Anita's Personal Blog

Kegiatan Arsiparis | Komputer | Fotografi

Korban Bullying Bocah Kelas 2 SD sehingga Meninggal

Syaiful Rahman siswa kelas 2 SD. Korban Bullying berujung maut di SDN Lengkowang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi

Syaiful Rahman siswa kelas 2 SD. Korban Bullying berujung maut di SDN Lengkowang,
Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi

Pagi ini saya benar2 kaget membaca berita di WA group tentang adanya korban bullying bocah kelas 2 SD sehingga meninggal.  Lalu saya langsung searching tentang kebenaran berita tersebut.

Bullying dan tindakan kekerasan antar teman sekolah kembali terjadi, dan memakan korban jiwa. Terjadi pada Anak SD.

Siswa SDN Longkewang  Kabupaten Sukabumi Meregang Nyawa Dipukul Teman Sekelas

Kejadian selasa, 8 agustus 2017
Sekitar pukul 06:00 wib

Kronologi…..

Seorang siswa kelas II SDN Longkewang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, meregang nyawa setelah dipukul teman sekelasnya, Selasa (8/8/2017). Nama korban adalah Saiful Rahman (SR) umur 8 tahun.

Anak pasangan Turki (60), dan Ijah (45) ini diduga meninggal setelah telinganya dimasukan air. Bukan itu saja, korban juga diduga dipukuli dengan cara ditinju di bagian ulu hatinya hingga muntah dan tak sadarkan diri.

Dari keterangan teman sekelas korban, bahwa saat kejadian korban bermain bersama salah satu teman sekelasnya DR (9). Dari penuturan teman sekelasnya, korban ditindih di bagian kepala dan ditinju di sekitar perut tepat di bagian ulu hati hingga muntah.

Wali Kelas 2, Ruhiyat yang sempat berpapasan dengan DI dalam kondisi menangis. Saat ditanya gurunya, DI mengakui telah berkelahi dengan SR hingga tidak sadarkan diri di halaman sekolah.

Mendengar pengakuan siswanya, Ruhiyat langsung ke lokasi dan langsung membawa SR ke ruang kesehatan sekolah.

Guru Ruhiyat bersama para guru lainnya berusaha menolong korban dan akhirnya korban dibawa ke Puskesmas Cicantayan.  Namun saat diperiksa di Puskesmas, korban sudah meninggal dunia.  Setelah korban dinyatakan meninggal dunia lalu dibawa ke RSUD Sekarwangi untuk diotopsi.

Menurut kakak kandung SR, Abdurohim (37 tahun) warga kampung Citiris RT, 05/06, Desa Hergarmanah Kecamatan Cicantayan, ia mendapat kabar adiknya tewas sekitar pukul 06.30 WIB. “Saat itu teman-temannya mengadu SR pingsan setelah dipukuli temannya,” terang SR.

Mendapat kabar, Abdurohim langung menuju sekolah. Ia melihat adiknya terkapar, dan langsung memegang denyut nadi SR. “Saat saya pegang sudah tidak berdenyut nadinya,” kata dia.

Kemudian SR di bawa ke Puskesmas untuk mendapatkan pertolongan, namun pihak Puskesmas mengatakan SR sudah meninggal dunia. Mendapat kabar adiknya meninggal dunia, Abdurohim membawa SR ke RSUD Sekarwangi guna otopsi.

Abdurohim mengatakan, berdasarkan keterangan dari teman-teman SR, adiknya dipukul oleh tamannya hingga terjatuh. Tak hanya dipukul, telinga SR disumbat menggunakan keripik, dan disiram dengan minuman ringan.

“Saya dan keluarga sedang berembuk untuk penyelesaian kasus ini. Dan kami meminta kasus ini diusut tuntas,” katanya.

Kini kasus pemukulan yang menyebabkan siswa kelas II SD meninggal ditangani Polsek Cibadak.

Jajaran kepolisian langsung bergerak cepat pasca kematian tragis SR.

Tim gabungan Polres Sukabumi dan Polsek Cibadak langsung melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab kematian SR tersebut.

“Hasil otopsi kami temukan adanya tindak kekerasan yang dialami korban. Namun, peristiwa penganiayaan itu tidak terlalu mematikan bagi korban,” kata Arif kepada wartawan seusai otopsi, Selasa (8/8/2017) malam.

Menurut Arif, meski ada kekerasan, tapi tidak akan mematikan bagi korban. Pasalnya, korban hanya mengalami luka lecet di bagian pelipis kiri saja.

“Sebenarnya belum seberapa, sebab korban hanya mengalami luka luar saja. Lebih jelasnya harus ada pemeriksaan laboratorium dulu, karena ada kelainan di bagian otak. Hasil lab pemeriksaan otak itu diketahui kami perkirakan dalam waktu dua minggu,” jelasnya.

Menanggapi peristiwa itu, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Sukabumi, Maman Abdurahman, melalui pesan whatsapp mengatakan hasil pemeriksaan dokter, tidak ada bekas pukulan yang fatal.  Dugaan dokter, SR memiliki riwayat penyakit, karena sering mimisan.

Pihak keluarga sudah mencabut laporan dan tidak menindaklanjuti kasus ini.

Tim dokter forensik telah melakukan autopsi terhadap SR (8), siswa kelas II SDN Longkewang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang meregang nyawa usai berkelahi dengan rekannya sendiri.

Dari hasil autopsi ditemukan ada luka lecet di pelipis mata.

“Tapi itu bukan penyebab kematiannya,” ujar Kapolres Sukabumi AKBP M Syahduddi saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (9/8).

Syahduddi melanjutkan, tim dokter forensik menemukan penyebab kematian bocah itu adalah pecahnya pembuluh darah di otak. SR diduga menderita penyakit bawaan berupa pengerasan pembuluh darah di otak.  Jadi ketika ada benturan sedikit saja, seketika suplai oksigen ke otak berhenti. Itu yang menyebabkan kematian,” jelasnya.

Polisi belum bisa memastikan apakah benturan itu akibat pukulan atau terkena benda tumpul. Namun jika dikaitkan dengan adanya luka lecet di bagian pelipis, maka dugaannya korban terkena benda tumpul.

“Kami masih mengumpulkan bukti, tapi karena pelaku dan korbannya adalah anak di bawah umur,  sehingga penyelidikan tentunya berbeda guna menjaga psikologinya,” kata Syahduddi.

Korban SR sudah dimakamkan semalam. “Tadi malam selesai autopsi, sekitar pukul 2.00 WIB langsung dimakamkan keluarga.”

Komnas Perlindungan Anak meminta Kepala Dinas Pendidikan (Kasidik) Kabupaten Sukabumi untuk memintai pertanggungjawaban pihak sekolah dan meminta pihak Polres Sukabumi mengusut tuntas kematian RS.

Kesimpulan dan Analisa saya:

SR siswa kelas II SDN Longkewang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

SR dibullying oleh teman sekelasnya, DI, dengan cara dipukul dengan benda tumpul dibagian pelipis sehingga meninggal dunia.

Penyebab kematian bocah SR tersebut adalah pecahnya pembuluh darah di otak. SR diduga menderita penyakit bawaan berupa pengerasan pembuluh darah di otak.

Maka ketika ada benturan sedikit saja, seketika suplai oksigen ke otak berhenti. Itu yang menyebabkan kematiannya.

Mari teman-teman kita bersama-sama kita suarakan dan lakukan Stop Bullying dimanapun.

Bullying adalah kekerasan fisik dan psikologis jangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan dirinya dalam situasi di mana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang itu atau membuat dia tertekan.

Mengapa Terjadi Bullying dan Siapa yang Bertanggung Jawab?

Siapakah yang bertanggung jawab terhadap timbulnya GANGGUAN TINGKAH LAKU AGRESIF pada murid sekolah ini? Faktor utama yang berpengaruh adalah pengasuhan dan perkembangan mental sejak masa anak (baca:TK,SD). Tentu, tidak bisa lain, orangtua memegang peran sentral. Orangtua harus mendidik dan memberi contoh nilai-nilai moral, budi pekerti, watak ksatria, kejujuran dan tanggung jawab. Menjadi super ego, anak yang menentukan pembentukan ego-nya sehingga anak bisa memilih contoh positif atau negatif dalam kehidupan sehari-hari pada usia remajanya.

Itu berarti harus ada hubungan erat dan komunikasi antara orangtua, khususnya bapak dengan anak laki-laki sejak anak sampai usia dewasa muda. Bila tidak, anak laki-laki tidak bisa mengidentifikasi figir bapak sehingga mencari simbol “heroisme” nya dari tokoh-tokoh berwibawa namun sadis dari kehidupan nyata maupun film dan bacaan.

Tanggung jawab tidak bisa ditimpakan sepenuhnya pada para guru dan pengurus sekolah semata, karena orangtua dan lingkungan sosialpun berpengaruh untuk timbulnya perilaku agresif.

Pengawasan guru dan pengurus sekolah hanya terbatas pada jam pelajaran di sekolah. Mungkin kesalahan guru adalah tidak pekanya terhadap perilaku murid-muridnya di luar kelas pada jam sekolah. Bila guru-guru BP (BK) yang tela ada di tiap sekolah menjalankan tugasnya dengan baik, artinya peka terhadap segala perilaku murid-muridnya dan kejadian agak aneh di sekolah, pastilah pemukulan terhadap SR sehingga berujung maut ini  tidak akan terjadi.

Adalah kesalahan guru pula bila tidak menanggapi serius laporan murid-murid yang teraniaya, atau menganggap hal itu hanyalah “kenakalan anak” biasa yang bisa diselesaikan di antara mereka sendiri.

Upaya dan Strategi Sekolah Menanggulangi Kekerasan

Kekerasan di sekolah umumnya disebabkan karena kurangnya kesetiakawanan dan kerjasama diantara siswa. Bila dilihat fungsi sekolah selain sebagai tempat pendidikan ilmu juga sebagai tempat pendidikan perilaku, guru memang berperan utama karena merupakan agen pelaksana semua kebijakan sekolah yang langsung berhadapan dengan murid.

Para pamong bisa menyediakan diri sebagai konselor, tidak hanya dilimpahkan pada guru BP (BK), guru juga menjadi social support. Sekolah harus mempunyai mekanisme penyelesaian kasus kekerasan dan bullying, seperti membuat bentuk penalti non fisik atau sanksi seperti menarik hak-hak atau fasilitas istimewa murid umumnya atau skorsing dan pemecatan.  Kurikulum sekolah harus lebih berorientasi pada budi pekerti dan solidaritas sosial.

Anak-anak harus diajarkan bagaimana saling membantu antar teman dengan kasih sayang, persahabatan, dan persaudaraan, bukannya saling menyakiti atau mencelakakan. Lapar haus bersama-sama dan makan dengan senang bersama-sama pula. Ajarkan langsung kepada siswa tentang dasar azas kepramukaan bahwa Pandu itu setia, berwatak ksatria, jujur dan bersahaja, bisa dipercaya, siap menolong dan wajib berjasa.

Adakan pelatihan (workshop) yang bertema “Penanggulangan Perilaku Agresif Sosiopatik dan Bullying di Sekolah”. Sebagai peserta adalah para guru umum, guru BP (BK), Kepala Sekolah, wakil-wakil siswa  yang akan menjadi anggota Satgas anti kekerasan. Ikutkan juga kesaksian para orang tua, siswa-siswa korban bullying maupun mantan pelaku bullying. Adakan narasumber guru yang mengajarkan pembentukan budi pekerti yang pas untuk anti kekerasan. Narasumber pelatih pembina pramuka profesional. Narasumber lain adalah dosen pendidikan, psikolog, psikiater khusus, kepolisian Polda/Poltabes, dan ahli agama.

Sumber:

  1. https://magnetberita.com/penyebab-kematian-siswa-sdn-longkewang-akibat-kekerasan/
  2. http://regional.kompas.com/read/2017/08/08/19252521/berkelahi-dengan-temannya-seorang-siswa-kelas-2-sd-di-sukabumi-tewas
  3. https://www.merdeka.com/peristiwa/ini-penyebab-kematian-bocah-sd-usai-berkelahi-dengan-rekannya.html

 

Link terkait:

  1. Stop Bullying, Teror Geng
  2. Bila Penyiksaan, Bullying, dan Teror Geng menjadi Tradisi Murid Sekolah Kita
  3. Tawuran SMA di Depok
  4. Tawuran antar SMA di Depok yang Berujung Maut

 

Penulis: Anita Handayani
http://anitanet.staff.ipb.ac.id


3 Comments

  1. Sedih bacanya ya mbak, semoga tidak ada lagi bullying ataupun kekerasan pada anak/dewasa. Bayangin sedihnya orangtua nya ya.

  2. @Prima Hapsari: Ya benar, hati terasa teriris-iris. Aaamiinn…. Untuk menghilangkan perilaku bullying ini harus dilakukan secara bersama-sama antara orang tua dan fihak sekolah serta psikolog.

  3. Miris lihat kejadian seperti ini.. :-(

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*