Pertanyaan dari SMD di Yogyakarta
:
Saya seorang laki-laki, pensiunan guru PNS, yang sekarang mengisi waktu hidup saya dengan memberi les privat matematika dan bahasa Inggris anak-anak SMU yang membutuhkan, selain mengikuti acara-acara diskusi bedah buku dan banyak membaca buku-buku filsafat dan kebudayaan. Saya ingin bertanya Dok, apakah ada kaitan antara budaya lokal dengan prilaku manusia baik yang sehat maupun yang terganggu jiwanya? Saya melihat nampaknya penilaian perilaku manusia yang normal itu di berbagai budaya tidaklah sama, demikian pula apa yang dikatakan “sakit jiwa” itu mungkin tidak sama di berbagai tempat dengan corak budaya yang berlainan. Terima kasih atas kesediaan dokter untuk menjawabnya.

Jawaban oleh psikiater Inu Wicaksana:
Bapak SMN yang terhormat,
Alangkah bagusnya kegiatan bapak di masa pensiun, untuk terus belajar dengan banyak membaca buku-buku yang berbobot dan aktif mengajar privat anak-anak SMU yang membutuhkan. Inilah kegiatanyang akan menjaga kemampuan otak kiri dan kanan dan bisa mencegah kepikunan atau dimensia. Ini mirip dengan kegiatan orang-orang usia lanjut di negeri-negeri barat yang di usia lanjut masih aktif membaca, melanglang buana dan menulis, karena cara inilah yang paling tepat untuk mencegah manusia dari demensia senilis.

Ya memang ada kaitan erat antara corak budaya setempat dengan kriteria “sehat mental” maupun bentuk dan struktur jiwa. Orang di Jawa Tengah yang sangat yakin bahwa keris warisan ayahnya itu punya “roh”, bisa glodakan di alam hari dan melesat melesat pergi bila tak cocok dengan pemegangnya, mungkin sudah dikatakan menderita “waham majik-mistik” dari skizofrenia oleh psikiater dari Amerika, padahal orang itu adalah sarjana teknik yang bekerja produkstif di pabrik otomotif. Atau orang di Jawa Timur yang yakin dirinya bisa membaca pikiran orang lain, bisa mengetahui masa depan, dan membuat orang sakit, mungkin sudah didiagnose “skizofrenia” oleh psikiater Eropah, padahal dia adalah seorang petani yang giat bekerja di sawah dan bisa menghasilkan beras untuk makan orang sekampung. Penilaian sehat mental sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan sosial setempat. Demikian pula adanya kasus-kasus kangslupan, kesambet atau kesurupan, tak bisa dijelaskan secara medis ilmiah kecuali dimasukkan dalam kriteria “fenomena yang terkait budaya setempat (culture-bond phenomen).

Meminjam konsep Kiev, pakar psikiatri budaya, penyebab gangguan jiwa adalah tekanan-tekanan (stres) yang non-spesifik, menimbulkan rekasi-rekasi biologik pada individu, dan sekali ini berjalan reaksi tersebut beroperasi tidak tergantung lagi dari tekanan semula. Manifestasi klinik gejala-gejalanya sangat diwarnai oleh faktor-faktor budaya. Gejala-gejala sekunder gangguan jiwa seperti isi dan simbol-simbol dari waham dan halusinasi ditentukan oleh efek patoplastik budaya-budaya tertentu. Waham paranoid orang Sumatera jelas lain dengan waham paranoid orang Jombang, Jatim.

Demikian pula budaya mempengaruhi corak pertahanan psikologik, kriteria dalam memasuki peranan sakit dan sikap terhadap gejala-gejala spesifik. Gejala-gejala sekunder gangguan jiwa mungkin pula disesuaikan dengan harapan-harapan budayanya. Misal dengan menjadi “gila” (insane) individu menerima dan mendapatkan berbagai keuntungan dari peranan sakitnya. Dengan “sakit jiwa” nya individu bisa menarik perhatian dari lingkungannya, hingga mendapatkan dukungan sosial yang dibutuhkannya. Bila gejala-gejala sakit itu ditolerir, diizinkan oleh lingkungan, si sakit tidak akan menderita karenanya dan malah tidak dianggap “sakit”.

Psikiater Lambo (1955) melaporkan bahwa skizofrenia di Afrika terutama menunjukkan gejala keadaan “twillight” atau kebingungan dengan kegelisahan dan waham serta halusinasi yang cepat berlalu. Sedang Carothers (1959) menunjukkan skizofrenia di daerah lain dengan gejala gelisah, banyak bicara, halusinasi visual, menyanyi, menari, bicara sendiri dan jalan-jalan tanpa tujuan. Peneliti Wittkower menyatakan, penarikan diri secara sosial dan emosional yang sering tampak pada skizofrenia di Asia mungkin ada hubungannya dengan pengaruh agama Hindu dan Budha yang menerima cara penarikan diri tersebut sebagai reaksi terhadap kesulitan. Di India dan Mexico ide-ide kejaran (paranoid) biasanya menyangkut ibu tiri, anggota keluarga besar dan roh-roh orang yang sudah meninggal, karena itu merupakan titik-titik tekanan batin di daerah itu.

Menurut peneliti Arieti dan Meth, sakit jiwa tidak perlu merupakan suatu penyimpangan dari norma-norma suatu masyarakat dan tidak usah merupakan ketidaknormalan bila dengan sakit jiwa kita artikan kegegalan mekanisme psikologik adaptif manusia guna secukupnya melawan rangsangan dan tekanan yang dihadapinya. Misalnya, seorang gadis di Melanesia yang takut diracuni adalah “normal” bagi masyarakat Melanesia, tapi “tidak normal” dari sudut pandang kita. Meski demikian kita anggap bahwa dia “tidak menderita sakit jiwa”. Sebaliknya seorang pasien paranoid kita yang takut diracuni, kita anggap “tidak normal” dan “sakit jiwa” karena ketakutan merupakan tanda gagalnya mekanisme adaptif. Maka terbuktilah bahwa budaya bisa memberi corak pada gangguan-gangguan, dan bisa menciptakan tipe-tipe kepribadian yang khusus rentan terhadap gangguan-gangguan tersebut.

Tersirat dari UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, bahwa kesehatan jiwa adalah “keadaan kesejahteraan dari badan, mental, sosial yang sejahtera, yang memungkinkan seseorang hidup harmonis, produktif secara sosial dan ekonomis sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang”. Jelaslah bahwa manusia harus bisa hidup selaras dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial budayanya, fleksibel dan adaptif bila ingin tetap sehat dan tidak terganggu jiwanya.

Sumber: Refleksi Psikiatrik masalah-masah Kesehatan Jiwa oleh Inu Wicaksana (psikiatri, penulis dan pembicara dalam seminar-seminar), penerbit Kanisius Yogyakarta.