumulasi nilai angka kredit minimal yang harus dicapai oleh Jabatan Fungsional Arsiparis sebagai salah satu syarat kenaikan pangkat dan/atau jabatan.

Perka ANRI Nomor 6 Tahun 2017 (Lampiran)

Lampiran Perka ANRI Nomor 6 Tahun 2017 tentang Tata Cara Inpassing Arsiparis berisi tentang CONTOH BENTUK SURAT atau FORMULIR ISIAN

Lampiran Perka ANRI Nomor 6 Tahun 2017 tentang Tata Cara Inpassing Arsiparis berisi tentang CONTOH BENTUK SURAT atau FORMULIR ISIAN

Bentuk Surat atau Formulir Isian untuk Pengangkatan Inpassing Arsiparis:

Contoh Bentuk Surat Kebutuhan Formasi Arsiparis di Instansi ybs

Contoh Bentuk Surat Kebutuhan Formasi Arsiparis di Instansi ybs

Contoh Bentuk Surat Pernyataan Telah Melaksanakan Tugas di Bidang Kearsipan Minimal 2 (dua) Tahun

Contoh Bentuk Surat Pernyataan Telah Melaksanakan Tugas di Bidang Kearsipan Minimal 2 (dua) Tahun

Contoh Bentuk Surat Pernyataan Bersedia Diangkat Menjadi Arsiparis dan Tidak Rangkap Jabatan Fungsional Lainnya

Contoh Bentuk Surat Pernyataan Bersedia Diangkat Menjadi Arsiparis dan Tidak Rangkap Jabatan Fungsional Lainnya

Contoh Bentuk Surat Penilaian Portofolio dan Wawancara Calon Arsiparis

Contoh Bentuk Surat Penilaian Portofolio dan Wawancara Calon Arsiparis

Contoh Bentuk Surat Rekomendasi Kepala ANRI

Contoh Bentuk Surat Rekomendasi Kepala ANRI

Link terkait:

 

Penulis: Anita Handayani

 

 


Older posts