Anita's Personal Blog

Kegiatan Arsiparis | Komputer | Fotografi

Category: Problema Rumahtangga

Tip’s Membina Hubungan Suami Isteri yang Harmonis

Lidya Kandow dan Jamal Mirdad bercerai 8 Maret 2013, Dewi Yull dan Ray Sahetapi bercerai, Ira Wibowo dan Katon Baskara bercerai, Vena Melinda dan Ivan Vadila cerai..

Jamal Mirdad, Naysilla Mirdad, dan Lidya Kandou pada acara Panasonic Award
Jamal Mirdad, Naysilla Mirdad, dan Lidya Kandow

Mendengar mereka memutuskan bercerai seringkali kita dibuat bingung dan kaget, karena di memori fikiran kita mereka mereka selalu tampaknya rukun dan harmonis kenapa tiba2 memutuskan bercerai? Saya yakin mereka menikah dulunya karena benar2 saling mencintai, karena pernikahan dengan beda agama sungguh tidak mudah mendapatkan surat izin nya dari pemerintah.

Lidya Kandow dan Jamal Mirdad selama ini dikenal sebagai pasangan serasi. Meskipun berprofesi sebagai artis yang rawan akan kabar miring, keduanya berhasil melewati 25 tahun perkawinannya dengan lancar. Tiba2 menggugat cerai, ada apa sebenarnya? Sulit buat kita mereka-reka sebabnya, apalagi bagi mereka yang belum pernah mengalami perceraian tentu merasa heran.

Hal ini tak beda dengan pengalaman pribadi saya, di luar, dulu kehidupan rumahtangga saya kelihatan mesra, tapi sebenarnya di dalam rumahtangga selalu “panas” alias bertengkar yang tiada habisnya.

Bersama ini saya coba sajikan Tip’s Membina Hubungan Suami Istri yang Harmonis, semoga bisa membantu buat suami isteri yang ingin mempertahankan rumahtangganya sampai akhir hayat.

TIPS MEMBINA HUBUNGAN SUAMI ISTRI YANG HARMONIS

Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.

Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan.

Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.

Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka.

Beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga, yaitu :

  1. Jangan melihat ke belakang

    Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini. Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.

    Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, amit-amit deh, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.

     

  2. Berpikir objektif

    Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga tidak secara utuh. Cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.

    Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian. Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus melatih kemandirian anak-anak.

     

  3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya

    Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan sudut pandangnya. Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.

    Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Tuhan sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi Tuhan. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.

     

  4. Saling percaya

    Tanpa rasa saling percaya antara pasangan suami-istri, perkawinan tentu tak akan berjalan mulus. Bagaimana bisa mulus jika suami atau istri selalu mengawasi gerak-gerik kita karena ketidakpercayaannya itu? Yang muncul adalah kegelisahan, kecurigaan, kekhawatiran, tak pernah merasa tenteram, dan sebagainya. Ujung-ujungnya, Anda berdua justru saling menyalahkan dan menuduh. Rasa saling percaya akan mengantarkan Anda pada perasaan aman dan nyaman. Kuncinya, jangan sia-siakan kepercayaan yang diberikan suami Anda. Istri tak perlu mencurigai suami, dan sebaliknya, suami juga tak perlu mencurigai istri. Membangun rasa saling percaya juga merupakan perwujudan cinta yang dewasa.

     

  5. Kebutuhan Seks

    Perkawinan tanpa seks bisa dibilang seperti sayur tanpa garam. Hambar. Ya, seks memang perlu. Dan meski aktivitas seks sebetulnya bertujuan untuk memperoleh keturunan, namun manusia perlu juga mengembangkan seks untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan hidupnya. Kegiatan seks mestinya adalah penyerahan total, saling menyerahkan diri kepada suami atau istrinya sehingga hubungan terpupuk semakin dalam. Kegiatan seks yang timpang akan menjadi masalah serius bagi suami- istri. Uring-uringan, cekcok, dan ahkan mencari pelampiasan di luar, merupakan akibat yang biasanya muncul jika soal yang satu ini muncul.

    Prinsip hubungan seks yang baik adalah adanya keterbukaan dan kejujuran dalam mengungkapkan kebutuhan Anda masing-masing. Intinya, kegiatan seks adalah untuk saling memuaskan, namun perlu dihindari adanya kesan mengeksploitasi pasangan. Kegiatan seks yang menyenangkan akan memberikan dampak positif bagi Anda berdua.

     

  6. Hindari pihak ketiga

    Kehidupan perkawinan merupakan otonomi tersendiri, yang sebaiknya tak dicampuri oleh pihak lain, apalagi pihak ketiga. Kehadiran pihak ketiga yang ikut campur tangan atau mempengaruhi dan masuk ke wilayah otoritas keluarga, bisa menciptakan bencana bagi rumah tangga tersebut. Banyak contoh keluarga yang hancur gara-gara pihak ketiga ikut main di dalamnya. Entah campur tangan mertua, saudara ipar, kekasih simpanan, tetangga, dan sebagainya. Jadi, bila Anda menginginkan kehidupan rumah tangga Anda langgeng bahagia, sebisa-bisanya hindari campur tangan pihak ketiga.

     

  7. Menjaga romantisme

    Terkadang, pasangan suami-istri yang sudah cukup lama membangun mahligai rumah tangga tak lagi peduli pada soal yang satu ini. Tak ada kata-kata pujian, makan malam bersama, bahkan perhatian pun seperti barang mahal. Padahal, menjaga romantisme dibutuhkan oleh pasangan suami-istri sampai kapan pun, tak cuma ketika mereka berpacaran. Sekedar memberikan bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat romantis akan kembali memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup Anda. Apalagi kalau diberikannya pada moment2 khusus, misalnya di hari ulang tahunnya. Tentu, ujung-ujungnya pasangan suami-istri akan merasa semakin erat dan saling membutuhkan.

     

  8. Adakan komunikasi

    Komunikasi juga merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami-istri. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tanga. Bagaimana mungkin hubungan Anda dengan suami akan mulus jika menyapa pun Anda enggan. Jika rumah tangga adalah sebuah mobil, maka komunikasi adalah rodanya. Tanpanya, tak mungkin rasanya rumah tangga berjalan.

    Banyak terjadi, suami atau istri apatis terhadap pasangannya karena terlalu sibuk bekerja. Suami-istri bekerja, sementara anak sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga rumah hanya seperti tempat kos, masing-masing pribadi tidak saling tegur sapa. Ini sama halnya menaruh bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Bisa-bisa, di antara Anda kemudian mencari pelampiasan dengan mencari teman di luar untuk curhat dan tak betah lagi tinggal di rumah. Jadi, cobalah untuk selalu menjaga komunikasi dengan suami. Luangkan waktu untuk duduk atau ngobrol bersama, sekalipun hanya 5 menit setiap hari. Teleponlah (misalnya menanyakan sudah makan siang atau belum) atau kirimkan imel pada saat Anda berdua berada di kantor Anda masing-masing. Atau makan siang bersama jika memungkinkan. Intinya, ciptakan komunikasi, sehingga masing-masing pribadi merasa dibutuhkan.

     

  9. Saling memuji dan memperhatikan

    Meski sepele, pujian atau perhatian sangat besar pengaruhnya bagi suami, dan sebaliknya. Ucapan bernada pujian akan semakin memperkuat ikatan suami-istri. Tanpa pujian atau perhatian, bisa-bisa yang ada hanya saling mencela dan merendahkan. Memberikan pujian ringan seperti “Masakan Mama hari ini luar biasa, lho!” atau “Wah, Papa tambah keren pakai dasi itu.” Ucapan-ucapan sepele seperti itu akan memberikan dorongan/semangat yang luar biasa. Pasangan Anda pun akan merasa dihargai. Memuji tak butuh biaya atau ongkos mahal, kok. Yang dibutuhkan adalah ketulusan dan rasa cinta pada pasangan.

     

  10. Sertakan sakralitas dalam rumah tangga

    Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada agama. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan.

    Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, yaitu Tuhan Maha Pencipta. Pasangkan rasa baik sangka kepada Tuhan. Tataplah hikmah di balik masalah. Yakinlah bahwa ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.

    Lakukanlah pendekatan dengan terus berdo’a. Jangan genggam masalah sendiri tapi serahkan ke Tuhan, niscaya masalah yang berat bisa terasa ringan. Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata.

     

  11. Saling memberi hadiah pada momen khusus

    Anda pasti merasa happy apabila pasangan memberi hadiah pada momen istimewa, hari ulang tahun, ulang tahun perkawinan, promosi dan seterusnya. Hadiah adalah wujud apresiasi terhadap pasangannya. Dalam pemberian hadiah tidak akan dipermasalahkan nilainya, tetapi ketulusan hati dan apresiasi menjadi nilai yang sangat tinggi. Dengan hadiah maka kehangatan hubungan suami isteri akan tetap terjaga.

     

  12. Berdua pada saat istimewa

    Saat berdua biasanya sangat sulit didapatkan apabila keluarga sudah memiliki anak, karena mereka menyita waktu yang cukup banyak. Pun demikian, momen itu masih tetap diciptakan walaupun intensitasnya agak sulit. Tetap saja usahakan momen ini ada, apakah sebulan sekali atau pada ulang tahun perkawinan. Tentu sangat indah mengenang saat pertama berkenalan, berpacaran dan seterusnya, seolah hal ini masih ada walau sudah menjadi suami isteri.

     

  13. Kalimat Sakti

    Buatlah pasangan anda senang dengan kalimat sakti. Kalimat sakti bisa bermacam-macam sesuai dengan karakter keluarga. Bisa “I love you”, “I miss you”, “You are my hero”, “Saya ingin cepat pulang, lebih suka saya berada dirumah bersama keluarga” dan seterusnya. Kalimat sakti menjadi sngat spesial pada saat pasangan sedang berjauhan atau menjalankan tugas di luar kota dalam jangka waktu tertentu.

     

  14. Jadilah Pribadi yang Menyenangkan

    Mulailah dari diri sendiri, jadilah pribadi yang senantiasa dinantikan kehadirannya. Menjadi pribadi yang menyenangkan akan membuat semua anggota keluarga betah berada di rumah. Misalnya dihari libur, buatlah makanan istimewa yang dibuat sendiri untuk dimakan bersama2.

     

  15. Jadilah Pendengar yang Baik

    Menjadi pendengar yang baik, terdengar sederhana bukan? Tapi pada prakteknya hal ini cukup sulit bagi sebagian orang. Misalnya mendengarkan cerita anak atau cerita pasangan kita. Hal ini akan membuat anak atau pasangan kita merasa lebih dekat dengan Anda. Hikmahnya, anak atau pasangan kita akan menghormati dan menceritakan semua masalah pada Anda.

     

  16. Jadilah Penolong bagi keluarga

    Persiapkan diri Anda untuk selalu menjadi penolong dalam keluarga. Jika saudara pasangan kita membutuhkan pertolongan, jadikanlah diri kita sebagai orang pertama yang datang untuk menolongnya dengan apa pun yang kita miliki. Hal ini bisa menjadi spirit kebersamaan untuk membangun keluarga harmonis. Siapa yang menebar benih kebaikan maka dia akan menuai buah kebaikan juga.

     

  17. Jadilah Pribadi yang Jujur

    Pedagang yang jujur dicintai para pembelinya. Pemimpin yang jujur dicintai rakyatnya. Suami yang jujur dicintai istrinya, demikian juga sebaliknya. Anak yang jujur dicintai orangtuanya, demikian juga sebaliknya. Pribadi yang jujur dicintai banyak orang, termasuk orang-orang yang ada disekelilingnya yang berdampingan dan beraktivitas yang sama. Orang jujur akan selalu bahagia, tidak takut menghadapi apapun. Termasuk jujur dalam keuangan kepada pasangan adalah sangat penting.

     

  18. Jadilah Orang Pertama yang Mewujudkan Tujuan dalam Keluarga

    Tujuan pertama bekeluarga adalah mewujudkan keluarga yang penuh ketenangan dan penuh cinta kasih. Tujuan ini harus dicapai bersama-sama oleh pasangan suami isteri dan anak-anak.

     

  19. Jadilah Pribadi yang Senantiasa Belajar Memperbaiki Diri

    Tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Sebagus apapun konsep sebuah keluarga harmonis, sehebat apapun upaya yang kita lakukan, pada akhirnya kita harus melakukan evaluasi dan terbuka untuk melakukan perbaikan diri..

     

 

Sumber:
1. http://www.isdaryanto.com

2. http://www.docstoc.com

3. http://www.anneahira.com

 

 

Penulis: Anita Handayani (http://anitanet.staff.ipb.ac.id)

 


Kebiasaan yang Membahayakan Perkawinan

Kebiasaan Yang Membahayakan Perkawinan

 

Tak peduli sudah berapa tahun Anda menikah. Dalam kehidupan sehari-hari

sebetulnya kita dikepung oleh rutinitas yang dapat membuat hubungan dengan pasangan menjadi membosankan.

Masalahnya, rutinitas tersebut sudah berjalan sekian tahun dan sulit dihapus begitu saja. Nah, berikut sejumlah cara untuk mengubah rutinitas tersebut menjadi sesuatu yang menarik dan menyenangkan.

1. NONTON TV SAAT MAKAN MALAM

Sisi Buruk:

Makan malam bersama merupakan saat yang sangat berharga bagi Anda dan pasangan. Dengan menyalakan TV, mau tak mau perhatian Anda berdua otomatis tertuju ke layar teve.

Padahal, makan malam merupakan saat yang tepat bagi Anda berdua untuk saling berbagi cerita tentang kejadian atau hal-hal yang dilakukan sepanjang hari.

Cara Menghentikan:

Sisihkan 30 sampai 45 menit untuk mengobrol tanpa TV yang sedang menyala.

Hal ini memperlihatkan kepada pasangan bahwa bila sedang tidak bekerja, Anda mencurahkan perhatian pada rumah tangga dan keluarga.

Pada saat Anda sedang mengobrol, biarkan telepon yang berdering dan nikmati kebersamaan dengan pasangan.

2. LAMA TAK BERINTIM-INTIM

Sisi Buruk:

Bila kuantitas hubungan seks yang biasa Anda berdua lakukan berkurang, tubuh dan otak menjadi terbiasa melupakan kedekatan dan hal ini dapat menyebabkan hubungan Anda berdua semakin menjauh.

Cara Menghentikan:

Jangan tunggu sampai Anda benar-benar menikmati ketidakintiman hubungan dengan pasangan. Lakukan inisiatif untuk memulai hubungan seks.

3. MELEWATI HARI TANPA NGOBROL

Sisi Buruk:

Secara tak sadar, Anda mulai menumbuhkan perasaan bawah alam sadar bahwa pasangan tidak mempedulikan Anda dan atau sebaliknya.

Cara Menghentikan:

Berikan perhatian-perhatian kecil. Kirimkan kata-kata manis lewat SMS ataupun e-mail dan usahakan melakukan sesuatu yang menyentuh setiap harinya.

Misalnya, memasakkan makanan kegemarannya atau meneleponnya dari supermarket hanya untuk menanya an apakah ada sesuatu yang diperlukannya.

Hal ini memperlihatkan kepedulian Anda pada pasangan.

4. SALING CUEK

Sisi Buruk:

Anda berdua mulai saling tak memperhatikan dan saling menjauh.

Cara Menghentikan:

Usahakan lakukan hal-hal kecil seperti memberi ciuman saat berangkat kerja, menatap mata pasangan pada saat mengobrol, memberi pujian untuk hal-hal kecil yang dilakukannya.

Bila ada hal penting yang perlu Anda bicarakan dengannya, cari waktu yang tepat, semisal saat sudah berduaan di kamar tidur.

5. TAK PERNAH BERTENGKAR

Sisi Buruk:

Ketidaksepahaman di dalam sebuah perkawinan adalah wajar dan perlu. Namun bila suatu masalah dibicarakan sedini mungkin, akan jauh lebih mudah menyelesaikannya daripada dibiarkan menumpuk.

Pasangan yang tak pernah bertengkar justru patut dicurigai.

Meski begitu, jangan juga terlalu sering bertengkar.

Cara Menghentikan:

Bicarakan dengan pasangan bila ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda.

Katakan padanya, ada sesuatu yang membuat Anda sedih.

Entah itu karena ucapannya maupun sikapnya.

Minta agar Anda dan dia bersama-sama mengatasi situasi tersebut.

6. LEBIH SERING PERGI BERSAMA TEMAN

Sisi Buruk:

Memberi kesan bahwa teman-teman Anda lebih penting dan lebih berarti dibanding pasangan.

Cara Menghentikan:

Jadwalkan sekali atau dua kali dalam sebulan untuk pergi bersama teman-teman dan jangan lupa memberitahukan pasangan jauh hari sebelumnya mengenai rencana tersebut.

Memiliki teman memang amat diajurkan dan penting sejauh waktu yang Anda habiskan bersama mereka tidak merusak hubungan Anda dan pasangan.

Dan yang lebih baik lagi adalah bila pasangan mengenal teman-teman Anda sehingga tidak ada kekhawatiran dan kecurigaan dari dirinya.

7. KELEWAT “BEBAS”

Sisi Buruk:

Mungkin bagi Anda bersendawa, menggaruk, mengorek hidung, atau bahkan buang angin sembarangan merupakan sesuatu yang lucu. Yang jelas, jika melewati batas kesopanan, bisa membuat Anda menjadi tidak menarik.

Cara Menghentikan:

Tentukan aturan baru.

Bila Anda tidak melakukannya di depan teman-teman, jangan lakukan di depan pasangan! Minta pasangan untuk mengingatkan Anda.

8. TERLALU MENGUMBAR CERITA

Sisi Buruk:

Kelewat banyak berbagi cerita dengan orang tua atau mertua, memperlihatkan ketidakpercayaan Anda pada pasangan.

Orangtua Anda tidak harus mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh pasangan serta sesuatu yang pasangan tidak ingin mereka mengetahuinya.

Cara Menghentikan:

Hormati dan jaga perasaan pasangan walaupun tanpa kehadirannya.

Bila Anda tidak ingin mengatakan sesuatu di depannya, jangan katakan sama sekali pada siapa pun juga. Anda pun menginginkan hal yang sama, bukan? ***

 

(Terimakasih buat Rustina Phan yang sudah mengirimkan artikel ini ke saya)


Meramal Usia Perkawinan

 
MERAMAL USIA PERKAWINAN
 
Ternyata, usia perkawinan yang sudah terbilang lama bukan jaminan perkawinan tersebut akan langgeng. Mengapa?
Ketika artis terkenal, Dewi Yul, memutuskan bercerai dari suaminya, Ray Sahetapy, banyak orang terkejut. Di mata masyarakat, perkawinan mereka yang telah membuahkan empat anak itu tampak adem-ayem dan sepi dari gosip. Siapa sangka, setelah 24 tahun bersama-sama menjalani manis-pahitnya biduk perkawinan, akhirnya pasangan ini pun berpisah.

Memang, tak ada yang bisa meramal usia perkawinan, apakah bakal langgeng atau putus di tengah jalan. “Perkawinan itu, kan, proses perjalanan panjang hidup bersama. Kalau di dalam proses itu tak ada kesepakatan, ya, bisa saja putus di tahun berapa pun. Bahkan di tahun ke-40 yang nyaris kawin emas. Jadi ada yang sukses berproses, ada yang gagal,” ungkap Drs. Monty P. Satiadarma, MS/AT,MCP/MFCC, seorang terapis keluarga.

Lebih jauh dijelaskan Monty, menikah secara mudah diartikan sebagai persatuan dua pribadi yang berbeda. Konsekuensinya, akan banyak terdapat perbedaan yang muncul saat menjalani perkawinan. “Satu hal yang sering kurang disadari oleh orang yang menikah adalah bersatunya dua pribadi bukanlah persoalan sederhana. Setiap orang mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri dan latar belakang yang seringkali sangat jauh berbeda, entah latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal ataupun pengalaman pribadinya selama ini.Makanya perkawinan adalah proses untuk menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut.”

Berdasarkan itulah, kesuksesan perkawinan ditandai bukan hanya oleh berapa lama hubungan tersebut terjalin, tapi juga intensitas perasaan yang dialami dua orang yang menjalin relasi perkawinan. “Bisa saja di tahun ke-5, proses sharing sudah enggak jalan. Yang ada cuma kekesalan dan kekecewaan. Perkawinan tidak lagi nyaman, tinggal tunggu satu pemicu saja, maka semuanya akan berakhir,” tandas psikolog yang menjadi Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara ini.

PERKAWINAN SEMU

Jadi, mengukur sukses-tidaknya sebuah perkawinan tak bisa semata-mata berpatokan pada lamanya usia perkawinan saja. Apalagi seperti dibilang Monty, di Indonesia, lamanya perkawinan bukanlah ukuran sukses perkawinan tersebut. Banyak pasutri yang menghindari perceraian meski perkawinannya jelas-jelas sudah “ambruk”!

Bagi masyarakat timur yang masih memegang tradisi keluarga, kata Monty, perkawinan adalah bukti komitmen dan perceraian dianggap hal yang tabu. Akibatnya, jika mereka bercerai juga, maka kredibilitasnya akan turun. “Sedapat mungkin mereka mempertahankan karena perceraian mengubah status sosial dan finansial seseorang.”

Belum lagi masalah anak yang dipikirkan dampaknya bila orang tua harus bercerai. “Tak sedikit orang tua yang menunda perceraian hingga anak-anak menjadi dewasa dengan anggapan, mereka akan lebih mudah menerima perceraian orang tuanya.”

Akibat sudah tak sejalan, tetapi karena ngotot mempertahankan perkawinan demi tuntutan masyarakat, akhirnya yang terjadi adalah perkawinan semu. “Ini yang disebut dengan superficial marital relationship. Hidup dalam ikatan yang sah, tapi masing-masing pihak sebenarnya sudah jalan sendiri-sendiri. Mungkin sempat menjalani kehidupan harmonis sekian tahun, selebihnya menjadi pribadi yang asing satu sama lain. Perkawinan diteruskan hanya sebagai upaya memenuhi tuntutan sosial.”

Kesuksesan suatu perkawinan, menurut Monty, harus dilihat dari sejauh mana pasutri merasakan kepuasan hubungan perkawinan pada sebagian besar waktu yang dilalui dalam ikatan perkawinan. Apakah keduanya merasa yakin dan percaya bahwa kebutuhan fisik, emosional, dan psikologisnya terpenuhi dalam kebersamaan dengan pasangan? “Yang sudah menjalani sampai 30 tahun lebih pun belum pernah diteliti, apakah betul mereka menjalani kebersamaan secara terus-menerus dengan sesungguhnya. Mungkin sekian tahun pertama, penuh cinta dan harmonis. Selebihnya, cuma status sosial saja yang mengatakan bahwa mereka menikah,” kata Monty mengakhiri.

KESENJANGAN MENJADI POTENSI KONFLIK

DARI penelitian ditemukan, indikator umum yang terkait dengan kesuksesan perkawinan adalah faktor kesenjangan. Entah dalam hal berpikir, budaya, penghasilan, dan sebagainya. “Misalnya, si istri seorang sarjana sementara suaminya tak sekolah. Awalnya berjalan romantis, tapi lama-lama si suami ini kalau diajak ngomong, kok, enggak nyambung. Akhirnya, salah satu dari mereka jadi “gerah” dan minta cerai karena komunikasi sudah tidak jalan,” papar Monty.

Namun, meski kesenjangan berpotensi mengancam keutuhan perkawinan, bukan berarti pasutri yang sejak semula banyak perbedaan, lalu bakal bercerai di kemudian hari. “Perkawinan adalah suatu dinamika. Jika selama proses perkawinan, kesenjangan-kesenjangan yang muncul sejak awal dan selama perkawinan bisa diterima dan ditolerir, ya, perkawinan bisa jalan terus.” Sebaliknya, ada yang dari awal, pasangan itu dinilai bibit, bebet, bobot-nya sudah oke, ternyata cerai juga. Memang, pada akhirnya, jodoh adalah rahasia Yang Maha Mempertemukan meski semua pasangan tentu bercita-cita melewatkan kawin emasnya.

KUNCI SUKSES PERKAWINAN AWET

KALAU kita menyaksikan pasutri yang mampu bertahan sedemikian lama dalam perkawinan, tentu kita iri dan ingin mengikuti resepnya. Menurut Thomas Rice, dalam bukunya, Intimate Relationship, Marriages and Families, ada beberapa hal yang bisa mengawetkan hubungan suami-istri, yaitu:

* Komunikasi

Yang dimaksud bukan sekadar berbicara, tapi juga mendengarkan. Bila Anda sudah mulai malas mendengarkan pasangan berbicara, berarti Anda telah kehilangan komunikasi.

Tunjukkan sikap yang baik dalam berkomunikasi, yaitu mendengarkan pasangan berbicara sampai selesai, sebelum Anda mengutarakan pendapat Anda sendiri. Ingat, perkawinan adalah timbal-balik di antara dua orang. Semua pihak ingin punya kesempatan berbicara dan hak untuk didengar.

* Kejujuran

Banyak pasangan mengaku, kejujuranlah yang membuat perkawinan mereka bertahan lama. Memang, mengakui dengan jujur kesalahan dan kekhilafan, tak jarang pahit didengarkan, tapi kejujuran akan menyelamatkan hubungan.

* Saling Menghargai

Hubungan perkawinan yang sukses memandang pasangannya sederajat (equal). Jalani perkawinan dengan saling menghargai satu sama lain.

* Saling Percaya

Jangan menghabiskan pikiran untuk terus-terusan tegang dan curiga pada pasangan. Jika suami terlambat pulang dengan alasan lalu-lintas macet, buat apa selalu menjadikannya bahan kecurigaan? Janganlah kecurigaan kecil menjadi ancaman dalam perkawinan.

* Pasangan Adalah Teman

Jadikan pasangan Anda sebagai teman saat suka dan duka, sebab cinta yang awet membutuhkan persahabatan, bukan sekadar emosi.

* Humor

Percintaan yang diselingi humor akan menyejukkan suasana. Jangan ragu untuk tertawa bersama pasangan, termasuk menertawakan hal-hal yang remeh sekalipun.

* Kompromi

Apa yang Anda inginkan darinya dan apa yang dia inginkan dari Anda, perlu dikompromikan untuk mencapai keseimbangan. Seringkali ada hal kecil yang harus dikorbankan untuk memperoleh kebahagiaan.

* Saling Memaafkan

Hubungan perkawinan tak akan langgeng bila salah satu pihak menyimpan dendam. Berilah maaf, jangan menyimpan dendam.

* Cinta

Tumbuhkan perasaan cinta pada pasangan, karena sampai kapan pun, manusia hidup butuh dicintai dan mencintai.

* Doa

Mohonlah berkah dan kemurahan hati-Nya agar cinta dan perkawinan Anda selalu berjalan mulus dan langgeng.

 

Santi Hartono. Ilustrator: Pugoeh


Menjaga Getar Cinta Setelah Ada Anak

MENJAGA GETAR CINTA SETELAH ADA ANAK

Seperti baterai yang harus di-charge berulang-ulang, begitu pula kehidupan percintaan Anda dengan pasangan.

Setelah kehadiran buah hati, banyak pasangan suami-istri yang menempatkan urusan cinta menjadi nomor sekian. “Ah, kayak anak muda aja pake cinta-cintaan segala! Yang penting kan suami bertanggung jawab dan anak sehat,” begitu anggapan seorang ibu muda. Komentar serupa terlontar dari ibu lain, “Waduh, waktu untuk ngurus rumah dan anak aja udah mepet begini. Mana sempat lagi ‘pacaran’ sama suami?”

Padahal, “Getar cinta mutlak dibutuhkan sepanjang usia pernikahan,” ujar A. Kasandravati, Psi., dari Psychological Practice Kasandra Persona Prawacana. Sayangnya, getar cinta bukanlah oksigen di udara bebas yang bisa dengan mudahnya dihirup. Perasaan itu harus diupayakan untuk dipertahankan oleh kedua belah pihak dengan berbagai cara. “Sebab tanpa disadari, kesibukan dan rutinitas sehari-hari bisa membuat perasaan itu jadi tertutup dan berdebu,” imbuhnya.

Sudah menjadi kodrat manusia untuk mencari kesenangan (pleasure) dan mengurangi rasa sakit (pain). Perasaan cinta adalah bagian dari kesenangan. “Mana ada orang yang tidak menikmati perasaan disayang, diperhatikan, dibutuhkan, disanjung dan sebagainya” . Menjadi masalah kalau suami/istri merasa tidak lagi mendapatkannya di rumah kemudian mencarinya di luar. “Ini yang berbahaya karena bisa mengguncang keutuhan perkawinan. Oleh sebab itu mempertahankan getar cinta menjadi sangat penting.”

IDE-IDE SEGAR

Sebelum mengatakan mustahil dengan ide-ide ini, mengapa tidak mencobanya terlebih dulu? Iya sih kehadiran anak memang menuntut suami-istri untuk kembali menyesuaikan banyak hal. Namun “menyegarkan” hubungan seperti masa pacaran dulu bukanlah sesuatu yang mustahil diupayakan. Masing-masing pasangan tentu punya cara yang berbeda dalam mengekspresikan rasa sayangnya. “Pokoknya lakukan saja apa yang dilakukan ketika pacaran dulu.” Secara berseloroh Kasandra menambahkan, “Dulu waktu pacaran kan, psikolognya tidak tahu apa yang dilakukan. Jadi, ya tergantung kreativitas berdua.”

Sebagai panduan, Kasandra menawarkan beberapa ide berikut yang bisa dilakukan.

* Sediakan waktu khusus

Sewaktu pacaran dulu, gangguan sekecil apa pun saat berdua-duaan tentu menjengkelkan. Sampai muncul guyonan bahwa dunia ini milik kita berdua, sementara yang lain cuma ngontrak. Mengapa setelah menikah tidak bisa lagi diusahakan hal yang sama? “Kalau anak nangis gimana? Masak iya sih dicuekin dan tetap asyik pacaran?” Tentu saja tidak perlu sampai setega itu.

Nah, agar segalanya berjalan lancar, atur waktunya. Contohnya jadwalkan setiap Sabtu jam 19.00-21.00 sebagai waktu khusus untuk berduaan saja tanpa kehadiran anak.

Sepanjang waktu tersebut serahkan tanggung jawab anak pada pengasuh. Siapkan beberapa VCD berisi film-film anak yang menarik supaya selama kita tinggal anak tetap asyik dengan dunianya sendiri. Sempatkan waktu tersebut untuk jalan-jalan keluar rumah sekadar menghirup udara segar atau bernostalgia makan di tempat langganan. Jangan anggap remeh aktivitas semacam ini karena bisa menghidupkan kembali romatisme pasangan.

Manfaatkan kebersamaan di mobil sepanjang perjalanan sebagai ajang untuk bicara lebih “dalam”, leluasa dan hangat.

* Jangan pelit memberi perhatian kecil

Ini juga salah satu kiat jitu, semisal mengirim SMS bernada mesra, menyelipkan catatan kecil di tas kerjanya, menatap matanya sambil memberikan senyum penuh arti, mengenakan busana pemberiannya, parfum kesukaannya dan sebagainya. Bukankah melakukan semua hal tersebut tetap bisa dilakukan tanpa harus kehilangan kebersamaan dengan anak? Intinya, hidupkan terus hal-hal personal yang membuat suami/istri merasa tetap tergetar saat bersama dengan pasangannya.

* Bicara apa saja

Memang sulit bicara apa saja dengan pasangan, terlebih bagi individu yang tergolong pendiam. Sementara banyak hal rasanya lebih nyaman dan seru bila dibicarakan dengan orang lain. Padahal semasa pacaran dulu, tak ada yang dirahasiakan kan dari sang kekasih. Rasanya apa saja ingin kita bicarakan dengan si dia. Nah, mengapa tidak mencobanya lagi? Jangan hanya rajin berkeluh kesah pada suami/istri, tapi posisikan pasangan sebagai orang istimewa yang kita percaya untuk mendengar banyak hal. Istilahnya, jangan hanya berbagi duka, tapi sering-seringlah berbagi suka.

* Jaga penampilan

Menjelang bertemu dengan sang pujaan hati, rasanya belum puas kalau belum ngaca berulang kali sekadar untuk memastikan semuanya oke. Tapi kenapa sekarang sarung dan daster yang menjadi busana favorit? Bagaimanapun menjaga penampilan agar selalu rapi dan enak dipandang akan membuat pasangan merasa dihargai dan diistimewakan. Nah, kalau tank-top warna merah menyala itu yang membuatnya jatuh cinta, mengapa tidak sesekali dikenakan kembali?

* Sentuhan

Jangan salah, sentuhan lembut, pelukan mesra, usapan sayang akan terasa amat menyejukkan lo di tengah kegersangan menjalani rutinitas sebagai suami istri. Siapa pun akan merasa tersanjung bila diperlakukan demikian. Ingat, ekspresi cinta tak selalu harus berupa ciuman hangat yang menggelora, kok. Ciuman sekilas di dahi pun terasa menyejukkan bila dilakukan setiap hari penuh cinta sebagai sambutan setelah seharian berpisah dengannya karena harus bekerja.

* Seks berkualitas

Tak bisa dipungkiri, masalah yang satu ini termasuk krusial dalam hubungan suami istri. Banyak suami yang jadi enggan menyentuh istrinya setelah melahirkan dengan berbagai alasan. Padahal rumah tangga yang sehat salah satunya ditandai dengan hubungan seksual yang berkualitas.

Tak ada salahnya menjadwalkan bulan madu kedua, ketiga dan seterusnya supaya gairah tetap berkobar seperti api olimpiade.

JANGAN BIARKAN BERLALU

Tidak ada kata terlambat untuk mulai menumbuhkan getar-getar cinta lagi, meski telah sekian lama absen. Hubungan yang dibiarkan datar dan dingin, akan membuat suami/istri gampang terjebak dalam kejenuhan. Bukan tidak mungkin karena merasa jenuh dengan kehidupan rumah tangganya, pasangan jadi lebih rentan menghadapi berbagai godaan di luaran.

Bahkan untuk pasangan yang sepertinya belum pernah merasakan getaran cinta, entah karena dijodohkan atau dipaksa pun belum terlambat untuk memulainya. Jangan jadikan kehadiran si kecil sebagai penghalang. “Bukan pada tempatnya pasangan suami-istri merasa bersalah pada anak karena ‘pacaran’ lagi setelah hadirnya si kecil di antara mereka. Karena pada dasarnya keinginan untuk dicintai itu kebutuhan tiap manusia, kok,” kata Kasandra pula.

Sumber: Marfuah Panji Astuti.


Bila Pasangan Sakit Berat

 

BILA PASANGAN SAKIT BERAT 

 

 

Tumbuhkanlah empati. Dengan begitu kita bisa menjadi pendamping yang sangat memberi makna baginya saat menghadapi penderitaan.

Bayangkan, tutur Dra. Tisna Tjandra, Psi., bagaimana beratnya peran yang mesti dijalani sang istri bila ia mendapat tambahan peran sebagai pencari nafkah utama, pengatur rumah tangga, sekaligus pemelihara anak-anak dan sebagainya. Atau sebaliknya, jika istri yang mengidap penyakit berat, bisa dibayangkan bagaimana sulitnya memahami dan menerima keterbatasannya. Terutama, ketika dia merasa tak bisa melayani kebutuhan seksual sang suami.

Sementara suami pun, selain harus memenuhi kebutuhan kesehariannya sendiri, ia mendapat tugas tambahan mengantar istri ke rumah sakit, menggantikan peran istri, sekaligus meredam dorongan kebutuhan seksualnya. Pendek kata, “Masa-masa ini bisa menjadi masa yang paling berat bagi kedua pasangan. Mereka butuh tenaga, kesabaran, dan mental ekstra untuk menghadapinya.”

 

Direktur Spectrum Treatment and Education Centre ini melanjutkan, “Emosi dan kondisi psikis masing-masing pihak bakal sangat terpengaruh akibat adanya masalah medis ini. Adanya perubahan sikap, tentu akan mempengaruhi perasaan pasangan lain. Entah sekadar bertanya-tanya, kasihan tapi tak tahu harus berbuat apa, ikut prihatin, atau ngotot dilibatkan dalam mencari solusinya.”

 

DITUNTUT BERSIKAP BIJAK

 

Untuk itulah, pasangan yang kebetulan sehat dituntut mampu bersikap bijak menghadapi masalah yang sensitif ini. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu proses penyembuhan atau setidaknya meringankan beban pasangan yang tengah terbaring sakit.

* Yakinkan diri, Anda mampu menghadapi sekaligus menjalani dan melewati saat-saat yang memberatkan itu. Barengi pula dengan kesadaran untuk berkorban.

 

* Hindari berkeluh kesah di depannya, meskipun sebetulnya Anda sudah sangat letih secara fisik dan psikis merawatnya.

 

* Singkirkan ucapan-ucapan bernada penyesalan telah menikahinya. Yakinlah, kendati harus menjalani berbagai cobaan, kebahagiaan pasti akan direngkuh, “Meski mungkin dalam bentuk lain,” ujar Tisna.

 

* Tumbuhsuburkan sikap empati dalam diri setiap anggota keluarga dengan mendudukkan diri pada posisinya dan ikut merasakan penyakit yang tengah dideritanya. Ketahuilah, jika memang memungkinkan, dia pasti tak ingin merasakan beratnya penderitaan. “Hanya saja,” pesan Tisna, “jangan sampai empati ini berkembang menjadi bumerang. Misalnya, hanyut dalam kesedihan atau tidak mau makan, hingga akhirnya jatuh sakit.”

 

* Kondisi kesehatan kita yang prima sangat dibutuhkan untuk memotivasi kesembuhan pasangan. Kalau kita ambruk, lalu siapa yang akan merawat pasangan yang sedang sakit?”

 

* Jangan sesekali berpikir untuk mengurangi porsi cinta pada pasangan, apalagi mengubahnya dalam bentuk lain hanya karena dia sedang sakit. Jangan pula menganggapnya sebagai orang yang tak lagi berharga. Cuma seonggok daging yang berbaring menunggu ajal menjemput, misalnya. Lagi-lagi hidupkan komitmen Anda ketika menikah untuk tetap menjadi pendamping hidupnya dalam situasi apa pun.

 

* Jangan lupa selalu memberi support. Di antaranya dengan meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sendirian dalam menjalani cobaan tersebut. Ada orang lain yang mungkin sakitnya lebih parah. Katakan juga Anda siap membantunya. Tentu saja ucapan semacam ini harus dibarengi dengan kenyataan. Support juga bisa dilakukan dengan mendampinginya ke dokter, mendengarkan segala keluh-kesahnya, mengingatkan dia untuk minum obat, mendampingi dan membantunya ketika sedang melakukan terapi, dan sebagainya. Support dari pasangan bisa memperbesar motivasinya untuk sembuh, lo.

 

* Betapapun sibuk luar biasa dengan pekerjaan dan tugas tambahan sesuai dengan peran baru Anda, tetaplah menaruh peduli padanya. Berikan waktu yang cukup untuk menyampaikan perhatian-perhatian kecil, semisal dengan menanyakan bagaimana perkembangan penyakitnya. Ketika pasangan merasa tidak nyaman, contohnya, tanyakan bagian mana yang terasa sakit dan apa yang bisa kita perbuat untuk mengurangi rasa sakit atau tak nyaman tadi.

 

* Tetap akui dan hargai keberadaannya. Jangan hanya karena dia sakit berat dan tak bisa berperan banyak, kita lantas mengabaikannya dalam pengambilan keputusan. Meski sebatas sumbang saran, si sakit tetap harus diajak omong. Dengan begitu, perannya sebagai suami/istri dan ayah/ibu, tetap diindahkan dan ini ikut memotivasinya untuk sembuh. Ironis bila dengan alasan tak mau menambah bebannya, kita tidak melibatkannya dalam urusan-urusan penting. Sikap salah kaprah begini justru memangkas motivasi si sakit untuk sembuh.

 

* Jangan lupa, sampaikan pengertian pada anak-anak bahwa ayah/ibunya sedang sakit dan butuh perawatan intensif. Sampaikan pula dengan kondisi seperti itu sebaiknya mereka tidak melakukan sesuatu yang bisa memberatkan penyakitnya. “Namun biasanya, bila anak melihat kita merawat suami/istri dengan penuh ketelatenan, tanpa dijelaskan pun anak sudah bisa membaca kondisi kesehatannya. Tanpa diminta mereka akan ikut merawatnya,” papar Tisna.

 

* Boleh-boleh saja kita memakai jasa perawat, tapi Anda jangan lepas tangan begitu saja. Yang juga perlu diingat, perawat seringkali mengerjakan tugasnya hanya sebatas tuntutan pekerjaan. Sentuhan emosi yang Anda berikan pada pasangan jelas tak tergantikan dengan kehadiran orang lain.

 

 

Kala Hubungan Intim Dibatasi

 

Penyakit yang berat sekali biasanya tidak membolehkan penderitanya melakukan hubungan intim. Bila demikian, apa yang mesti dilakukan? Tisna menyarankan agar mencari bentuk-bentuk kepuasan seksual sebatas pelukan atau ciuman ringan.

Ingatkan pula diri Anda bahwa tujuan menikah tak melulu hanya soal memuaskan kebutuhan seksual. Pasangan yang sehat mesti bisa memahami sekaligus berempati mengapa pasangannya yang tengah sakit tak bisa melakukan hubungan intim. Dengan ikut merasakan apa yang diderita pasangan, Anda akan bisa, kok, meredam dorongan tersebut.

 

Atau, alihkan ke aktivitas lain yang positif, di antaranya berolahraga. Jangan malah mencari orang ketiga yang bisa merusak hubungan dengan pasangan dan menambah penderitaannya.

 

“Sekalipun sekadar curhat, sebaiknya hindari, deh! Soalnya, dikhawatirkan curhat ini berlanjut dengan tindakan membanding-bandingkan orang ketiga dengan pasangan yang sedang sakit. Untuk meminimalkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, kalau benar ingin curhat, sebaiknya datang ke kalangan profesional, seperti psikolog atau psikiater.”

 

Bila Pasangan Harus Masuk Rumah Sakit

 

Bila pasangan harus rawat inap di rumah sakit, Tisna menganjurkan agar keluarga membuat pengaturan waktu yang baru sesuai perubahan ritme dan beban kesibukan baru yang mesti dijalani keluarga.

Bila kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan dan bisa ditinggal, cukup temani sepulang kerja sampai keesokan harinya saat berangkat kerja. Namun, agar anak-anak di rumah tidak terabaikan, aturlah jadwal bergantian menemani anak-anak di rumah dan pasangan di rumah sakit. Begitu ada waktu luang, sempatkan untuk menjenguknya. Tetaplah menjaga kontak, semisal dengan terus memantau perkembangannya lewat telepon. Ingat, perhatian yang Anda berikan bisa menjadi obat mujarab bagi pasangan.

 

Barulah kalau ia masuk rumah sakit dalam keadaan darurat, apalagi sampai masuk ICU (Intensive Care Unit) yang berarti sangat butuh perhatian penuh, mau tidak mau kita harus total meninggalkan segala aktivitas agar bisa senantiasa berada di sisinya. Selain bisa meringankan bebannya, kita pun tak perlu menyesal bila terjadi hal-hal yang tidak terduga dan tidak diinginkan. “Bila perlu, minta izin khusus atau ambil cuti agar bisa memberi pelayanan terbaik karena di saat-saat kritisnya dia pasti butuh pendamping dan support yang sangat tinggi.”  

 

 

Irfan Hasuki. Foto: Vitri/nakita


Tip’s Menjaga Kehangatan Suami Isteri


 TIP’S MENJAGA KEHANGATAN SUAMI ISTERI
Sediakan selalu waktu untuk berbicara dengannya.  Pasangan Anda tidak bisa “membaca” pikiran Anda bila Anda enggan mengungkapkannya.  Sampaikan maksud dan keinginan Anda dengan jelas dan tuntas.  Sebaliknya, Anda pun harus membuka diri untk mendengarkan dengan teliti apa saja yang dikatakan pasangan Anda.

Selalu sediakan waktu untuk untuk berdua.  Cinta tidak akan terpelihara bila kita `tidak mau menyediakan waktu untuknya.  Selalu tempatkan keutuhan hubungan Anda sebagai prioritas utama.

Seimbangkan waktu yang Anda sediakan untuk pekerjaan dengan waktu untuk pasangan Anda.

Maklumi perbedaan-perbedaan yang ada antara Anda dan dia.  Baik perbedaan sikap maupun pandangan.  Anda tidak harus menjadi dia, begitu pula sebaliknya.  Ingatlah, setiap manusia itu unik.  Tidak ada dua manusia yang sama persis di muka dunia ini, bahkan saudara kembar sekalipun.

Tentukan arah rumahtangga Anda.  Rancanglah kehidupan dimasa depan bersama dengan pasangan Anda.

Sedapat mungkin, hindari tindakan mengkritik atau menyalahkan satu sama lain.  Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

Berilah perhatian dan bersikaplah romantis.  Coba kenang indahnya masa-masa saat Anda masih pacaran.  Pertahankan pelukan mesra, kecupan sayang, hingga hadiah bunga dan cokelat.  Jangan ragu mengirim sms atau memo atau surat berisi ungkapan cinta Anda padanya.

Jangan habiskan energi pada pekerjaan Anda.  Sisihkan untuk bersenang-senang bersama pasangan.  Pergilah berdua ke tempat-tempat yang menyenangkan.  Rayakan hari-hari penting Anda berdua, misalnya hari ulang tahun perkawinan atau hari pada saat Anda pertama kali pergi berdua denganya..

 

(Dikutip dari Tabloid Nova 11-08-2002)