Anita's Personal Blog

Kegiatan Arsiparis | Komputer | Fotografi

Month: November 2012 (page 1 of 2)

Rektor IPB 2012-2017

Selamat dan Sukses

atas terpilihnya

 Prof.Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc.

sebagai Rektor IPB
periode 2012-2017.

Semoga dapat
menjalankan amanah.

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto terpilih lagi sebagai Rektor IPB baru hasil Sidang Paripurna Majelis Wali Amanah (MWA) IPB, pada Kamis (29 November 2012) malam di Jakarta.

Prof. Herry terpilih setelah meraih suara  75.4  % dari suara anggota MWA. Urutan kedua ditempati Dr. Asep Saefudin dengan 17.4 % dan Prof. Zairin Junior memperoleh 3.6 % suara.

Herry lahir di Banjarnegara    tanggal 10 September 1959, menamatkan pendidikan sarjana teknologi pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), pendidikan Master di Kochi University, Jepang, dan Doktor di Ehime University of, Jepang tahun 1994.

Dengan terpilihnya Herry, dia melanjutkan tugasnya sebagai Rektor periode 2012-2017, setelah sebelumnya menjabat Rektor tahun 2007-2012. Di bawah kepemimpinan Herry, dalam empat tahun terakhir jumlah karya inovatif  IPB diakui tertinggi dibandingkan perguruan tinggi lain di Indonesia, versi Kemenristek RI, sehingga IPB dinobatkan sebagai kampus paling inovatif di Indonesia.

Sidang Paripurna MWA IPB dihadiri oleh seluruh anggota MWA IPB yang dipimpin oleh Prof. M. Chozin sebagai Ketua, Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, Wakil Ketua, dan Prof. Rizal Syarief, Sekretaris.

Mendikbud, RI Prof. Muhammad Nuh yang memiliki suara pemerintah sebesar 35% suara MWA hadir dalam Sidang Paripurna tersebut. Hadir anggota MWA lain, diantaranya Dr. Suswono, Dr. Sugiharto, Prof. Didik J. Rachbini, Ahmad Heryawan, Zaim Ukhrawi, dan sejumlah Guru Besar IPB.

Pada hari Selasa (27/11), ketiga calon Rektor telah menyatakan komitmen untuk saling bersinergi pada sebuah forum silaturahmi dengan pimpinan MWA.

Pada pertemuan tersebut, Prof. Herry menyatakan:  “Lahan pengabdian akademik begitu luas, sebab ilmu-ilmu pertanian yang ditekuni para dosen dan mahasiswa IPB sangat strategis. IPB adalah kumpulan insan akademis yang ingin melakukan ikhtiar terbaik bagi almamater dan bangsanya. Jabatan Rektor adalah amanah dan kepercayaan yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya”.

Herry menyatakan komitmennya untuk bersinergi dengan semua calon Rektor:
“Kami bertiga siap bersinergi agenda memajukan IPB, sebab berbagai persoalan pangan, energi, lingkungan, pembangunan ekonomi, dan pengentasan kemiskinan yang jadi tantangan bangsa ini relevan dengan kompetensi utama IPB sebagai tempat bersemainya sains, teknologi, dan inovasi serta lulusan yang berkarakter kewirausahaan untuk menjawab tantangan bangsa tersebut” ujar Herry menambahkan.

Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto,M.Sc adalah putera Banjarnegara – Jawa Tengah yang menjabat sebagai rektor ke-13 dan 14 IPB periode 2007-2012 dan 2012-2017.

Copyright © Pemilihan Rektor IPB Masa Bakti 2012-2017

Memilih Format RAW atau JPG/JPEG?

Perhatikan ilustrasi gambar diatas, jika kita memilih format RAW atau JPG, perhatikan perbedaan kwalitas hasilnya.

Bagi fotografer pemula, saat menggunakan kamera digital SLR atau kamera saku tingkat lanjut kerap dihantui pertanyaan mendasar sebelum memulai memotret “format file apakah yang akan saya pilih, RAW atau JPG/JPEG?“.

Pada dasarnya cara kerja kamera digital adalah saat kita menekan tombol shutter, kamera akan merekam data mentah yang diterima sensor (RAW). Kemudian data RAW di dalam kamera akan memutuskan beberapa parameter, misalnya seberapa jauh foto perlu dipertajam, setting white balance mana yang sesuai, berapa level eksposur yang dipakai, seberapa besar saturasi warna, seberapa besar kontrasnya, dan lainnya. Hasil pengolahan data oleh software di dalam kamera ini selanjutnya dikirim ke memory card dalam bentuk file JPEG/JPG.

Perbedaan RAW dan JPEG:

RAW adalah data mentah yang langsung ditangkap sensor sedangkan JPEG/JPG adalah data matang yang sudah diolah oleh software kamera.

Jika kita memutuskan untuk memilih format RAW, berarti kita memerintahkan kamera untuk langsung mengirim data mentah dari sensor ke memory card. Dan kalau kita memilih format JPEG/JPG, berarti kita memerintahkan kamera untuk memproses data dari sensor terlebih dahulu sebelum mengirim ke memory card.

Kenapa format RAW harus ada?

Bagi fotografer pemula, gambar hasil olahan kamera digital dengan format JPEG/JPG sudah cukup bagus. Namun bagi fotografer profesional Format RAW membuat mereka bisa mengubah-ubah parameter pemotretan sesuka hati. Dengan bantuan software pengolah RAW (photoshop, lightroom, GIMP, ACDSee dll), kita bisa mengubah nilai eksposur, white balance, saturasi sampai kontras untuk kemudian menyimpannya dalam format yang lain: JPG atau TIFF.

Keuntungan menggunakan RAW?

Kita bisa mengotak-atik file mentah menjadi foto matang sesuai dengan keinginan kita. Opsi pengolahan foto menjadi jauh lebih banyak sehingga mereka yang berjiwa super kreatif akan lebih terpuaskan.

Informasi yang tersimpan lebih banyak (jika Anda memilih JPEG/JPG, kamera akan menghilangkan sebagian kecil data untuk memperkecil ukuran file dan mempercepat proses pengolahan). Kualitas foto secara keseluruhan lebih baik, ini berkaitan dengan adanya kompresi jika memakai JPEG.

Kerugian memakai RAW?

Memakan kapasitas memori lebih besar. Karena tidak ada proses kompresi, maka ukuran file RAW jauh lebih besar dibanding JPEG (sekitar 3 sampai 4 kali lebih besar). Memakan waktu lebih banyak. Baik selama pemotretan (mengurangi kecepatan kamera terutama dalam mode burst) maupun selama pengolahan di komputer (karena ukuran file terlalu besar).

Jadi Format Apa yang Sebaiknya Dipilih?

Jika Anda memiliki hardisk di atas 500GB, memory card minimal 4GB dan sedang memotret momen (atau orang atau tempat) yang istimewa, pilihlah mode RAW.

Jika Anda sedang memotret hal ‘biasa’ atau memotret dengan continous shutter, dan Anda hanya memiliki kapasitas hardisk dan memory card tidak terlalu besar, pilihlah mode JPEG/JPG.

Atau gunakan kedua format, jika Anda memiliki kapasitas hardisk dan memory card yang berlebih: pilihlah mode RAW + JPEG/JPG (jangan khawatir, karena kamera akan menyimpan 2 format sekaligus).

 

Sumber:  Ghiboo.com

Pengetahuan Dasar Fotografi

Beberapa hal yang harus diketahuai oleh fotografer pemula:

  1. LENSA 

    Semakin besar angka mm nya dari sebuah lensa, maka semakin sempit sudut pandangnya (=picture coverage).  Semakin kecil angka mm nya, maka semakin luas/lebar sudut pandangnya.

  2. DIAFRAGMA 

    Diafragma menentukan banyak sedikitnya sinar yang masuk melalui lensa.  Semakin kecil angka diafragmanya, maka semakin banyak sinar yang masuk.

    Diafragma menentukan kualitas lensa.

    Makin kecil angka diafragmanya berarti makin tinggi kualitas lensa nya.

    Diafragma biasa disingkat f, biasa juga disebut Aperture atau Bukaan.

  3. PANJANG LENSA

    Panjang lensa  biasa disebut Focal Length (biasa mempunyai satuan mm).

    Panjang lensa mempengaruhi:

    a. JARAK pemotretan

    b. SUDUT pandang

    c. PEMBESARAN

    d. FASILITAS BUKAAN DIAFRAGMA

    Lensa Khusus:

    a. Lensa Makro (biasa disebut Macro Lens)

    b. Penambahan panjang lensa (biasa disebut Tele Converter atau Extender)

    c. Lensa pengoreksian perspektif pada subjek

    d. Lensa Lunak (biasa disebut Soft Focus Lens)

  4. SIFAT FILM 

    Kualitas sebuah gambar sangat ditentukan oleh kepekaan film tersebut terhadap sinar (biasa disbet ISO/ASA/DIN).  ISO/ASA RENDAH:  Menghasilkan detail gambar yang lebih tajam (butir halida perak lebih halus).

 

 

Sumber: Hasil Kursus Fotografi di Canon School Jakarta

Tip’s Supaya Foto Tidak Blur

Supaya Foto Tidak Blur


Perhatikan gambar diatas, bagian sisi kanan subjek sangat blur.


Biasanya, kesalahan fotografer pemula adalah salah memperhitungkan shutter speed (kecepatan rana) sehingga foto menjadi blur.

Tip’s supaya Foto tidak Blur:

  1. Setting kecepatan rana Anda terlalu lambat dibandingkan dengan rentang lensa (focal length) lensa Anda. Pada umumnya, supaya foto Anda tidak blur akibat getaran tangan kita, rumusnya adalah Speed (kecepatan rana) haruslah sama dengan 1/rentang fokal lensa. Rumus ini berlaku hanya buat Kamera Full Frame yang tidak memakai lensa berkode IS.

    Contoh, bila Anda mengambil foto dalam rentang fokal 100mm, maka Anda memerlukan kecepatan rana 1/100) untuk Kamera Full Frame. Contoh Kamera Full Frame yaitu Canon 5D Mark II, Canon 6D.

    Bila Anda mengambil foto dengan lensa 100mm, maka Anda memerlukan kecepatan rana 1/160 untuk Kamera TIDAK Full Frame yang tidak memakai lensa berkode IS (didapat dari 100mm X 1,6) untuk mencegah blur. Konversi sebesar 1,6 ini hanya berlaku buat Kamera merk Canon. Untuk Kamera merk Nikon, Pentax dan Sony nilai konversinya sebasar 1,5 sedangkan Kamera merk Olympus nilai konversinya adalah 2. Contoh Kamera Canon yang Tidak Full Frame adalah Canon 40 D, Canon 7D. Mengapa harus dikonversi sebab kamera tidak full frame sebagian besar menggunakan sensor yang lebih kecil. Sensor ini bervariasi antara kamera yang satu dengan yang lainnya.

    Mengapa semakin besar rentang fokalnya, Anda harus mengunakan kecepatan rana yang lebih cepat? hal ini dikarenakan semakin besar rentang fokal, maka semakin sensitif sensor dalam menangkap getaran.

  2. Gunakan Teknik Panning.
    Benda yang Anda foto bergerak cepat, sehingga kecepatan rana (speed) pun harus mengikuti cepatnya gerak subjek foto tersebut. Gunakan teknik panning, sambil menekan shuter ikuti obyek yang bergerak. Contohnya, untuk membekukan gerakan pemain basket orang orang berlari, minimal Anda memerlukan 1/500. Untuk penari dan penyanyi, biasanya shutter speed 1/200 cukup, dan untuk foto manusia yang tidak bergerak 1/60 biasanya cukup baik.

  3. Aktifkan Fitur Stabilizer
    Teknologi kamera digital pada saat ini telah mengenal fitur stabilizer yang akan membantu menstabilkan komponen kamera dari getaran atau gerakan kecil. Pada saat ini ada dua jenis teknologi stabilizer, yaitu yang ditanamkan pada lensa seperti fitur IS (Image Stabilizer) pada Canon dan VR (Vibration Reduction) pada Nikon. Dan yang ditanamkan pada body kamera seperti pada body kamera Olympus dan Sony Alpha. Periksa lensa dan kamera Anda apakah ada fitur seperti ini dan kemudian aktifkan. Namun perlu diingat fitur ini bekerja dengan efektif ketika kamera dipegang dengan tangan (handheld), apabila ditaruh di bidang solid atau menggunakan tripod fitur ini malah tidak bekerja dengan baik. Sekali lagi cek manual lensa dan body kamera untuk lebih memahami fitur ini pada peralatan fotografi milik Anda. IS -> kependekan dari “Image Stabilizer”. Teknologi peredam getar pada lensa yang memungkinkan lensa menstabilkan getaran tangan yang bisa menyebabkan foto shaking. Kemampuan IS biasanya diukur dengan stop rating, di mana semakin tinggi angka ratingnya, semakin baik kemampuan IS lensa tersebut dalam menstabilkan getaran. Misalnya yang tadinya Anda harus mengunakan speed (kecepatan rana) 1/200, tapi dengan bantuan teknologi ini (Teknologi IS = Image Stabilization), Anda bisa mengunakan speed (kecepatan rana) 1/100 atau 1/60.

  4. Posisi Tangan atau tubuh. Percaya atau tidak, cara termudah dan termurah untuk menghindari foto menjadi blur atau goyang adalah dengan memperbaiki posisi tangan dan tubuh kita pada saat memotret apabila tidak menggunakan alat bantu seperti tripod. Genggam kamera dengan mantap tapi tetap nyaman di jari dan telapak tangan serta pergelangan tangan. Kemudian biasakan tempel siku ke badan. Hal ini akan membuat posisi lengan seolah-olah menjadi tripod dengan bertumpu pada badan kita. Dengan cara seperti ini maka kamera “tidak akan menggantung”. Last but not least, posisi badan jangan terlalu membungkuk ke depan, malah ada beberapa fotografer yang cenderung menarik torso (pinggang ke atas) agak ke belakang sehingga titik pusat gravitasi tubuh lebih terjaga dan stabil. Beberapa fotografer memiliki cara dan gaya sendiri dalam menghandle kamera, temukan gaya dan cara Anda sendiri namun pastikan kamera dalam posisi stabil dan nyaman. Teknik memegang kamera adalah seperti gambar dibawah ini:

  5. Teknik pernafasan. Dengan menahan nafas saat mengambil gambar, dan memposisikan tubuh dengan rapat atau menyender di dinding, bisa membantu mengurangi getaran yang menghasilkan blur.

  6. Tekan setengah shutter sebelum tekan penuh karena umumnya lensa akan memfokus pada jarak terjauhnya. Tekan tombol dengan halus dan perlahan-lahan, jangan kasar. Tempatkan siku kanan pada dada agar mendapatkan topangan yang lebih kokoh. Sedikit tekankan kamera pada muka kalau Anda membidik lewat viewfinder.

  7. Gunakan tripod, monopod, remote shutter release atau fitur Timer, bila memaksa tidak adanya alat tambahan sandarkan body kamera pada bidang yang rata, tekan tombol sambil tahan napas :)

    Alat fotografi yang sudah sangat dikenal ini membantu kamera berada dalam posisi stabil selama proses pengambilan gambar. Apabila Anda menggunakan pilihan shutter speed yang lambat maka tripod cukup membantu agar kamera tidak shake selama shutter terbuka. Pada contoh ekstrem ketika menggunakan pilihan shutter speed yang sangat lambat, maka sudah semestinya ketika menggunakan Tripod maka seharusnya Anda menggunakan remote shutter release atau paling tidak dengan menggunakan fitur Timer di kamera Anda. Kenapa? Mari kita asumsikan Anda menggunakan shutter speed 30 detik, maka Anda tentu perlu menggunakan tripod agar selama 30 detik tersebut kamera berada dalam keadaaan statis. Namun yang Anda lakukan setelah memilih shutter speed Anda menekan tombol shutter dengan menggunakan jari, hal ini akan berakibat terjadi vibrasi pada kamera karena terjadi kontak fisik dengan jari yang menekan shutter. Karena itu disarankan Anda menggunakan remote shutter release (alat untuk menekan tombol shutter tanpa menyentuh kamera) baik yang wireless atau wired. Apabila Anda tidak memiliki alat ini, cara termudah adalah dengan menggunakan fitur Timer di kamera sehingga Anda tidak perlu menekan tombol shutter. Dengan demikian tidak terjadi vibrasi yang diakibatkan jari Anda menekan tombol di kamera.

  8. Pilih bukaan diafragma kecil (angka besar, mis f/5.6 keatas) akan membuat Foreground bahkan Background tetap tajam sama dgn objek yg difokuskan. Kalau utk foto landscape, umumnya keseluruhan gambar harus tajam, jadi harus pakai bukaan diafragma kecil (angka besar) karena untuk foto landscape Depth of Fieldnya (DOF) harus lebar, semakin kecil diafragma, DOF semakin lebar.

  9. Untuk mendapatkan gambar sunset terekspos, ukurlah (metering) langsung keatas matahari (jangan langsung ke matahari). Jika anda ingin gambar pemandangan ini tampak diambil setengah jam kemudian, tinggal kurangi satu exposure compensation-nya.

 

Sumber: Hasil Kursus Fotografi di Canon School Jakarta dan berbagai sumber.

Kamera Full Frame vs Tidak Full Frame

Kamera Full Frame 1 : 1
Kamera Canon TIDAK full frame dikonversi 1,6
Kamera Nikon TIDAK full frame dikonfersi 1,5
Artinya:
Kamera Canon full frame lensa 70mm = Kamera Canon TIDAK full frame lensa 44mm (yaitu 70/1,6)
Kamera Nikon full frame lensa 70mm = Kamera Nikon TIDAK full frame lensa 46mm (yaitu 70,1,5)

Jadi boleh dikatakan Kamera full frame akan menangkap gambar sama seperti apa yang kita lihat di jendela bidik. Disebut juga Kamera Normal.
Sedangkan Kamera TIDAK full frame menangkap gambar tidak sama seperti apa yang kita lihat di jendela bidik, karena akan terpotong (crop), jadi akan menghasilkan area gambar lebih kecil.

Contoh kamera full frame: Canon 5D mark II, Nikon D700, Nikon D3, Sony A900.

Contoh kamera TIDAK full frame (crop sensor): Canon 350D – 550D, Canon 40D, 50D, 7D, Nikon D3000, D5000, D90, Pentax kx, k20d, Olympus E-3, E-620, Sony A200 – A700 dan lain lain.

Kamera yang ukuran sensor dibuat menyamai ukuran film analog 35mm disebut kamera full frame (36 x 24mm).

Selain memakai sensor berukuran 35mm, kamera DSLR juga tersedia dengan sensor yang berukuran lebih kecil. Tujuannya adalah untuk menekan biaya produksi dan membuka kesempatan memproduksi lensa khusus yang bisa dibuat lebih kecil dan dengan biaya yang lebih murah.

Sensor yang lebih kecil dari sensor full frame biasa disebut dengan crop-sensor, karena gambar yang dihasilkan tidak lagi memiliki bidang gambar yang sama dengan fokal lensa yang digunakan. Hal ini biasa disebut dengan crop factor, dinyatakan dengan focal length multiplier, suatu faktor pengali yang akan membuat fokal lensa yang digunakan akan terkoreksi sesuai ukuran sensor. Perkalian ini akan menaikkan fokal efektif dari fokal lensa yang dipakai sehingga hasil foto yang diambil dengan sensor crop ini akan mengalami perbesaran (magnification). Semakin kecil sensornya maka semakin tinggi crop factornya dan semakin besar perbesaran gambarnya.

Kamera SLR full frame berukuran sensor lebih besar dari kamera SLR crop, berapa bedanya? Luas penampang kamera full frame adalah 864 mm2 dibandingkan dengan kamera crop sensor Canon: 329 mm2, Nikon, Sony, Pentax : 370 mm2 dan Olympus: 225 mm2

Dampak perbedaan ukuran inilah yang menjadi sumber perbedaan-perbedaan dibawah ini:

  1. Kualitas foto. Kamera bersensor berukuran besar lebih baik terutama di ISO tinggi (foto di tempat yang gelap). Untuk ketajaman foto, ini tergantung juga dengan lensa yang dipakai. Kalau lensa yang dipakai jelek, maka kualitas foto di kamera bersensor besar malah bisa lebih buruk.
  2. Jangkauan fokal lensa. Bila kita mengunakan lensa yang sama dan kita pasang di kamera full frame dan satunya lagi kamera crop frame, maka ada perbedaan jangkauan fokal lensa. Di kamera full frame, foto akan terlihat lebih lebar, sedangkan di kamera crop frame, foto terlihat lebih sempit. Hal ini dikarenakan kamera crop frame otomatis mengkrop foto yang diambil.
    Tiap merek kamera memiliki rasio yang agak berbeda dengan yang lain. Contoh Canon 1.6, Nikon, Pentax dan Sony 1.5, Olympus 2.
    Artinya bila lensa 100mm di pasang di kamera crop Canon, maka akan keliatan seperti 160mm di kamera full frame.
    Jika lensa 160 mm di pasang di kamera full frame Canon, maka akan kelihatan seperti 100mm di kamera crop Canon.
    Jika lensa 70 mm dipasang di kamera full frame Canon, maka akan kelihatan seperti 44mm di kamera crop Canon.
    Efek ini tentunya disukai oleh fotografer olahraga atau satwa liar, karena dengan lensa 300mm misalnya, dengan mengunakan kamera crop, jangkauannya seperti 480mm.
    Lensa 55mm, dengan menggunakan kamera crop, jangkauannya seperti 88mm.
    Lensa 55mm, dengan menggunakan kamera full frame, jangkaunnya tampak tetap seperti 55mm.
  3. Tidak semua lensa cocok dipasang buat kamera full frame. Ini yang penting bagi yang mempertimbangkan untuk membeli kamera full frame. Gak semua lensa kompatibel, ini dikarenakan banyak produsen lensa membuat lensa yang berukuran lebih kecil dan di optimalkan untuk kamera crop. Sebaliknya, semua lensa yang bisa dipakai di kamera full frame, bisa dipakai di kamera crop frame.
    Contoh lensa yang tidak kompatibel antara lain Canon EF-S, Nikon DX, Tamron Dii, Sigma DC.
    Lensa non full frame di desain memang untuk body non full frame (ada crop factor). Karena sensor dengan crop factor lebih kecil ukurannya maka “pantat” lensa non full frame bisa menjorok lebih dalam, lebih dekat ke si sensor. Lihat pada foto di bawah ini lensa non full frame (type EF-S kalau di canon – sebelah kiri) memiliki ujung yang lebih menonjol dibandingkan lensa full frame (EF kalau canon – sebelah kanan).

    Hal ini membuat lingkaran gambar yang dihasilkan lensa juga lebih kecil dibandingkan lensa full frame. Lihat ilustrasi di bawah ini – pada ilustrasi ini terlihat mengapa lensa EF-S tidak bisa digunakan di kamera full frame. Simply karena image circle EF-S lebih kecil dibandingkan sensor full frame. Akibatnya adalah munculnya vignette (lebih tepat disebut blockage karena hitam total) pada foto yang dihasilkan.
    Belum lagi ada resiko tersangkutnya mirror dari kamera full frame (ingat lensa EF-S memiliki pantat yang lebih menjorok dibandingkan lensa EF). Resiko terburuk? Mirrornya retak / pecah saat menghantam pantat lensa tersebut.
    Hal ini yang juga menyebabkan walaupun lensa Nikon seri DX (non full frame) bisa digunakan di kamera full frame Nikon tetapi ada crop factor. Misalnya D700 yang memiliki total 12 MPixel apabila digunakan lensa DX hanya akan menghasilkan foto dengan kualitas 5 MPixel. Pemotongan ini tentunya merupakan kerugian yang paling besar. Kita menggunakan kamera full frame yang mahal justru dikarenakan ukuran sensor yang besar (dengan segala kelebihannya). Masak kita mau memotongnya hanya demi menggunakan lensa non full frame?
    Kerugian lain adalah simply lensa non full frame tidak di desain untuk sepadan dengan detil yang mampu ditangkap oleh sensor full frame. Ibaratnya si sensor mampu menangkap resolusi sampai dengan 1000 maka lensa nya hanya mampu menghantarkan resolusi gambar 500. Maka hasil foto juga tidak akan optimal. Canon bahkan sampai meluncurkan lensa Canon EF 16-35 f2.8 L Mark II dan 70-200 f2.8 L IS Mark II demi mampu menandingi kemampuan sensor Canon 5d Mark II nya. Lensa yang sebelumnya (Mark I) bukannya jelek, hanya saja menggunakan Mark I tidak akan memaksimalkan kekuatan sensor baru Canon ini.
    Jadi, apabila sudah pakai full frame tapi masih mikir menggunakan lensa non full frame, mungkin memang kemampuan ekonomi kita belum sanggup – after all perbedaan image quality sensor full frame dan non full frame itu hanya untuk konsumsi mata fotografer. Buat awam … keduanya sama saja. :)
  4. Depth of field atau kedalaman fokus. Karena ukuran sensor lebih besar, makin tipis kedalaman fokus dibandingkan dengan kamera crop. Contoh, lensa dengan bukaan f/1.4 bila digunakan di full frame seperti lensa f/1 (Di dapat dari 1.4 dibagi crop faktor kamera misalnya 1.5 untuk kamera Nikon) bila dipakai di kamera crop sensor.
    Memahami bukaan lensa sangat penting bagi pelajar fotografi karena bukaan menentukan dua hal penting. Dan sebenarnya tidak sukar memahami bukaan.

    Memahami Aperture / Bukaan:
    Memahami bukaan lensa sangat penting bagi pelajar fotografi karena bukaan menentukan dua hal penting. Dan sebenarnya tidak sukar memahami bukaan.Bukaan menentukan banyaknya cahaya yang masukSemakin besar bukaan, semakin besar cahaya yang masuk.Bukaan menentukan kedalaman fokusSemakin besar bukaan, kedalaman fokus menjadi tipis, sehingga latar belakang lebih kabur / blur daripada bukaan yang kecil.Itu saja, sederhana bukan? Memang sederhana kok hehe..Contoh berbagai ukuran bukaan di lensa. Kamera digital SLR sekarang telah mengunakan kamera untuk mengganti besarnya bukaan
    Ukuran BukaanUkuran bukaan agak unik karena semakin kecil angkanya, maka semakin besar bukaannya.  Contoh: f/1.4, f/2, f/4. f/5.6, f/8, f/16, dst.Dari f/1.4 ke f/2 itu besarnya cahaya yang masuk berkurang dua kali lipat.Kisaran bukaan tergantung lensa yang dipakai, ada lensa yang punya bukaan f/1.4, ada juga yang f/3.5 atau f/4.
    Contoh berbagai ukuran bukaan di lensa (lihat tulisan yang dilingkari merah).
  5. Lebih rentan blur (belum ada riset yang pasti). Saya pernah baca artikel yang mengatakan bahwa kamera bersensor besar sedikit lebih rentan blur bila kamera goyang. Ini mungkin ada benarnya. Akibatnya, kita perlu menaikkan shutter speed lebih tinggi untuk mengkompensasikannya agar hasil tidak blur.Supaya foto tidak blur
    Biasanya, kesalahan fotografer pemula adalah salah memperhitungkan shutter speed (kecepatan rana) sehingga foto menjadi blur terutama ketika handhandle (motret langsung pakai tangan tanpa menggunakan tripod dan cable release).

    Ada dua faktor utama yang membuat foto menjadi blur:

    1. Faktor Pertama adalah setting kecepatan rana Anda terlalu lambat dibandingkan dengan rentang lensa (focal length) lensa Anda. Pada umumnya, supaya foto Anda tidak blur akibat getaran tangan kita, rumusnya adalah Speed (kecepatan rana) haruslah sama dengan 1/rentang fokal lensa.

      Contoh, bila Anda mengambil foto dalam rentang fokal 200mm, maka Anda memerlukan kecepatan rana 1/200.

      Rumus ini berlaku bila Anda mengunakan kamera full frame sensor.Bila Anda mengambil foto dengan lensa 55mm, maka Anda memerlukan kecepatan rana 1/55 (pakai shutter speed 1/55) untuk Kamera Full Frame.

      Bila Anda mengambil foto dengan lensa 55mm, maka Anda memerlukan kecepatan rana 1/88 (pakai shutter speed 1/88) untuk Kamera TIDAK Full Frame (didapat dari 55mm X 1,6) untuk mencegah blur.

      Untuk kamera Digital SLR yang ada dipasar, sebagian besar mengunakan sensor yang lebih kecil. Sensor ini bervariasi antara kamera yang satu dengan yang lain. Tetapi pada umumnya Canon mengunakan 1.6X, Nikon, Sony, Pentax mengunakan 1.5X dan Olympus mengunakan 2X. Dengan adanya variasi tersebut, maka perhitungannya menjadi sedikit lebih rumit.

      Kembali ke contoh awal dimana jika Anda memutuskan mengunakan rentang fokal 100mm di kamera Canon Rebel yang mengunakan 1.6X (yaitu Kamera TIDAK full frame) jadinya minimal Anda harus mengunakan speed (kecepatan rana) 1/160 untuk mencegah blur. (Didapatkan dari 1 per 100mm X 1.6).

      Mengapa semakin besar rentang fokalnya, Anda harus mengunakan kecepatan rana yang lebih cepat? hal ini dikarenakan semakin besar rentang fokal, maka semakin sensitif sensor dalam menangkap getaran.

    2. Faktor kedua adalah benda yang Anda foto bergerak cepat, sehingga kecepatan rana (speed) pun harus mengikuti cepatnya gerak subjek foto tersebut.Contohnya, untuk membekukan gerakan pemain basket orang orang berlari, minimal Anda memerlukan 1/500.

      Untuk penari dan penyanyi, biasanya shutter speed 1/200 cukup,

      dan untuk foto manusia yang tidak bergerak 1/60 biasanya cukup baik.

      Rumus ini berguna sekali jika anda motret tanpa bantuan tripod.

      Joe Decker dari blog foto Photocrati mengenalkan faktor baru yaitu ukuran piksel sensor mempengaruhi blur. Katanya, kamera yang berukuran sensor sama, tapi resolusi gambar tinggi, memerlukan kecepatan rana yang lebih cepat karena ukuran piksel yang kecil lebih sensitif dalam mendeteksi getaran.

      Kalau teori ini benar, maka kamera yang berukuran 15 megapiksel akan lebih rawan blur daripada kamera yang berukuran 6 megapiksel.Cara mencegah supaya foto tidak blur:

      Ada juga teknologi dalam kamera maupun lensa yang ditujukan untuk mencegah blur. Jenis teknologi ini terbagi atas dua kategori. Yang pertama dibuat dalam kamera, satunya lagi didalam lensa.

      Namanya pun bervariasi. Antara lain yaitu Image Stabilization (IS) atau Vibration Reduction (VR), Steady Shot (SS), Shake Reduction (SR) Mega OIS, Optical Stabilization (OS) and Vibration Compensation (VC). Semuanya berfungsi sama hanya istilahnya berbeda. Teknologi ini bisa membantu Anda tapi tidak bisa membantu secara total.

      IS -> kependekan dari “Image Stabilizer”. Teknologi peredam getar pada lensa yang memungkinkan lensa menstabilkan getaran tangan yang bisa menyebabkan foto shaking. Kemampuan IS biasanya diukur dengan stop rating, di mana semakin tinggi angka ratingnya, semakin baik kemampuan IS lensa tersebut dalam menstabilkan getaran.

      Misalnya yang tadinya Anda harus mengunakan speed (kecepatan rana) 1/200, tapi dengan bantuan teknologi ini (Teknologi IS = Image Stabilization), Anda bisa mengunakan speed (kecepatan rana) 1/100 atau 1/60.

      Teknologi ini juga tidak bisa mencegah blur saat Anda mengambil foto orang atau benda yang bergerak cepat.

      Hal lain yang bisa digunakan untuk mencegah blur antara lain yaitu teknik memegang kamera dan teknik pernafasan. Dengan menahan nafas saat mengambil gambar, dan memposisikan tubuh dengan rapat atau menyender di dinding, bisa membantu mengurangi getaran yang menghasilkan blur.

      Teknik memegang kamera adalah seperti gambar dibawah ini:

     

  6. Harga. Karena untuk membuat sensor berukuran besar mahal, dan tidak diproduksi se-massal sensor crop, maka kamera full frame juga lebih mahal banyak daripada kamera crop. Kamera baru setidaknya berharga 20-30 juta. Ada juga yang mencapai 70 juta, sedangkan kamera crop baru bisa dibeli dengan harga mulai dari sekitar 4 – 5 jutaan.
    Demikian perbedaan-perbedaan utama kamera full frame dan non-full frame. Tentunya kita bisa menemukan perbedaan-perbedaan lain seperti perbedaan fitur dan teknologi yang dipakai. Kadang teknologi yang dipakai di kamera crop frame lebih canggih daripada kamera full frame, contohnya Canon 7D dan Canon 5D mark II. Untuk menentukan kamera yang paling cocok untuk Anda, tentunya harus memahami perbedaan tersebut sehingga tidak membuang duit sia-sia.

Sumber: Hasil Kursus Fotografi di Canon School Jakarta dan http://www.infofotografi.com

Print Merge to Printer

Cara Cetak Otomatis dengan Merge to Printer:

  1. Jalankan Program MS Word 2007
  2. Pilih menu Mailings/Finish & Merge/Print Document
    Maka akan muncul gambar seperti dibawah ini
    Pada kotak dialog Merge to Printer isi kotak From: dan To: dengan angka data record yang akan dicetak misalkan From: 1 To: 6 maka data yang dicetak adalah data 1 sampai dengan 6.  Jika pilih All maka semua data akan dicetak.
  3. Klik OK, lanjutkan pencetakan dengan klik OK setelah memilih jenis printer yang digunakan.

 

Mail Merge Sertifikat

Gunakan Mail Merge untuk pengisian nama2 penerima sertifikat

MENGGUNAKAN MAIL MERGE UNTUK MEMPERCEPAT PENGISIAN SERTIFIKAT ATAU PIAGAM

  1. Jalankan Program MS Word 2007
  2. Buat file data, buat dalam bentuk tabel, simpan dengan nama “data_nama_peserta”. Buat seperti gambar dibawah ini:

    Data telah selesai dibuat. Selanjutnya adalah menggabungkan data dengan document, dalam hal ini adalah format sertifikat atau piaga penghargaan.
  3. Lalu kita kembali ke file sertifikat
  4. Tandai tulisan “Ir Anita Handayani”
  5. Lalu pilih menu Mailings/Select Recipients/Use Existing List/Cari nama file “data_nama_peserta” yang kita buat tadi, lalu tandai/Klik Open
  6. Sekarang klik lagi menu Insert Merge Field/Pilih tulisan Nama_Peserta maka akan muncul gambar seperti dibawah ini
  7. Untuk membuka nama nya, klik menu Preview ResultMaka akan muncul nama record pertama
  8. Untuk memunculkan nama berikutnya tinggal menekan tanda panah ke kanan (disamping tulisan yang dilingkari merah)
  9. Nama Ir Anita Handayani ada di record 11

 

Pemenang Lomba Menggambar dan Mewarnai

Data Pemenang Art Competition 2012

Tingkat Nasional dan Sejadebotabek

Tempat Lomba : The Palm Grand Ballroom – Jakarta Barat
Tanggal : 21 Oktober 2012
Jam : 13.00-18.00
Peserta : Siswa-siswi Global Art seluruh Indonesia

Total hadiah senilai 120 juta Rupiah dan 4 ticket tour untuk Champion
mewakili Indonesia pada lomba International di Thailand 24 November 2012 yang akan datang

Grup A
Champion Nama Center
1 102-02 FAEYZA ZAHRA ANINDITA A Barcelona
1st Runner Up
1 118-05 SHERLY VERMONT KWERNI A Kemang Pratama
2 125-18 MAYLA YAFFA LUDMILLA A Bandung
2nd Runner Up
1 101-21 ESMERALDA SHELOMITA PRASETYO A Pamulang
2 101-22 RANIA KAMILA A Pamulang
3 105-07 CARINE SYDNEY A Taman Ratu
4 112-05 WILLIAM HIMAWAN A PIK
5 105-18 ANDREW CHRISTOPHER A Intercon
6 121-06 KRISTIAN VALERIO A Cirebon
7 121-08 MICHELLE KOK A Cikarang
8 125-01 HILARY NEZCHA AUDY A Lampung
3rd Runner Up
1 104-10 TARISSA WYNNE TING A Permata Buana
2 104-08 ANGELYNE NATALIE KURNIA A Permata Buana
3 106-16 REGINE DARRYNE TAN A Taman Palem
4 105-06 PEARLY RICHELL A Taman Ratu
5 106-14 ALVIAN YAP A Taman Palem
6 118-03 NYOMAN WINA PANJALI PUTRI A Kemang Pratama
7 118-11 JESSICA ANABEL SUSANTO A Kemang Pratama
8 112-09 NATHAN DANIEL A PIK
9 123-06 BELVA ARDHIA NADA A Bogor
10 124-05 KANAYA AUDRINA MARSHA S. A Citra Gran
11 113-20 VERDIOLLA SUGONDO A Pluit Sakti
12 125-03 HANS EVAN LIE A Lampung
13 125-21 PHILIA CHRISTABELLA A Bandung
Grup B
Champion
1 116-19 VIDI VEBRIANI B Pondok Indah
1st Runner Up
1 125-04 SASKIA AZALIA DIVANA PUTRI B Lampung
2 112-15 AURELLIA WILHELMINA TRIANTIO B PIK
3 109-10 RUTH ARDITA DAMANIK B Depok
2nd Runner Up
1 111-06 JESSIE FARICA GUNARDI B Daan Mogot
2 111-10 ANASTASIA ADELINE ADLI B Daan Mogot
3 113-07 VICTORIA HIMAWAN B PIK
4 121-21 HASNA NAILA MARTYA PUTRI B Cikarang
5 116-16 AULIA RAHMAYATI FIADI B Pondok Indah
6 117-17 SERAPHINA TATIANA C. KOROMPIS B Tebet
7 110-24 KLARA FIDELIA ADLI B Daan Mogot
8 115-11 LAURENCIA VERINA SAAT B Bintaro Sektor 9
9 111-02 KENNY A KAMIL B Daan Mogot
10 125-09 DEEVA ANANTA VIRANTI B Lampung
11 126-06 AVRILIA MONICA WIJAYA B Bandung
3rd Runner Up
1 123-22 DHIA BATARY HARUN B Bogor
2 119-13 IGNATIA ANNA EDIPRASTIWI B Taman Galaxi
3 116-21 NAJWA AJRINA B Pondok Indah
4 121-02 SANIA INEZ TANTAMA B Cirebon
5 108-04 CECILIA NOVIN SHELLYCIA B Taman Palem
6 121-16 ANGELENA CAITLYNN W B Cikarang
7 117-18 JOANNA HANNY DARMAWAN B Tebet
8 120-23 SERVIAN HUSADA B Cirebon
9 117-15 AISA KANSHA AMANY B Tebet
10 111-09 FERN EMMANUELA B Daan Mogot
11 111-03 GILBERT A KAMIL B Daan Mogot
12 102-09 MARIA JACINTA BERNADETTE JOHAN B Barcelona
13 116-17 RAKA RIDIANTO S. B Pondok Indah
14 120-19 CELINE TENGGANU B Grand Wisata
15 110-23 KEVIN SURYAWIJAYA B Daan Mogot
16 126-03 AUDREY GRACIA DJOHARI B Bandung
17 125-05 ANTONIA NEZWHA ROSARY B Lampung
18 127-11 NEISHA SOEGIHONO B Semarang
Grup C
Champion
1 202-20 SHERILYN PAISAN C Daan Mogot
1st Runner Up
1 204-08 AMANDA RIZQI NURSIDI C Kemang Pratama
2 206-16 ANNA ELVIRA HARTOYO C Bandung
2nd Runner Up
1 205-16 Vincent Aldi Hariono C Depok
2 203-09 STEFFIE MAYRELIN C Pluit Sakti
3 205-09 ANYA ARQIA ANUGRAH C Bintaro Sektor 3
4 205-01 JANICE ALESANDRINA C Bintaro Sektor 9
5 207-04 NEYSA PURWOKO C Bandung
3rd Runner Up
1 205-08 HUSAIN RAIHAN C Bintaro Sektor 3
2 205-19 LARAS SEPTIANA DEWI C Cikarang
3 203-03 FELICIANNA C PIK
4 203-23 MATHILDA RUTH AMABELLE C Taman Galaxi
5 205-10 FLORENTINA LINTANG A C Harapan Indah
6 202-19 KWINDATU TIEN HARYANTO C Daan Mogot
7 206-19 DANIEL SEROGA BARA PRAMESTA C Bandung
8 206-26 ANDINE ROSALYA HERTANTI C Temanggung
Grup D
Champion
1 207-27 ANGELINA ANNEKE D Yogyakarta
1st Runner Up
1 205-05 NUR ALIF RAMADHAN D Bintaro Sektor 3
2nd Runner Up
1 203-24 HELEN WIDJAJA D Taman Galaxi
2 207-30 EUNIKE CERELIA RIJAYA D Semarang
3rd Runner Up
1 202-21 STANLEY PAISAN D Daan Mogot
2 207-10 ASTRID PRATIWI HARTOYO D Bandung

 

Penulis © Anita Handayani (http://anitanet.staff.ipb.ac.id)

Lensa Single Focal-Length


Single focal-length lenses

Canon offers a wide range of single focal-length L-type super-high-performance lenses (including a 800mm ultra-telephoto lens) that deliver faithful reproduction, smooth operability, and precision high-speed autofocus. These lenses are highly acclaimed by professional photographers around the world in fields as diverse as fashion, sports, and wildlife photography.

 

Lensa Single focal-length

Lensa Single focal-length Canon menawarkan berbagai Lensa Single focal-length L – yaitu jenis lensa super high performance (termasuk lensa ultra-tele 800mm) yang memberikan reproduksi yang setia, pengoperasian halus, dan presisi tinggi kecepatan autofocus. Lensa ini sangat diakui oleh fotografer profesional di seluruh dunia dalam bidang beragam seperti fashion, olahraga, dan fotografi satwa liar.

Hasil fotonya (EF100mm f/2.8L Macro IS USM • 1/320 sec. • f/2.8 ) adalah sebagai berikut:
Lensa ini adalah lensa terbaik untuk motret binatang2 kecil, serangga, kupu2, air terjun,  motret lukisan, repro foto atau lukisan, motret perangko.  Karena f nya 2,8 maka background nya bisa benar2 bokeh, dan subjek menjadi sangat menonjol. Hasil foto lukisan juga bisa benar2 simetris dan lurus (siku) tidak menggelembung.  Lensa makro bisa digunakan untuk motret barang 2 dimensi dan 3 dimensi (lensa wide dan tele hanya bisa motret 3 dimensi).  Motret 2 dimensi itu maksudnya subjek hanya punya panjang dan lebar, contoh lukisan.  Lensa Makro disebut Flat Field selama subjek plane nya paralel.   Motret pakai lensa makro adalah 1 : 1 (= ukuran hidup).  Lensa makro tidak bisa memperbesar subjek kecuali jika memakai Tele extender.  Harga lensa makro lumayan mahal yaitu Rp. 8 jt. (harga tahun 2012).

Hasil fotonya (EF24mm f/2.8 IS USM • 1/40 sec. • f/2.8) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF28mm f/2.8 IS USM • 1/50 sec. • f/3.5) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF200mm f/2L IS USM • 1/80 sec. • f/2.0) adalah sebagai berikut:


Hasil fotonya (EF300mm f/2.8L IS II USM • 1/125 sec. • f/2.8) adalah sebagai berikut:


Hasil fotonya (EF300mm f/4L IS USM • 1/320 sec. • f/5.0) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya ( EF400mm f/2.8L IS II USM • 1/2500 sec. • f/2.8 ) adalah sebagai berikut:



Hasil fotonya (EF400mm f/4 DO IS USM • 1/320 sec. • f/6.3) adalah sebagai berikut:


Hasil fotonya (EF500mm f/4L IS II USM • 1/3200 sec. • f/5) adalah sebagai berikut:

Hasil fotonya (EF600mm f/4L IS II USM • 1/500 sec. • f/4) adalah sebagai berikut:


Hasil fotonya (EF800mm f/5.6L IS USM • 1/320 sec. • f/5.6) adalah sebagai berikut:

 

Sumber : Hasil Pelatihan Fotografi di Canon School dan http://web.canon.jp/imaging/lens/technology/lineup/index4.html

 

Tip’s Berburu Foto Pemandangan

Tips Berburu Foto Pemandangan (Foto Landscape)

  1. Pakai ISO rendah (ISO 50 atau 100), maksimum ISO 200.

  2. Pilih resolusi tertinggi yang tersedia(10MP, 16 MP atau 21 MP) dan mutu pada format RAW, TIFF atau Large Fine Jpeg. Memilih resolusi ini memang menghabiskan lebih banyak ruang di memory card dan menuntut lebih banyak waktu untuk konversi dan edit, tapi hasilnya sangat memuaskan.

  3. Pelajari/analisis reaksi light meter kamera Anda terhadap kondisi pencahayaan spesifik, seperti pada pemandangan kontras tinggi, pada saat matahari terbit/terbenam dengan memasukkan matahari di bidang foto, hingga kita tahu persis kapan harus memberikan kompensasu ekposur plus atau minus.

  4. Untuk pemotratan malam hari atau motret pemandangan dengan kecepatan rana rendah (1-30 detik), aktifkan fitur NR (noise reduction) untuk mengurangi noise (bintik-bintik yang mengganggu.

  5. Untuk mendapakan warna terbaik, pilihlah WB (White Balance) yang tepat.
    WB Auto secara umum mampu memberikan rekaman warna yang cukup akurat, tapi pada kondisi-kondisi tertentu, Anda bisa pilih WB yang dirancang khusus untuk kondisi pencahayaan yang dihadapi, atau memakai custom WB.
    Motret pada cuaca mendung, WB Cloudy memberikan warna yang lebih hangat dan natural.
    Atau jika motret dibawah cahaya lampu pijar sebaiknya memilih WB Tungsteen.

  6. Untuk pemotretan pemandangan sebaiknya selalu memakai Tripod yang Stabil dan memanfaatka “cable release” atau fitur “Self Timer” untuk menghindari getaran saat menjepret rana yang dapat mengurangi ketajaman hasil foto.

  7. Bawalah memory card yang mencukupi (4 GB untuk kamera 8 MP, 6-8 GB untuk kamera 12-16 MP, 4 buah 8 GB UDMA untuk kamera 21 MP yang ada fitur HD Video 1920 x 1080 seperti Camera Digital Canon EOS 5D Mark II).
    Bil memotret jauh dari rumah bawa juga komputer laptop atau memory storage berkapasitas 80 GB.

  8. Bawa selalu Filter Polarizing dan Filter Gradasi Netral.
    Fungsi filter ini juga bisa digantikan oleh sistem pemotretan foto pemandangan dengan 2 ekposur berbeda, yaitu satu diekspos untuk langit “High Light”, dan satu lagi untuk “Foreground Shadow” area, yang kemudian disatukan di komputer melalui program edit foto Adobe Photoshop CS2.

  9. Membawa 2 lensa Zoom, yaitu Zoom Sudut Kebar (seperti: Canon EF 24-70 mm f/2,8 L dan Lensa Zoom Tele (seperti: Canon EF 70-200 mm f/2,8 L IS yang supertajam) ditambah dengan 1 Lensa Normal Berdiafragma Lebar (seperti: Canon EF 50 mm f/1,4 atau 50 mm f/1,2 L) akan memberikan keleluasaan bagi kita buat berkarya.

  10. Membawa TRipod yang cukup kokoh dan stabil serta Tas kamera yang cocok untu kerja di lapangan termasuk aksesori kecil seperti kantong plastik, lampu senter, cellotipe, jas hujan, obeng kecil, tissue pembersih lensa dll.

Older posts