GANGGUAN AFEKTIF
 

 

Merupakan gangguan pada afeksi (emosi) atau mood (suasana hati) seseorang. Dan penderita dapat mengalami depresi atau manik (kegirangan yang tidak wajar) atau dapat bergantian antara manik dan depresif (Atkinson dkk, 1992).

1. Depresi
Penyebab depresi adalah kegagalan di sekolah, di tempat kerja, atau kegagalan dalam hal cinta. Dan depresi dianggap abnormal ketika depresi tersebut di luar kewajaran dan berlanjut sampai saat di mana kebanyakan orang sudah dapat pulih kembali (Atkinson dkk,1992). 

Depresi pada orang normal seperti keadaan murung (kesedihan, patah hati, dan patah semangat) ditandai dengan tidak puas, menurunnya aktivitas, dan pesimisme.  Sedangkan depresi abnormal seperti ketidakmauan yang ekstrim untuk merespon stimulus dan disertai menurunnya nilai diri, ketidakmampuan, delusi, dan putus asa (Chaplin,1995).  Dan penderita depresi tidak mampu mengambil keputusan untuk memulai suatu kegiatan atau memusatkan perhatiannya dan ekstrimnya penderita dapat disertai adanya kecemasan dan bisa mencoba bunuh diri (Atkison dkk,1992). 

 

2. Episode Manik

Manik dapat diartikan sebagai tingkah laku berang, keras, bengis, kasar, tidak terkontrol, yang disertai tindakan motorik yang berlebihan dan perilaku impulsif.  Dan dikategorikan menjadi episode manik ringan (Hipomania) dan episode parah (Mania). 

Pada episode ringan, penderita penuh dengan energi, antusias, dan percaya diri dan perilaku manik dibandingkan dengan orang normal seringkali lebih mengekspresikan kebencian daripada kegembiraan. 

Dan pada episode parah (mania), penderita amat bersemangat dan harus selalu aktif.  Jika orang lain menggangunya aktivitasnya, maka ia akan marah dan akan menjadi ganas.

Penderita ini selain mengalami disorientasi, juga sering mengalami delusi. 

 

3. Gangguan Manik-Depresif

Gangguan Manik-Depresif  seringkali disebut dengan istilah gangguan bipolar, karena penderita beralih dari satu kutub perasaan ke kutub perasaan lainnya.

Ada beberapa jenis yaitu gangguan efektif ringan, gangguan efektif neurotik, dan psikisis afektif. 

1.     Gangguan Afektif Ringan
Jenis gangguan penting yang termaksud dalam kategori ini adalah Depresi normal, yakni dukacita (grief) atau kepedihan. Gangguan ini merupakan proses psikologis mengikuti pengalaman “kehilangan” (loss) sesuatu yang berharga, seperti kematian seseorang kekasih, putus cinta, perceraian, kehilangan pekerjaan. Ciri-ciri atau tanda-tanda orang yang mengalami depresi normal adalah sebagai berikut :
Tidak beraksi terhadap peristiwa-peristiwa lain yang secara normal akan membangkitkan respon yang kuat, tenggelam dalam fantasi tentang situasi yang menimbulkan kepuasan namun yang kini sudah berlalu, dan akhirnya kembali mampu memberikan respon terhadap dunia luar, kesedihan berkurang, gairah bangkit kembali, dan kembali melibatkann diri dalam kehidupan sehari-hari.  Depresi melibatkan 3 variabel psikologis pokok yakni
(a) ketergantungan, di mana penderita merasa butuh bantuan atau dukungan dari orang lain;
(b) kritik-diri, di mana penderita membesar-besarkan kesalahan atau kekurangan yang ada pada dirinya; dan
(c) inefficacy perasaan tidak berdaya.

2.    Gangguan Afektif Neurotik
Gangguan afektif neurotic adalah gangguan emosi atau mood yang mengakibatkan fungsi dan aktivitas penderita sangat terhambat, namun tidak sampai mengalami putus kontak dengan realitas.  Jenis yang penting adalah depresi neurotic penderita beraksi terhadap situasi yang menekan dengan dengan kepedihan dan kepatahan hati yang luar biasa dan (sering) tidak dapat di pulihkan sesudah sekian lama. Ciri-cirinya adalah putus asa, sedih tak bersemangat, tingkat kecemasan tinggi, aktivitas diri berkurang, selera dan gairah menghilang, prakarsa menghilang, mengeluh sulit berkonsentrasi, susah tidur dan suka terjaga di tengah malam dan tidak dapat tertidur kembali, merasakan keluhan-keluhan somatic tertentu, merasa tegang, gelisah, dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap lingkungan social, tidak mampu mengerjakan tugas dan senang memandang dengan tatapan kosong.
 
3.     Psikosis Afektif
Gangguan ini berbeda dengan depresi neurotic dalam 2 hal.   Pertama gangguan ini mempengaruhi keselurahan kepribadian penderita. Kedua penderita kehilangan kontak dengan realitas.
Ada beberapa gangguan yang termaksud dalam kategori ini.
 

3.1.        Gangguan Depresi Mayor
Ini adalah gangguan afektif berat yang hanya meliputi depresi. Gangguan ini dapat berlangsung sekali atau berulang-ulang.  Ada beberapa sub-jenisnya.

3.1.1.     Gangguan depresi mayor subakut
dengan cirri-ciri: semangat hidup menghilang, aktivitas mental maupun fisik
menjadi lamban, dibutuhkan usaha keras untuk melaksanakan pekerjaan, diliputi
perasaan tidak berharga, gagal, berdosa, dan bersalah, kehilangan selera makan,
sehingga berat badan menurun dan terserang gangguan pencernaan, berbicara dengan
suara monoton dan hemat dalam berkata-kata, senang duduk sendiri dan mengenang
masa lalu, lelah, sembelit dan susah tidur.

3.1.2.     Gangguan depresi mayor akut
dengan ciri-ciri: berangsur-angsur menjadi tidak aktif, cenderung mengisolasi
diri, tidak mau berbicara, dan sangat lambat memberikan respon, merasa bersalah
dan tidak berharga, gelisah, mondar-mandir dan meremas-remas tangan, merasa
bertanggungjawab terhadap masalah atau musibah yang terjadi dalam masyarakat,
putus asa, kadang-kadang di sertai halusinasi.

3.1.3.     Stupor depresi atau Multisme
yakni keadaan diam mematung dengan ciri-ciri lain: sama sekali tidak responsive
dan tidak aktif, tidak bisa turun dari tempat tidur dan sama sekali acuh tak
acuh terhadap sesuatu yang berlangsung di sekitarnya, harus di tolong jika ingin
buang besar, mengalami halusinasi dan delusi.
 

3.2.        Gangguan Aktif Bipolar
Ada yang menyebutnya (kraepelin 1899) psikologis depresif-manik. Gejalanya berupa rangkaian sekarang rasa gembira dan sedih yang ekstrem, diselingi jeda keadaan normal. Corak gangguannya ditentukan oleh perasaan apa
yang mendominasi: depresif manic atau campuran.
Ada beberapa subjenisnya.

3.2.1.     Mania subakut
dengan ciri-ciri: diliputi perasaan gembira bertaraf sedang dan sifat overaktif,
sangat percaya pada kemampuan dan pengetahuannya, serta senang
menyampaikan pendapat apa saja kepada siapa saja, proses berpikirnya cepat
dan selalu menyibukkan dengan berbagai kegiatan.

3.2.2.    Mania akut
dengan ciri-ciri: omongan besar, bersikap diktator, dan senang memerintah siapa
saja. Mudah marah prilakunya menjadi serba kasar-keras dan bengis, senang
berjalan mondar mandir, bernyanyi keras-keras, membentur-benturkan kepalanya
ke tembok, kendali moralnya sama sekali hilang, sehingga bicaranya sangat jorok,
senang memamerkan aurat dan berbuat tidak senonoh.

3.2.3.    Mania disertai delirium atau kekacauan mental
dengan ciri-ciri: Prilakunya kacau, liar, dan bengis, pikirannya kacau dan
mengalami delusi, berjalan mondar mandir, bernyanyi-nyanyi, berteriak-teriak,
mengacung-acungkan tangan selama berhari-hari. Kadang tidak mau makan
dan lain waktu dapat menghabiskan semua makanan, prilakunya kotor dan tidak
memiliki rasa malu, kehilangan berat badan serta rentan terhadap serangan jantung,
stroke dan aneka penyakit lain.
 

 

Penyebab dari semua gangguan di atas dapat berasal dari kondisi bawaan, terpicu oleh stress, ciri kepribadian terhenti, kecenderungan untuk memandang segala sesuatu serba negative, perasaan bersalah, sebagai kiat mempertahankan ego dari stress.

 

 

 

Sumber: http://hackz-zone.blogspot.com/2010/03/gangguan-afektif.html