Glaukoma

Penyakit glaukoma disebabkan oleh saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar dan kemudian menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata yang akhirnya saraf mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga saraf mata akan mati,

Glaukoma adalah suatu penyakit mata yang tidak disebabkan oleh virus atau kuman, dan juga bukan penyakit akibat kelainan endokrin.

Glaukoma adalah suatu penyakit dimana tekanan dalam mata sesorang sangat tinggi akibat hambatan pada penyaluran cairan dalam mata keluar dari bola mata, sehingga menekan saraf mata yang halus dan berpotensi menyebabkan kerusakan saraf mata.

Glaukoma adalah salah satu jenis penyakit mata dengan gejala yang tidak langsung, yang secara bertahap menyebabkan penglihatan pandangan mata semakin lama akan semakin berkurang sehingga akhirnya mata akan menjadi buta. Hal ini disebabkan karena saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar dan bola mata akan menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata yang akhirnya saraf mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga saraf mata akan mati.

Pada manusia, cairan bola mata selalu dialirkan secara tetap melalui ceah halus (yang disebut trabeculum) disudut bilik mata yang terletak antara selaput bening dan selaput pelangi.

Gejala: Mata menjadi silau bila melihat cahaya yang agak terang dan melihat cahaya terang tersebut seperti ada pelanginya.  Penglihatan menurun dan sering sakit kepala.

Penyakit Glaukoma di Indonesia merupakan penyakit ketiga yang menyebabkan kebutaan di Indonesiadan mengenai sekitar 0.40% dari kasus penyakit mata.

Hingga kini penyebab timbulnya penyakit Glaukoma belum diketahui, namun ada beberapa hal yang ditemukan seperti penyakit ini biasanya:

  1. mengenai manusia dewasa diatas 40 tahun terutama pada usia lanjut

  2. biasanya dalam keluarga sedarah (ayah, ibu, adik, kakak dan anak kandung) terdapat penderita glaukoma

Penyakit ini TIDAK menular pada isteri, tetangga atau orang lain, karena penyakit ini tidak disebabkan oleh viris atau kuman atau kelainan endokrin.

Di Amerika Serikat, penyakit ini lebih dominan pada masyarakat berkulit warna (etnis Afrika) daripada yang berkulit putih (4 : 1)., sedangkan di Indonesia belum ada penelitian mendalam dan menyeluruh mengenai penyakit Glaukoma.

Faktir kelainan peredaran darah seperti darah rendah atau darah tinggi, darah terlalu kental atau adanya fenomena penyakitauto imun meningkatkan adanya kemungkinan Glaukoma.

Penyakit ini dapat pula timbul bila ada perdarahan bola mata akibat benturan benda keras sehingga menimbulkan pendarahan dalam bola mata, atau pada mata yang terinfeksi.

Penderita kencing manis (Diabetes Melitus) juga berpotensi terkena Glaukoma dua kali lebih besar daripada orang normal.

Penanganan secara dini dan teratur dapat menghindarkan penderita Glaukoma dari kebutaan total, oleh karena itu pemeriksaan secara berkala harus dilakukan setiap tahun untuk mendeteksi adanya kelainan Glaukoma terutama pada penderita yang potensial terkena.

Untuk mengetahui ada tidaknya Glaukoma, dokter mata akan melakukan pemeriksaan dasar yaitu:

  1. dengan memeriksa saraf penglihatan,

  2. tekanan bola mata dan

  3. luas lapangan pandangan seorang penderita.

Bila didapat dua hal yang tidak normal dari tiga gejala diatas, maka diagnosis Glaukoma sudah dapat ditegakkan, dan ternyata hampir sebagian besar penderita sering tidak menyadari telah menderita Glaukoma.

Pengobatan tetes mata secara rutin dan berkelanjutan memang harus dilakukan untuk menghindari dari kebutaan.

Ikuti nasehat dokter dan ikuti pemakaianan obat sesuai dengan petunjuk pemakaiannya. Bila terdapat keluhan segera kembali ke dokter mata yang sama untuk mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap, dan jangan ke dokter mata lain untuk menghindari pemeriksaan ulang yang tak perlu, namun pemeriksaan ulang kadang diperlukan untuk second opinion (pendapat kedua).

Bila mendapat lebih dari 1 macam tetes mata, maka pemberian tetes mata obat kedua harus dilakukan selang waktu 15 menit.

Harus yakin telah meneteskan obat mata tepat dimata, dan jangan lupa menempelkan yissue pada tepi mata disekitar hidung untuk mencegah efek samping.

Setelah mata ditetesi dengan obat tetes mata, harap menutup mata selama 3 detik agar obat dapat bekerja dengan baik.

Bila pemeriksaan dilakukan secara dini dan teratur maka dapat menghindarkan penderita glaukoma dari kebutaan.

Penderita glaukomsa boleh tetap berolahraga.

Glaukoma memerlukan pengobatan teratur seumur hidup, dan dengan pengobatan secara dini serta tehnik pembedahan laser mutahir, penyakit ini dapat dikontrol.

Gejala Glaukoma Akut, antara lain :

Keluhan :

  1. penglihatan kabur mendadak 2. nyeri hebat 3. mual 4. muntah 5. melihat halo (pelangi disekitar objek)   Pemeriksaan Fisik : 1. Visus sangat menurun 2. TIO meninggi 3. Mata merah 4. Kornea suram 5. Bilik mata depan dangkal 6. Rincian iris tidak tampak 7. Pupil sedikit memlebar, tidak bereaksi terhadap sinar 8. Diskus optikus terlihat merah dan bengkak   Ada empat jenis utama dari glaukoma:

  2. Buka-angle (kronis) glaukoma.

  3. Sudut tertutup (akut) glaukoma.

  4. Bawaan glaukoma.

  5. Glaukoma sekunder.

Faktor penyebab penyakit glaukoma:

  1. Terdapat riwayat glaukoma dalam silsilah keluarga

  2. Tekanan bola mata yang tinggi

  3. Memiliki penyakit rabun jauh (miopi)

  4. Menderita penyakit diabetes atau kencing manis

  5. Menderita tekanan darah tinggi atau hipertensi

  6. Penderita penyempitan pembuluh darah otak atau sirkulasi buruk disebut juga migrain

  7. Mengalami kecelakaan atau operasi pada mata sebelumnya

  8. Menggunakan steroid dalam jangka waktu yang cukup lama

Sumber:

  1. dr Harus Riyanto dengan judul Buta Mendadak pada Majalah Gemari Edisi 61 Tahun VII Pebruari 2006

  2. http://www.klikdokter.com
  3. pengobatan-penyakit-glaukoma-tradisional-paling-efektif