BILA PASANGAN SAKIT BERAT 

 

 

Tumbuhkanlah empati. Dengan begitu kita bisa menjadi pendamping yang sangat memberi makna baginya saat menghadapi penderitaan.

Bayangkan, tutur Dra. Tisna Tjandra, Psi., bagaimana beratnya peran yang mesti dijalani sang istri bila ia mendapat tambahan peran sebagai pencari nafkah utama, pengatur rumah tangga, sekaligus pemelihara anak-anak dan sebagainya. Atau sebaliknya, jika istri yang mengidap penyakit berat, bisa dibayangkan bagaimana sulitnya memahami dan menerima keterbatasannya. Terutama, ketika dia merasa tak bisa melayani kebutuhan seksual sang suami.

Sementara suami pun, selain harus memenuhi kebutuhan kesehariannya sendiri, ia mendapat tugas tambahan mengantar istri ke rumah sakit, menggantikan peran istri, sekaligus meredam dorongan kebutuhan seksualnya. Pendek kata, “Masa-masa ini bisa menjadi masa yang paling berat bagi kedua pasangan. Mereka butuh tenaga, kesabaran, dan mental ekstra untuk menghadapinya.”

 

Direktur Spectrum Treatment and Education Centre ini melanjutkan, “Emosi dan kondisi psikis masing-masing pihak bakal sangat terpengaruh akibat adanya masalah medis ini. Adanya perubahan sikap, tentu akan mempengaruhi perasaan pasangan lain. Entah sekadar bertanya-tanya, kasihan tapi tak tahu harus berbuat apa, ikut prihatin, atau ngotot dilibatkan dalam mencari solusinya.”

 

DITUNTUT BERSIKAP BIJAK

 

Untuk itulah, pasangan yang kebetulan sehat dituntut mampu bersikap bijak menghadapi masalah yang sensitif ini. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu proses penyembuhan atau setidaknya meringankan beban pasangan yang tengah terbaring sakit.

* Yakinkan diri, Anda mampu menghadapi sekaligus menjalani dan melewati saat-saat yang memberatkan itu. Barengi pula dengan kesadaran untuk berkorban.

 

* Hindari berkeluh kesah di depannya, meskipun sebetulnya Anda sudah sangat letih secara fisik dan psikis merawatnya.

 

* Singkirkan ucapan-ucapan bernada penyesalan telah menikahinya. Yakinlah, kendati harus menjalani berbagai cobaan, kebahagiaan pasti akan direngkuh, “Meski mungkin dalam bentuk lain,” ujar Tisna.

 

* Tumbuhsuburkan sikap empati dalam diri setiap anggota keluarga dengan mendudukkan diri pada posisinya dan ikut merasakan penyakit yang tengah dideritanya. Ketahuilah, jika memang memungkinkan, dia pasti tak ingin merasakan beratnya penderitaan. “Hanya saja,” pesan Tisna, “jangan sampai empati ini berkembang menjadi bumerang. Misalnya, hanyut dalam kesedihan atau tidak mau makan, hingga akhirnya jatuh sakit.”

 

* Kondisi kesehatan kita yang prima sangat dibutuhkan untuk memotivasi kesembuhan pasangan. Kalau kita ambruk, lalu siapa yang akan merawat pasangan yang sedang sakit?”

 

* Jangan sesekali berpikir untuk mengurangi porsi cinta pada pasangan, apalagi mengubahnya dalam bentuk lain hanya karena dia sedang sakit. Jangan pula menganggapnya sebagai orang yang tak lagi berharga. Cuma seonggok daging yang berbaring menunggu ajal menjemput, misalnya. Lagi-lagi hidupkan komitmen Anda ketika menikah untuk tetap menjadi pendamping hidupnya dalam situasi apa pun.

 

* Jangan lupa selalu memberi support. Di antaranya dengan meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sendirian dalam menjalani cobaan tersebut. Ada orang lain yang mungkin sakitnya lebih parah. Katakan juga Anda siap membantunya. Tentu saja ucapan semacam ini harus dibarengi dengan kenyataan. Support juga bisa dilakukan dengan mendampinginya ke dokter, mendengarkan segala keluh-kesahnya, mengingatkan dia untuk minum obat, mendampingi dan membantunya ketika sedang melakukan terapi, dan sebagainya. Support dari pasangan bisa memperbesar motivasinya untuk sembuh, lo.

 

* Betapapun sibuk luar biasa dengan pekerjaan dan tugas tambahan sesuai dengan peran baru Anda, tetaplah menaruh peduli padanya. Berikan waktu yang cukup untuk menyampaikan perhatian-perhatian kecil, semisal dengan menanyakan bagaimana perkembangan penyakitnya. Ketika pasangan merasa tidak nyaman, contohnya, tanyakan bagian mana yang terasa sakit dan apa yang bisa kita perbuat untuk mengurangi rasa sakit atau tak nyaman tadi.

 

* Tetap akui dan hargai keberadaannya. Jangan hanya karena dia sakit berat dan tak bisa berperan banyak, kita lantas mengabaikannya dalam pengambilan keputusan. Meski sebatas sumbang saran, si sakit tetap harus diajak omong. Dengan begitu, perannya sebagai suami/istri dan ayah/ibu, tetap diindahkan dan ini ikut memotivasinya untuk sembuh. Ironis bila dengan alasan tak mau menambah bebannya, kita tidak melibatkannya dalam urusan-urusan penting. Sikap salah kaprah begini justru memangkas motivasi si sakit untuk sembuh.

 

* Jangan lupa, sampaikan pengertian pada anak-anak bahwa ayah/ibunya sedang sakit dan butuh perawatan intensif. Sampaikan pula dengan kondisi seperti itu sebaiknya mereka tidak melakukan sesuatu yang bisa memberatkan penyakitnya. “Namun biasanya, bila anak melihat kita merawat suami/istri dengan penuh ketelatenan, tanpa dijelaskan pun anak sudah bisa membaca kondisi kesehatannya. Tanpa diminta mereka akan ikut merawatnya,” papar Tisna.

 

* Boleh-boleh saja kita memakai jasa perawat, tapi Anda jangan lepas tangan begitu saja. Yang juga perlu diingat, perawat seringkali mengerjakan tugasnya hanya sebatas tuntutan pekerjaan. Sentuhan emosi yang Anda berikan pada pasangan jelas tak tergantikan dengan kehadiran orang lain.

 

 

Kala Hubungan Intim Dibatasi

 

Penyakit yang berat sekali biasanya tidak membolehkan penderitanya melakukan hubungan intim. Bila demikian, apa yang mesti dilakukan? Tisna menyarankan agar mencari bentuk-bentuk kepuasan seksual sebatas pelukan atau ciuman ringan.

Ingatkan pula diri Anda bahwa tujuan menikah tak melulu hanya soal memuaskan kebutuhan seksual. Pasangan yang sehat mesti bisa memahami sekaligus berempati mengapa pasangannya yang tengah sakit tak bisa melakukan hubungan intim. Dengan ikut merasakan apa yang diderita pasangan, Anda akan bisa, kok, meredam dorongan tersebut.

 

Atau, alihkan ke aktivitas lain yang positif, di antaranya berolahraga. Jangan malah mencari orang ketiga yang bisa merusak hubungan dengan pasangan dan menambah penderitaannya.

 

“Sekalipun sekadar curhat, sebaiknya hindari, deh! Soalnya, dikhawatirkan curhat ini berlanjut dengan tindakan membanding-bandingkan orang ketiga dengan pasangan yang sedang sakit. Untuk meminimalkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, kalau benar ingin curhat, sebaiknya datang ke kalangan profesional, seperti psikolog atau psikiater.”

 

Bila Pasangan Harus Masuk Rumah Sakit

 

Bila pasangan harus rawat inap di rumah sakit, Tisna menganjurkan agar keluarga membuat pengaturan waktu yang baru sesuai perubahan ritme dan beban kesibukan baru yang mesti dijalani keluarga.

Bila kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan dan bisa ditinggal, cukup temani sepulang kerja sampai keesokan harinya saat berangkat kerja. Namun, agar anak-anak di rumah tidak terabaikan, aturlah jadwal bergantian menemani anak-anak di rumah dan pasangan di rumah sakit. Begitu ada waktu luang, sempatkan untuk menjenguknya. Tetaplah menjaga kontak, semisal dengan terus memantau perkembangannya lewat telepon. Ingat, perhatian yang Anda berikan bisa menjadi obat mujarab bagi pasangan.

 

Barulah kalau ia masuk rumah sakit dalam keadaan darurat, apalagi sampai masuk ICU (Intensive Care Unit) yang berarti sangat butuh perhatian penuh, mau tidak mau kita harus total meninggalkan segala aktivitas agar bisa senantiasa berada di sisinya. Selain bisa meringankan bebannya, kita pun tak perlu menyesal bila terjadi hal-hal yang tidak terduga dan tidak diinginkan. “Bila perlu, minta izin khusus atau ambil cuti agar bisa memberi pelayanan terbaik karena di saat-saat kritisnya dia pasti butuh pendamping dan support yang sangat tinggi.”  

 

 

Irfan Hasuki. Foto: Vitri/nakita